Dicela Bukan Alasan Untuk BerhentiAl-Qur’an berulang kali menggambarkan bagaimana kaum terdahulu mencela para Nabi sebagai bentuk penolakan mereka terhadap kebenaran. Allah

$rows[judul] Keterangan Gambar : ketika niat tulus dituduh buruk, atau ketika langkah lurus dinilai menyimpang. Namun, agama mengajarkan bahwa tekanan semacam itu bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari jalan kebenaran yang ditempuh para Nabi dan orang-orang saleh sejak dahulu.



Perwirasatu.co.id - 17 Desember 2025.


Setiap jiwa memiliki perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. Ada saat-saat ketika kebaikan justru dibalas dengan cercaan, ketika niat tulus dituduh buruk, atau ketika langkah lurus dinilai menyimpang. Namun, agama mengajarkan bahwa tekanan semacam itu bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari jalan kebenaran yang ditempuh para Nabi dan orang-orang saleh sejak dahulu.

Setiap orang beriman pasti pernah merasakan pahitnya ucapan yang tidak adil, sindiran yang menyakitkan, atau penilaian yang jauh dari kenyataan. Syaikh Ibn ‘Utsaimin rahimahullāh mengingatkan dengan kalimat yang amat menyejukkan:

"وَأَنْتَ لَا تَسْتَغْرِبْ -يَا أَخِي- أَنْ يُلَقَّبَ أَهْلُ الْخَيْرِ بِأَلْقَابِ السُّوءِ، أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ وُصِفُوا بِأَنَّهُمْ سَحَرَةٌ وَمَجَانِين؟"

“Wahai saudaraku, janganlah engkau heran bila orang-orang baik diberi julukan-julukan buruk. Bukankah engkau mengetahui bahwa para Nabi pun dituduh sebagai penyihir dan orang-orang gila?!”

Kalimat ini membuka mata bahwa celaan bukanlah penanda rendahnya kualitas diri, melainkan cermin bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan orang-orang yang pernah dicoba oleh Allah.

Al-Qur’an berulang kali menggambarkan bagaimana kaum terdahulu mencela para Nabi sebagai bentuk penolakan mereka terhadap kebenaran. Allah Ta‘ala berfirman:

"وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ" (الزخرف: 23)

“Dan demikianlah, tidaklah Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau, melainkan orang-orang mewah di kota itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mengikuti jejak-jejak mereka.’”

Ayat ini menunjukkan bahwa penolakan, cemoohan, bahkan tuduhan buruk adalah tradisi lama dari mereka yang enggan menerima kebenaran karena terperangkap ego dan kebiasaan.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri tidak luput dari caci maki kaumnya. Allah mengabarkan tuduhan musyrikin:

"وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ" (الحجر: 6)

“Dan mereka berkata: ‘Wahai orang yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an, sesungguhnya engkau benar-benar orang gila.’”

Jika manusia termulia saja dituduh gila, bagaimana mungkin kita berharap berjalan di jalan kebenaran tanpa terkena cipratan kata-kata tidak pantas dari manusia?

Rasulullah ﷺ telah memberi solusi ketika menghadapi perlakuan buruk. Beliau bersabda:

"لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ" (متفق عليه)

“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat; tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

Hadis ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada reaksi emosional, tetapi pada kendali diri. Menelan kekecewaan dan membalas dengan kesabaran adalah bagian dari kemenangan batin yang Allah cintai.

Allah juga meneguhkan hati orang beriman dengan firman-Nya:

"وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ" (الحجر: 97–98)

“Sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud.”

Ayat ini adalah obat bagi hati yang sesak oleh ucapan manusia. Allah tidak menuntut kita untuk memaksa orang berhenti mencela, tetapi memerintahkan agar kita mendekat kepada-Nya sebagai penenang jiwa.

Ketahuilah bahwa celaan manusia tidak pernah mengubah nilai kita di sisi Allah sedikit pun. Nilai kita bukan ditentukan oleh komentar, tetapi oleh keikhlasan dan keteguhan menjalankan kebenaran. Imam Ahmad rahimahullāh pernah berkata: “Antara aku dan mereka ada hari kiamat.” Sebuah ungkapan yang mengajarkan bahwa manusia boleh berbicara apa saja, tetapi keputusan akhir hanya milik Allah.

Orang beriman tidak berjalan untuk menyenangkan manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah. Karena itu, ketika menghadapi cercaan: luruskan niat, kuatkan langkah, dan perbanyak istighfar. Penilaian manusia tidak kekal; tetapi ketetapan Allah abadi. Dan setiap sabar yang kita tahan, setiap luka yang kita pendam, akan dicatat sebagai amal yang tidak pernah hilang.

Pada akhirnya, perjalanan hidup bukan tentang seberapa banyak pujian yang diterima, tetapi seberapa kokoh kita berdiri ketika kebenaran dicela. Maka bila ada yang merendahkanmu tanpa alasan, ingatlah: engkau sedang menapak jalan yang pernah dilalui para Nabi. Dan tidak ada kehormatan yang lebih mulia daripada itu.

( Red )

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)