Home Artikel Adab Bersin Dalam Islam

Adab Bersin Dalam Islam

212
0
SHARE
Adab Bersin Dalam Islam

Keterangan Gambar : Bersin adalah nikmat kecil yang sering luput disyukuri, padahal di dalamnya terkandung ajaran adab, akhlak, dan kepekaan sosial yang luhur.

Perwirasatu.co.id Senin 4 mei 2026. Bersin adalah nikmat kecil yang sering luput disyukuri, padahal di dalamnya terkandung ajaran adab, akhlak, dan kepekaan sosial yang luhur. Islam tidak hanya mengatur ibadah besar, tetapi juga hal-hal sederhana seperti bersin, agar manusia tetap menjaga kehormatan diri, tidak mengganggu orang lain, serta senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, bersin sering dianggap sebagai hal biasa, bahkan kadang dilakukan dengan suara keras tanpa memperhatikan orang di sekitar. Padahal, Islam mengajarkan kelembutan dan kesopanan dalam setiap gerak-gerik seorang muslim, termasuk ketika bersin. Anak-anak sejak dini perlu diajarkan untuk bersin secara perlahan, merendahkan suara, serta menutup mulut dan hidung agar tidak mengganggu dan menjaga kebersihan.

Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang sangat jelas tentang adab bersin. Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ، وَخَفَضَ أَوْ غَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ apabila bersin, beliau meletakkan tangan atau pakaiannya pada mulutnya dan merendahkan atau menahan suara bersinnya.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga adab bahkan dalam perkara yang tampak sepele. Menutup mulut saat bersin bukan hanya menjaga sopan santun, tetapi juga melindungi orang lain dari percikan yang bisa mengganggu atau membahayakan kesehatan. Sementara merendahkan suara adalah bentuk pengendalian diri, agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan di lingkungan sekitar.

Selain itu, bersin juga merupakan momen untuk mengingat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka hendaklah ia mengucapkan: Alhamdulillah.” (HR. Bukhari)

Ucapan “Alhamdulillah” setelah bersin adalah bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan, karena bersin adalah cara tubuh membersihkan diri dari gangguan. Kemudian orang yang mendengar dianjurkan menjawab dengan doa: “Yarhamukallah,” dan dibalas lagi dengan doa kebaikan. Ini menunjukkan bahwa Islam menjadikan bersin sebagai sarana mempererat ukhuwah dan saling mendoakan.

Allah سبحانه وتعالى juga mengajarkan adab umum dalam menjaga suara dan sikap melalui firman-Nya:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Artinya: “Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19)

Ayat ini menjadi prinsip umum bahwa seorang muslim hendaknya tidak mengeraskan suara tanpa alasan, termasuk ketika bersin. Membiasakan anak untuk bersin dengan pelan adalah bagian dari pendidikan akhlak yang halus dan berkelanjutan. Dari hal kecil seperti ini, terbentuk karakter yang santun, penuh empati, dan menghargai orang lain.

Mendidik anak agar bersin dengan pelan bukan sekadar soal etika, tetapi juga bagian dari menanamkan nilai tanggung jawab sosial. Anak belajar bahwa setiap tindakannya memiliki dampak terhadap orang lain. Dengan demikian, ia tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya peduli pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya.

Pada akhirnya, Islam adalah agama yang menyempurnakan akhlak. Setiap detail kehidupan diatur agar manusia hidup dengan penuh keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama. Bahkan dalam bersin pun, ada pelajaran tentang syukur, adab, kebersihan, dan kepedulian. Maka, mengajarkan anak bersin pelan adalah bagian kecil dari membangun peradaban besar yang berlandaskan akhlak mulia.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home