Perwirasatu.co.id, Rabu 27 Mei 2026.
Dalam kehidupan kita sering kali terjebak pada kenikmatan yang bersifat sementara, terutama ketika makanan yang enak habis dalam 10 menit membuat kita merasa bahwa dunia ini begitu mempesona dan hakiki. Padahal apa yang tampak di permukaan seringkali menipu dan menjauhkan kita dari tujuan hidup yang sebenarnya. Allah ﷻ mengingatkan kita akan realitas kehidupan dunia ini agar hati kita tidak larut dalam tipu daya yang menyesatkan.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَـٰنُٓ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحً۬ا فَمُلَـٰقِيهِۚ (سورة العلق: ٨)
“Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju kepada Tuhanmu, dan kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-‘Alaq: 8)
Ayat ini menggugah hati kita bahwa setiap yang kita lakukan di dunia ini akan menemui perhitungan di hadapan Allah ﷻ. Dunia bukan tempat kita tinggal selamanya, tetapi tempat menanam bekal untuk akhirat. Allah ﷻ mengingatkan pula dalam firman-Nya:
وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahami?” (QS. Al-Ankabut: 64)
Begitu jelas Allah mengingatkan bahwa apa yang kita anggap besar dan penting dalam dunia ini jika dilihat dari kaca mata akhirat hanyalah permainan. Makanan enak yang habis dalam hitungan menit merupakan nikmat kecil yang fana, sedangkan amal yang kita lakukan menjadi bekal abadi. Nabi ﷺ bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus menerus meskipun sedikit.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas amalan kita lebih berharga daripada sekadar kenikmatan sesaat di dunia. Makanan yang enak dan cepat hilang tidak akan memberikan nilai abadi, tetapi amal baik yang dilakukan konsisten akan mengangkat derajat kita di akhirat. Ketika kita makan, hendaknya kita ingat untuk mensyukuri nikmat Allah dengan doa:
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).”
Dengan begitu, kita tidak hanya memuaskan selera tetapi juga menumbuhkan rasa syukur dan kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
فَاذْكُرُونِى أَذْكُرْكُمْ
“Maka ingatlah akan Aku, niscaya Aku ingat akan kamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ingatan kepada Allah adalah inti dari kehidupan penuh kesadaran. Ketika kita ingat kepada Allah dalam setiap suapan makanan, dalam setiap doa dan ikhtiar, kita sejatinya sedang menanam cahaya iman yang akan menerangi perjalanan kita setelah mati. Dunia boleh jadi menggoda, tetapi akhirat adalah realitas yang kekal.
Sahabat yang dirahmati Allah, mari kita lihat makanan yang habis dalam 10 menit sebagai peringatan hidup: bahwa segala sesuatu yang fana tidak layak dijadikan tujuan utama. Allah ﷻ memberi kita ujian berupa kenikmatan dunia agar kita memilih antara mengikuti hawa nafsu atau menyiapkan bekal amal shalih. Firman Allah:
وَٱعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Berpegang teguh pada kebenaran, memperbanyak doa dan amalan, serta menjauhi godaan syaitan akan menuntun kita kepada keridhaan Allah ﷻ. Ketahuilah bahwa setiap detik hidup ini adalah investasi akhirat. Nikmat sekecil apapun jika disyukuri dan diwujudkan dalam kebaikan akan menjadi cahaya di kubur dan pemberat timbangan kebaikan kita.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur, konsisten dalam amalan, dan menjadikan setiap momen hidup sebagai bekal menuju kebahagiaan abadi di akhirat. آمين.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat












LEAVE A REPLY