
Keterangan Gambar : Musibah adalah bagian dari perjalanan hidup manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Kaya ataupun miskin, kuat ataupun lemah, semuanya akan merasakan pahitnya ujian.
Perwirasatu.co.od, Senin 25 Mei 2026.
Setiap manusia pasti akan berjumpa dengan ujian kehidupan. Ada kalanya hati dipenuhi kebahagiaan, namun tidak sedikit pula saat air mata jatuh karena kehilangan, kesedihan, sakit, kegagalan, dan berbagai musibah yang datang tanpa diduga. Dalam keadaan itulah Islam mengajarkan sebuah kalimat agung yang mengandung kekuatan iman, ketundukan, dan pengharapan besar kepada Allah, yaitu ucapan istirja: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Musibah adalah bagian dari perjalanan hidup manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Kaya ataupun miskin, kuat ataupun lemah, semuanya akan merasakan pahitnya ujian. Akan tetapi, yang membedakan seorang mukmin dengan lainnya adalah bagaimana ia menyikapi musibah tersebut. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk larut dalam putus asa, tidak pula mengajarkan untuk memberontak terhadap takdir Allah. Seorang mukmin diajarkan untuk bersabar, menerima ketetapan Allah dengan hati yang lapang, serta mengembalikan segala urusan kepada-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156-157)
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Kalimat “Innā lillāhi” mengajarkan bahwa diri kita, keluarga kita, harta kita, bahkan seluruh kehidupan ini sejatinya milik Allah. Tidak ada yang benar-benar kita miliki secara mutlak. Semua hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali kepada pemiliknya. Sedangkan kalimat “wa innā ilaihi rāji‘ūn” menegaskan bahwa pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada Allah. Maka apa pun yang hilang dari dunia ini tidak akan pernah lepas dari pengawasan dan hikmah-Nya.
Ucapan istirja bukan sekadar kalimat yang diucapkan oleh lisan, tetapi merupakan pernyataan iman yang keluar dari hati yang yakin kepada Allah. Ketika seorang hamba mampu mengucapkannya dengan penuh kesadaran, maka sesungguhnya ia sedang menenangkan jiwanya sendiri. Ia menyadari bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Di balik setiap ujian pasti ada hikmah, pelajaran, penghapus dosa, bahkan peninggian derajat di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya,’ melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim)
Hadis ini memberikan harapan besar kepada setiap mukmin. Tidak ada kesedihan yang sia-sia di sisi Allah. Air mata yang jatuh karena sabar akan berubah menjadi pahala. Luka hati yang dipendam demi mencari ridha Allah akan diganti dengan kebaikan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia hanya mampu bersabar ketika musibah terlihat kecil. Namun ketika ujian terasa berat, hati mulai goyah, lisan mulai mengeluh, bahkan sebagian orang mempertanyakan keadilan Allah. Padahal sejatinya Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bisa jadi kehilangan yang kita tangisi justru menyelamatkan kita dari keburukan yang lebih besar. Bisa jadi kegagalan yang menyakitkan justru menjadi jalan menuju keberhasilan yang lebih mulia.
Allah ﷻ berfirman:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Karena itu, seorang mukmin hendaknya memandang musibah dengan pandangan iman. Jangan hanya melihat rasa sakitnya, tetapi lihatlah pula rahmat Allah yang tersembunyi di baliknya. Betapa banyak orang yang justru semakin dekat kepada Allah setelah mengalami kesulitan. Betapa banyak hati yang sebelumnya lalai lalu menjadi lembut karena musibah. Bahkan tidak sedikit manusia yang baru mengenal makna tawakal dan doa ketika dirinya berada dalam kesempitan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika ditimpa kesusahan ia bersabar maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Inilah keindahan iman. Seorang mukmin tetap memiliki cahaya harapan meskipun berada di tengah kesedihan. Ia tahu bahwa Allah selalu bersamanya. Ia yakin bahwa rahmat Allah lebih luas daripada seluruh luka yang dirasakannya. Ucapan istirja menjadi pengingat bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tujuan yang sebenarnya.
Maka ketika musibah datang mengetuk kehidupan kita, jangan biarkan hati tenggelam dalam keputusasaan. Basahilah lisan dengan ucapan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” Hadirkan keyakinan bahwa Allah sedang mendidik jiwa kita agar lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada-Nya. Sebab orang-orang yang sabar bukan hanya mendapatkan pahala, tetapi juga memperoleh keberkahan, rahmat, dan petunjuk dari Allah سبحانه وتعالى.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat












LEAVE A REPLY