Perwirasatu.co.id, 09 Juni 2026.
Di tengah perkembangan dunia yang sangat pesat, manusia hidup dalam ritme yang nyaris tanpa jeda. Nontifikasi datang bertubi-tubi, informasi berganti dalam hitungan detik, dan kecerdasan buatan seperti AI menghadirkan banyak sekali kemudahan.
Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat seperti pekerjaan menjadi efisien, komunikasi melampaui batas negara, dan pengetahuan dapat diakses dengan cepat. Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul pertanyaan sederhana: masih adakah ruang untuk membaca sastra?
Sastra sering kali dianggap tidak lagi praktis di era modern. Ia tidak memberi jawaban instan dan tidak selalu menghadirkan solusi cepat. Padahal justru di situlah kekuatannya. Membaca sastra melatih kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan menelusuri makna makna yang tersembunyi di balik kata-kata. Kemajuan dunia sering diukur dari pertumbuhan ekonomi, kecepatan internet dan kecanggihan perangkat.
Namun, kemajuan manusia seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia berpikit, melainkan juga dari seberapa dalam ia merasa. Sastra membantu manusia mempertahankan sisi kemanusiaannya yaitu empati, kepekaan, dan imajinasi. Novel, puisi, dan cerpen membawa kita masuk ke dalam pengalaman orang lain. Dimana kita memahami luka, harapan dan perjuangan yang mungkin tak pernah kita alami sendiri.
Di tengah arus globalisasi dan budaya popular yang mendominasi, karya-karya sastra seperti milik Pramoedya Ananta Toer atau Sapardi Djoko Damono menjadi pengingat bahwa kata-kata mampu melampaui zaman. Karya mereka tidak hanya bicara soal masa lalu, tetapi juga tentang manusia dan berbagai pergulatannya dalam hidup. Sastra menjadi ruang dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Ironisnya, disaat akses terhadap buku semakin mudah baik melalui perpustakan digital dan lainnya, minat membaca sastra justru semakin berkurang. Membaca sastra bukan sekadar aktivitas akademik. Membaca sastra adalah sebuah latihan kesabaran dan ketekunan. Sastra mengajak kita berdialog dengan diri sendiri. Ketika seseorang membaca puisi, ia tidak hanya memahami kata, tetapi juga ikut merasahkan emosi yang terkandung dalam puisi tersebut.
Kemajuan dunia memang bukan untuk dihindari. Dengan membaca sastra kita berusaha untuk menjaga keseimbangan. Teknologi mengasah logika, sedangkan sastra menumbuhkan nurani kemanusiaan.
Penulis: Yohana Delania
Mahasiswa












LEAVE A REPLY