Buah Penundaan Amal

Buah Penundaan Amal Keterangan Gambar : Manusia sering terjebak pada jebakan halus bernama penundaan. Lisan terasa ringan mengucap “nanti”, “insya Allah besok”, atau “semoga sempat”, namun hati lupa bahwa umur adalah amanah yang terus berkurang.


Perwirasatu.co.id - Sabtu (21/2/2026).

Nasihat ulama tentang menunda kebaikan adalah cermin bagi jiwa yang sering lalai. Dari kata nanti hingga semoga, lahir pohon kelalaian yang berbuah rugi dan sesal. Tulisan ini mengajak hati bangkit, menata niat, menyegerakan amal, dan berjalan di bawah cahaya Al-Qur’an serta Sunnah dengan harapan rahmat Allah bagi seluruh manusia yang mendamba keselamatan dunia akhirat, istiqamah, ikhlas, sabar, taat, dan berilmu.

Manusia sering terjebak pada jebakan halus bernama penundaan. Lisan terasa ringan mengucap “nanti”, “insya Allah besok”, atau “semoga sempat”, namun hati lupa bahwa umur adalah amanah yang terus berkurang. Ibnu Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa sikap menunda kebaikan adalah pohon yang buahnya kerugian dan penyesalan. Penundaan melemahkan tekad, mematikan semangat, dan membuka pintu bisikan setan. Amal saleh yang ditunda sering kali tak pernah terwujud, sementara dosa yang dibiarkan tumbuh tanpa istighfar mengeras menjadi kebiasaan.

Allah Ta’ala mengingatkan dengan tegas tentang pentingnya bersegera dalam kebaikan. Firman-Nya: وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133). Ayat ini memanggil hati agar tidak menunda, karena ampunan dan surga diraih oleh mereka yang sigap, bukan yang ragu.

Dalam ayat lain Allah berfirman: فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ. Artinya: “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah: 7–8). Ayat ini mengajarkan kesinambungan amal, bukan penundaan. Selesai satu kebaikan, sambung dengan kebaikan lain, agar hati selalu hidup.

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahaya menunda dengan sabda beliau: اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ. Artinya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim). Hadis ini memotong alasan penundaan dengan kesadaran waktu.

Penundaan sering disamarkan sebagai harapan palsu. Setan menghiasi masa depan agar manusia lupa hari ini. Padahal, hari ini adalah ladang amal, sedangkan esok adalah wilayah tak pasti. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini menuntut evaluasi sekarang, bukan nanti.

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa menunda taubat lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri, karena dosa disadari, sedangkan penundaan sering dianggap aman. Hati yang terbiasa menunda akan keras, sulit tersentuh nasihat, dan malas menyambut hidayah. Karena itu, Islam membina jiwa dengan disiplin niat dan segera bertindak. Sekecil apa pun kebaikan, lakukan saat kesempatan hadir.

Rasulullah ﷺ bersabda: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ. Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Konsistensi lahir dari kebiasaan menyegerakan, bukan menunda. Dari sinilah pohon amal tumbuh subur dan berbuah manis.

Maka, mari cabut pohon penundaan dari hati. Gantilah kata “nanti” dengan “sekarang”, “semoga” dengan “bismillah”. Awali dengan niat yang lurus, iringi dengan doa, dan kuatkan dengan ilmu. Hidup yang singkat akan bercahaya bila diisi amal tepat waktu. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tanggap terhadap seruan-Nya, ringan beramal, dan selamat dari penyesalan panjang di akhirat.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)