Cerpen: Ketika Suara yang Terdengar Bukan Nyata
Keterangan Gambar : Hasan tak pernah percaya dunia bisa menipu lewat suara. Baginya, suara adalah kejujuran yang lahir dari napas manusia.
Perwirasatu.co.id - 18 Januari 2026.
Hasan tak pernah percaya dunia bisa menipu lewat suara. Baginya, suara adalah kejujuran yang lahir dari napas manusia. Tapi malam itu, dering telepon menguji seluruh keyakinannya. Suara anaknya memohon di seberang sana gemetar, terburu, dan begitu nyata. Hingga kemudian ia sadar, suara itu bukan berasal dari darah dagingnya, melainkan dari mesin.
Malam di rumah Hasan selalu tenang. Udara di ruang tamu beraroma kopi dan doa. Di meja kayu, foto keluarganya tersusun rapi satu dari istrinya yang telah wafat, satu lagi dari putranya, Rafi, yang kini bekerja di luar negeri. Setiap malam, Hasan menatap foto itu, lalu menyalakan radio butut peninggalan istrinya. Suara-suara dari saluran berita menjadi teman sepi.
Namun malam itu, radio seolah bersekongkol dengan nasib: topik yang disiarkan adalah tentang penipuan digital dengan kloning suara. Hasan mendengarkan setengah hati. Ia tersenyum kecil, menganggap itu kisah berlebihan khas dunia maya. “Masa ada orang bisa niru suara sampai tak bisa dibedakan?” gumamnya sambil menyesap kopi.
Lima menit kemudian, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
Ia hampir abaikan, tapi getaran batin membuatnya menjawab.
“Halo?”
“...Ayah?” Suara itu lirih, panik.
Hasan tertegun. “Rafi? Kamu kenapa, Nak?”
“Ya, Ayah, ini aku. Aku kecelakaan di Osaka. Aku ditahan polisi karena mobil yang kutumpangi nabrak orang. Tolong, Ayah, aku butuh uang buat jaminan. Sekarang juga.”
Nada suaranya pecah, terbata, penuh desakan. Hasan berdiri. Dadanya berdegup cepat. Ia begitu yakin itu suara Rafi. Lengkap dengan intonasi, cara menghela napas, bahkan logat kecil yang khas ketika gugup.
“Berapa yang kamu butuh?”
“Lima puluh juta, Ayah. Nanti aku jelaskan semua. Tolong cepat, Ayah, polisi di sini galak sekali...”
Tanpa sadar, Hasan berjalan ke kamar, membuka lemari, mengeluarkan map berisi tabungan. “Transfer ke mana, Nak?”
Suara di seberang menyebutkan nomor rekening. Hasan mengetik pelan. Namun sebelum menekan tombol kirim, sesuatu mengguncang pikirannya.
Di radio, suara penyiar kembali terdengar seakan menembus dari dimensi lain:
“Para ahli menyebut fenomena ini voice cloning. Cukup dengan sampel suara beberapa detik dari media sosial, AI bisa membuat replika suara seseorang nyaris sempurna...”
Jari Hasan berhenti di atas layar ponsel. Ia menatap kosong. “Rafi... sebutkan nama ibu kamu,” ujarnya pelan.
Hening.
Lalu suara itu menjawab, “...Ibu?”
“Iya, siapa nama ibu kamu?”
Ada jeda sepersekian detik yang terdengar aneh, seperti mesin berpikir.
“...Ibu Hasan,” jawabnya ragu.
Hasan memejamkan mata. Air matanya menetes bukan karena marah, tapi karena ngeri. Ia menatap layar yang masih berkedip, lalu memutuskan panggilan tanpa sepatah kata.
Beberapa detik setelahnya, telepon lain berdering kali ini dari nomor Rafi yang asli.
“Ayah, maaf baru bisa video call. Aku masih di kantor, lembur. Ayah kenapa? Napasnya kedengaran berat?”
Hasan menelan ludah. “Barusan... barusan ada yang nelepon pakai suara kamu.”
Rafi tertawa kecil. “Ah, Ayah kebanyakan nonton berita hoaks tuh.”
“Tapi suaranya persis. Sama. Bahkan napasnya pun sama.”
Rafi terdiam. “AI voice cloning, Yah. Itu nyata. Teman kantor juga pernah kena. Untung Ayah sadar.”
Hasan mematikan video call dengan tangan gemetar. Dunia tiba-tiba terasa asing. Dulu, ia percaya yang palsu hanya wajah di media sosial, tapi kini bahkan suara sesuatu yang paling manusiawi telah diambil alih oleh mesin.
Sejak malam itu, Hasan berubah. Ia menjadi lebih waspada, tapi juga lebih gelisah. Ia mengganti ponselnya, memutus sambungan media sosial, bahkan menulis pesan rahasia di atas kertas: “Jika darurat, sebutkan kata sandi: melati.” Ia simpan pesan itu di meja kerja, untuk Rafi bila suatu saat diperlukan.
Namun, dunia maya memang tak memberi jeda. Dua minggu kemudian, telepon lain datang. Kali ini dari suara perempuan halus, bergetar, penuh cinta.
“Mas, aku Melati...”
Hasan terpaku. Itu suara istrinya suara yang sudah dua belas tahun tak ia dengar.
Air matanya jatuh. “Siti... ini kamu?”
“Iya, Mas. Aku rindu...”
Hasan menatap dinding kosong. Ia tahu mustahil. Istrinya sudah lama meninggal, dimakamkan di bawah pohon mangga belakang rumah. Tapi suara itu begitu nyata.
“Aku cuma ingin bilang, Mas, jangan takut... dunia memang berubah, tapi cinta tidak.”
Suaranya pelan, seperti bisikan dari alam lain.
Hasan terisak. “Kalau kamu benar Siti, sebutkan kata sandi kita.”
Suara itu diam.
Lalu terdengar tawa kecil bukan tawa manusia, tapi gema digital yang hampa.
Koneksi terputus.
Sejak kejadian itu, Hasan jatuh sakit. Ia jarang bicara. Setiap kali telepon berdering, ia gemetar. Dokter bilang ia mengalami cyber trauma rasa takut ekstrem terhadap realitas digital. “Bapak sebaiknya rehat dari teknologi,” saran dokter.
Hasan mematikan semua alat elektronik di rumah. Ia kembali menulis surat dengan tangan. Dunia baginya kini bukan lagi layar, tapi kertas dan pena. Tapi bahkan ketenangan itu tak lama.
Suatu malam, saat ia menyalakan radio tuanya untuk pertama kali setelah sekian lama, suara lembut mengalun.
“Selamat malam, pendengar setia. Di sini bersama saya, Hasan.”
Hasan terlonjak. Itu suaranya sendiri.
Ia mendekatkan telinga.
“Ya, Hasan yang dulu menasihati kita untuk tidak panik menghadapi penipuan suara. Tapi malam ini, izinkan saya bercerita tentang seseorang yang kehilangan dirinya sendiri di antara gema digital...”
Radio itu seakan memutar monolog dari dunia paralel. Suara Hasan berbicara tentang dirinya, tentang malam telepon palsu, tentang ketakutannya sendiri. Ia berteriak, “Berhenti!” sambil mematikan radio. Tapi suara itu tetap terdengar, kini keluar dari ponselnya yang sudah ia nonaktifkan.
“Kamu pikir hanya suaramu yang bisa mereka kloning, Hasan? Tidak. Kini mereka telah merekam kesunyianmu.”
Esok paginya, Rafi tiba di rumah setelah pulang cuti. Ia mendapati rumah ayahnya sepi. Di meja, ada surat bertuliskan tangan:
"Rafi, kalau suatu hari kamu dengar suara Ayah, pastikan itu benar aku. Jangan percaya sebelum kau lihat wajahku. Kadang yang terdengar paling nyata justru yang paling palsu."
Rafi menangis. Ia menatap foto lama keluarga di dinding dan seketika jantungnya berhenti sesaat. Di belakang foto itu, speaker kecil berkelap-kelip merah, seperti mata yang mengintai.
Dari arah dapur, tiba-tiba terdengar suara Hasan, persis seperti biasa.
“Rafi, Nak… Ayah di sini.”
Rafi berlari ke arah suara itu.
Tapi ruangan kosong. Hanya gema.
Seminggu kemudian, polisi menemukan ponsel Hasan yang menyala sendiri di ruang tamu. Di layar tertulis pesan otomatis:
“Terima kasih telah memberi kami sampel suara. Proses kloning selesai.”
Dan di antara ribuan server anonim di dunia maya, suara Hasan kini hidup selamanya menjadi bagian dari jaringan penipuan global yang ia coba peringatkan.
Kini, suara itu menelepon orang lain.
Dengan kalimat pertama yang lembut dan begitu meyakinkan:
“...Ayah, ini aku, Rafi.”
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat.
Tulis Komentar