Cerpen: Seragam Rapi Jiwa Bocor Perlahan

Cerpen: Seragam Rapi Jiwa Bocor Perlahan Keterangan Gambar : seorang PNS berseragam cokelat muda menunduk, menatap lantai kusam. Ia datang bukan untuk belajar mengatur uang, melainkan untuk menonton hidupnya sendiri diputar ulang, telanjang, tanpa belas kasihan.

Perwirasatu.co.id - 17 Januari 2026.

Aula pelatihan itu pengap dan dingin sekaligus. Kursi plastik berderit setiap kali seseorang mengubah posisi duduk. Di barisan paling belakang, seorang PNS berseragam cokelat muda menunduk, menatap lantai kusam. Ia datang bukan untuk belajar mengatur uang, melainkan untuk menonton hidupnya sendiri diputar ulang, telanjang, tanpa belas kasihan.

Namanya Haris. Tiga belas tahun menjadi pegawai negeri, pangkatnya naik setahap demi setahap. Di luar gedung itu, mobil SUV hitamnya terparkir rapi. Catnya masih mengilap, cicilannya belum lunas. Di rumah, sebuah foto besar dirinya berseragam lengkap tergantung di ruang tamu, berdampingan dengan rak piala lomba anaknya yang kini jarang disentuh.

Haris duduk memeluk map cokelat kosong. Di dalam kepalanya, suara petugas bank kemarin sore masih bergema. “Pak, keterlambatan sudah masuk bulan ketiga.” Ia mengangguk waktu itu, tersenyum kecil, lalu menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia pulang, makan malam dalam diam. Istrinya tidak bertanya. Diam mereka lebih keras dari pertengkaran.

Lampu proyektor menyala. Slide pertama muncul: kebiasaan kecil yang membuat hidup terasa fakir. Haris menarik napas. Kalimat demi kalimat seperti membaca buku harian yang tak pernah ia tulis. Gaya hidup naik seiring pangkat. Ia teringat hari pertama membawa mobil baru ke kantor. Rekan rekan menepuk bahunya, memuji. Di dadanya ada bangga, bercampur takut yang ia tekan dalam.

Ia ingat bagaimana gajinya selalu terasa cukup hanya sampai minggu kedua. Sisanya ditutup dengan keyakinan sederhana: nanti juga ada gaji. Tidak pernah ada dana darurat. Ketika anaknya sakit dan butuh biaya tambahan, ia menggesek kartu kredit sambil tertawa, seolah itu bukan apa apa. Utang menjadi penolong sekaligus jebakan.

Di kantor, Haris dikenal baik. Terlalu baik. Ia mentraktir makan siang, kopi sore, bahkan ulang tahun kecil kecilan. Ia takut dianggap pelit. Setiap menekan tombol bayar di kasir, ia merasa menjadi seseorang yang dihormati. Namun setiap malam, ia menghitung sisa saldo dengan mata lelah, tanpa benar benar tahu ke mana uangnya pergi.

Slide berganti. Tentang jajan harian, belanja impulsif, dan kebiasaan tidak mencatat keuangan. Haris teringat notifikasi belanja daring yang sering ia hapus cepat cepat. “Murah,” katanya pada diri sendiri. Padahal murah yang diulang ratusan kali berubah menjadi lubang besar. Ia menutup map cokelatnya, seolah bisa menutup kenyataan.

Pelatih berbicara tenang. Lalu sebuah rekaman diputar. Suara laki laki terdengar ragu di awal, lalu semakin jujur. Suara itu bercerita tentang seragam rapi yang menipu, tentang rumah besar yang penuh kecemasan, tentang rasa aman palsu karena status. Haris menegang. Ia mengenali jeda, tarikan napas, bahkan batuk kecil di tengah kalimat.

Itu suaranya sendiri. Rekaman yang ia buat beberapa minggu lalu, saat diminta berbagi kisah secara anonim. Waktu itu ia berpikir, siapa tahu kisahnya berguna. Ia tidak menyangka akan duduk di sini, menjadi penonton atas kebangkrutannya sendiri. Tangannya berkeringat. Kursi plastik terasa semakin sempit.

Pelatih menutup rekaman. “Orang ini,” katanya, “secara pribadi bangkrut. Gajinya sudah habis sebelum diterima. Ia terlihat aman, padahal rapuh.” Aula sunyi. Beberapa peserta saling pandang. Ada yang menghela napas, ada yang menelan ludah.

“Hari ini,” lanjut pelatih, “kami mengundangnya bukan sebagai peserta.” Haris merasa darahnya turun ke kaki. “Ia ada di ruangan ini.”

Semua mata menoleh ke belakang. Haris berdiri perlahan. Di barisan depan, ia melihat istrinya. Ia tidak tahu kapan perempuan itu masuk. Mata mereka bertemu. Tidak ada marah, hanya lelah dan harap yang bercampur.

Haris membuka mulut. Suaranya bergetar. “Saya PNS,” katanya. “Seragam saya rapi. Tapi hidup saya bocor perlahan. Bukan karena gaji kecil. Karena saya takut terlihat sederhana.” Ia berhenti sejenak. Aula tetap sunyi.

Ia menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia tidak berpura pura mampu. Dan justru di saat itulah, rasa fakir yang selama ini menghantui mulai terasa jujur, sekaligus memberi ruang untuk berubah.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)