Dari Kantin Kampus Menuju Bursa

Dari Kantin Kampus Menuju Bursa Keterangan Gambar : Kisah Achmad Zaky memperlihatkan bahwa keberhasilan besar tidak selalu lahir dari latar belakang sempurna. Kadang ia tumbuh dari ruang sederhana, dari rasa canggung, dari pekerjaan kecil yang dijalani tanpa gengsi, dan dari keberanian menghadapi keterbatasan diri sendiri.

Perwirasatu.co.id, Senin 18 Mei 2026.

Di sebuah ruang kuliah Institut Teknologi Bandung, seorang mahasiswa asal Sragen pernah merasa dirinya paling kecil di antara mahasiswa lain. Ia datang dari kota kecil di Jawa Tengah dengan logat desa yang masih kuat, kemampuan bahasa Inggris yang pas pasan, dan rasa minder ketika melihat teman temannya tampak lebih modern dan percaya diri. Namun dari rasa rendah diri itulah lahir tekad yang perlahan mengubah hidupnya, bahkan mengubah cara jutaan pelaku usaha kecil Indonesia memasuki dunia digital.

Achmad Zaky tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah ekonomi digital Indonesia. Dalam berbagai kesempatan wawancara, ia pernah mengakui bahwa masa awal kuliah di ITB bukan periode yang mudah. Lingkungan baru membuatnya merasa tertinggal. Tetapi rasa minder itu justru memunculkan dorongan untuk belajar lebih keras dan mencari cara agar mampu bersaing. Kisah tentang fase awal kehidupannya di ITB pernah disinggung dalam artikel CNBC Indonesia berjudul “Kisah Achmad Zaky Bangun Bukalapak dari Nol” yang dipublikasikan pada 8 Agustus 2021.

Di tengah tekanan akademik kampus teknik yang terkenal ketat, Zaky mulai memahami bahwa kelemahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Salah satu tantangan terbesarnya saat itu adalah kemampuan bahasa Inggris. Dalam sejumlah wawancara publik dan forum diskusi startup, ia mengaku pernah memiliki skor TOEFL yang rendah dibanding sebagian besar mahasiswa ITB lainnya. Namun alih alih menyerah, ia justru mencari kesempatan belajar lebih jauh. Ia mengikuti program pelatihan di Amerika Serikat yang mempertemukannya langsung dengan lingkungan internasional. Pengalaman itu memperluas cara pandangnya tentang teknologi dan masa depan ekonomi digital.

Perjalanan Achmad Zaky menunjukkan bahwa transformasi besar sering dimulai dari rasa tidak percaya diri. Banyak orang menganggap minder sebagai kelemahan yang harus dihindari, padahal dalam beberapa kasus rasa itu justru bisa menjadi pemicu perubahan. Zaky tidak mencoba terlihat sempurna sejak awal. Ia memilih mengakui keterbatasannya lalu bekerja keras menutup kekurangan tersebut. Sikap inilah yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya.

Semasa kuliah di ITB, Zaky dikenal aktif dalam kegiatan teknologi dan kewirausahaan. Ia mendirikan komunitas technopreneur yang mendorong mahasiswa agar tidak hanya berpikir sebagai pencari kerja, tetapi juga pencipta solusi. Selain aktif di organisasi, ia juga mengikuti berbagai kompetisi teknologi informasi. Salah satu prestasi yang banyak diberitakan adalah keberhasilannya memenangkan Indosat Wireless Innovation Contest pada 2007 melalui aplikasi MobiSurveyor. Informasi ini tercatat dalam berbagai profil perusahaan dan publikasi teknologi nasional.

Namun di balik berbagai prestasi akademik dan kompetisi teknologi itu, ada pengalaman hidup sederhana yang jarang dibicarakan dalam panggung panggung bisnis modern. Ketika masih kuliah, Achmad Zaky pernah berjualan mie ayam di lingkungan kampus. Kisah ini beredar luas melalui berbagai wawancara dan konten profil dirinya di media digital. Meski detail waktunya tidak banyak terdokumentasi secara formal, cerita tersebut konsisten muncul dalam narasi perjalanan hidupnya sebagai simbol perjuangan ekonomi mahasiswa perantauan.

Pengalaman berjualan makanan di kampus memberi Zaky pelajaran langsung tentang realitas ekonomi masyarakat kecil. Ia melihat bahwa bertahan hidup membutuhkan keberanian untuk bekerja tanpa gengsi. Dalam banyak kisah sukses teknologi, pengalaman pengalaman kecil seperti ini sering menjadi bagian paling penting karena membentuk empati sosial seorang pendiri perusahaan. Bagi Zaky, teknologi tidak cukup hanya canggih. Teknologi harus memberi manfaat nyata bagi orang yang bekerja keras setiap hari untuk mempertahankan hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di ITB, Zaky mendirikan Suitmedia, perusahaan konsultasi digital yang mengerjakan berbagai proyek teknologi informasi. Dari sana ia mulai memahami bahwa internet bukan sekadar ruang komunikasi, tetapi juga ruang ekonomi baru yang akan berkembang sangat besar di Indonesia. Pengalaman mengembangkan sistem digital untuk berbagai klien membuatnya melihat peluang besar di sektor perdagangan daring yang saat itu masih berada pada tahap awal pertumbuhan.

Pada 2010, bersama Muhammad Fajrin Rasyid dan Nugroho Herucahyono, ia mendirikan Bukalapak. Platform tersebut lahir bukan untuk melayani perusahaan besar atau merek mewah, tetapi justru untuk membantu pelaku usaha kecil menjual barang secara lebih luas melalui internet. Di masa awal pertumbuhannya, Bukalapak aktif mendatangi pedagang kecil dan memperkenalkan konsep perdagangan daring yang saat itu masih asing bagi banyak orang.

Pendekatan itu membuat Bukalapak berkembang dengan karakter yang berbeda dibanding sebagian platform digital lain pada masanya. Banyak perusahaan teknologi fokus membangun citra modern perkotaan, sementara Bukalapak justru tumbuh bersama warung kecil, pedagang rumahan, dan UMKM. Pendekatan ini kemudian menjadi salah satu identitas kuat perusahaan tersebut. Dalam artikel Reuters berjudul “Indonesia’s Bukalapak raises $1.5 billion in biggest IPO” yang dipublikasikan pada 6 Agustus 2021, disebutkan bahwa Bukalapak memang membangun basis kuat pada sektor UMKM Indonesia.

Pertumbuhan Bukalapak berlangsung sangat cepat. Dalam beberapa tahun, jumlah pelapak meningkat menjadi jutaan pengguna aktif. Perusahaan itu juga berhasil menarik investasi besar dari berbagai institusi internasional. Pada 2017, Bukalapak resmi menyandang status unicorn setelah valuasinya melampaui satu miliar dolar Amerika Serikat. Status tersebut menempatkan Bukalapak sebagai salah satu perusahaan teknologi paling berpengaruh di Indonesia.

Salah satu langkah penting Bukalapak adalah peluncuran Mitra Bukalapak yang membantu warung warung kecil menjual produk digital dan memperoleh akses distribusi yang lebih luas. Program ini memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak selalu identik dengan bisnis modern perkotaan, tetapi juga bisa menjadi alat pemberdayaan ekonomi rakyat kecil. Strategi tersebut membuat Bukalapak memiliki posisi unik dalam ekosistem startup Indonesia.

Pada Januari 2020, Achmad Zaky mengundurkan diri dari posisi CEO Bukalapak. Keputusan itu cukup mengejutkan dunia startup nasional. Namun dalam konferensi pers perusahaan, ia menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan diperlukan untuk membawa perusahaan berkembang lebih besar. Informasi pengunduran dirinya diberitakan secara luas, salah satunya oleh Kompas.com dalam artikel “Achmad Zaky Mundur dari CEO Bukalapak” yang dipublikasikan pada 6 Januari 2020.

Meski tidak lagi menjadi CEO, Zaky tetap aktif mendukung perkembangan ekosistem startup Indonesia melalui perusahaan modal ventura Init 6. Fokusnya bergeser dari membangun satu perusahaan menjadi membantu lebih banyak perusahaan rintisan tahap awal agar mampu bertumbuh.

Puncak perjalanan besar Bukalapak terjadi pada 6 Agustus 2021 ketika perusahaan tersebut resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BUKA. Momen itu menjadi sejarah penting karena Bukalapak menjadi unicorn teknologi pertama yang tercatat di pasar modal Indonesia. Dalam artikel Forbes berjudul “Bukalapak’s IPO Boosts Cofounders Wealth As Shares Surge To The Upper Limit” yang dipublikasikan pada 6 Agustus 2021, disebutkan bahwa penawaran saham perdana Bukalapak berhasil menghimpun sekitar 1,5 miliar dolar Amerika Serikat.

Keberhasilan IPO tersebut ikut mendongkrak kekayaan para pendirinya. Forbes mencatat kepemilikan saham Achmad Zaky membuat nilai kekayaannya mencapai sekitar 330 juta dolar Amerika Serikat atau setara lebih dari Rp4 triliun pada saat itu. Namun angka kekayaan bukan satu satunya hal penting dari perjalanan tersebut. Yang lebih besar adalah bagaimana seorang anak daerah yang pernah merasa minder di kampus mampu membangun perusahaan yang memberi akses ekonomi digital kepada jutaan pedagang kecil Indonesia.

Kisah Achmad Zaky memperlihatkan bahwa keberhasilan besar tidak selalu lahir dari latar belakang sempurna. Kadang ia tumbuh dari ruang sederhana, dari rasa canggung, dari pekerjaan kecil yang dijalani tanpa gengsi, dan dari keberanian menghadapi keterbatasan diri sendiri. Di tengah era yang sering memuja kesuksesan instan, perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa ketekunan, kemampuan belajar, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil tetap menjadi fondasi paling penting dalam membangun sesuatu yang berdampak besar bagi banyak orang.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)