Ia Menjebakku Dengan Cerita Luka

Ia Menjebakku Dengan Cerita Luka

Perwirasatu.co.id, Sabtu 20 Juni 20w6.

Malam itu hujan turun tanpa jeda, seolah menutup jalan pulang bagi siapa pun yang ingin lari dari masa lalu. Di warung kopi kecil yang hampir tutup, seorang perempuan duduk sendirian, memeluk tasnya seperti memeluk rahasia. Ketika ia mulai bercerita, aku mengira ia hanya ingin didengar. Aku salah, karena malam itu ia datang bukan untuk sembuh.

Aku pertama kali melihatnya dari balik kaca jendela warung, duduk di kursi paling ujung dekat stop kontak. Jaket gelapnya basah di bagian bahu, dan rambutnya menempel di pelipis seperti baru saja disiram hujan sepanjang jalan. Ia menatap gelas kopi yang sudah tidak beruap, seolah ada sesuatu di dalamnya yang sedang ia tunggu untuk muncul. Wajahnya tidak menangis, tetapi ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan, seperti seseorang yang sudah terlalu sering memaksa dirinya bertahan.

Aku masuk dan memilih duduk dua meja darinya, pura pura sibuk membuka ponsel agar tidak terlihat mengamati. Warung itu sepi, hanya ada suara televisi kecil yang menayangkan berita malam tanpa benar benar didengar siapa pun. Lampu kuning menggantung rendah, membuat bayangan di wajah setiap orang tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Sesekali pemilik warung menguap, lalu menyeka meja dengan kain basah, seperti ingin cepat cepat menutup tempat itu.

Perempuan itu akhirnya menoleh, matanya memindai ruangan seperti sedang memastikan tidak ada orang lain yang mengenalnya. Ia menatapku beberapa detik, lalu berdiri pelan dan menghampiri. Dengan suara yang hampir tertelan hujan, ia bertanya apakah kursi di depanku kosong. Aku mengangguk, dan ia duduk tanpa menunggu izin lebih jauh, seolah keputusan itu sudah ia siapkan sejak lama.

Namanya Rara, katanya singkat, lalu ia menarik napas panjang yang terdengar seperti seseorang baru keluar dari air. Tangannya menggenggam sendok kecil, memutarnya perlahan sampai bunyinya mengetuk gelas. Ada getaran halus di jemarinya, tetapi ia berusaha menutupinya dengan senyum tipis. Aku memperkenalkan diri dengan nama yang biasa kupakai di luar rumah, nama yang aman, nama yang tidak memancing pertanyaan.

Beberapa detik kami hanya diam, ditemani suara hujan yang memukul atap seng seperti ribuan jari mengetuk. Aku mengira ia akan bertanya sesuatu, tetapi ia justru menatap meja dan mulai bicara pelan. Ia berkata kadang seseorang bercerita bukan karena ingin solusi atau nasihat, melainkan karena ingin melepaskan beban yang sudah terlalu lama terpendam. Kalimatnya rapi, tetapi ada sesuatu yang terasa seperti latihan, seolah ia pernah mengucapkannya berkali kali di kepala sebelum malam ini.

Aku hanya mengangguk, tidak berani memotong, karena aku tahu luka orang tidak selalu suka disela. Rara melanjutkan dengan suara datar, bercerita tentang hari harinya yang terasa panjang dan berat, tentang tuntutan untuk selalu terlihat baik baik saja. Ia menyebut keluarganya yang selalu memintanya kuat, teman temannya yang hanya datang saat butuh, dan malam malam yang sering ia habiskan menatap langit langit kamar tanpa bisa tidur. Ia tidak menangis, tetapi cara ia menahan napas di tengah kalimat menunjukkan ada sesuatu yang sedang ia tekan dalam dalam.

Sesekali ia menatap wajahku, lalu cepat cepat mengalihkan pandangan, seperti takut matanya akan terbaca. Ia bertanya apakah aku pernah merasa seperti hidup hanya menjadi rutinitas yang menguras tenaga, tetapi tidak pernah memberi arah. Aku menjawab singkat bahwa setiap orang punya hari gelapnya masing masing. Jawabanku terdengar biasa, namun ia seperti puas, seolah ia sedang mengukur sesuatu dari cara aku merespons.

Rara mulai bercerita tentang masa kecilnya, tentang rumah yang terlihat hangat dari luar, tetapi dingin di dalam. Ia berkata ada kata kata yang ditanam sejak kecil, bahwa ia tidak cukup baik, tidak cukup pintar, tidak cukup pantas dicintai. Ia bercerita bagaimana ia tumbuh dengan kebiasaan meminta maaf bahkan untuk hal yang tidak ia lakukan. Ketika ia tertawa kecil, tawanya terdengar seperti retakan halus pada kaca, indah tetapi rapuh.

Aku memperhatikan pergelangan tangannya ketika ia meraih gula, dan di sana terlihat bekas garis tipis yang hampir pudar. Ia cepat cepat menurunkan lengan jaketnya, menutupinya dengan gerakan yang terlalu terlatih untuk disebut kebetulan. Ada bagian dalam diriku yang ingin bertanya, tetapi aku menahan diri, karena beberapa luka tidak butuh pertanyaan, hanya butuh ruang agar tidak dihakimi. Rara melanjutkan ceritanya seolah tidak terjadi apa apa, tetapi bahunya sedikit menegang.

Lalu ia menyebut nama itu, Dimas, dengan nada yang berubah. Seperti ada bara yang tiba tiba menyala di tenggorokannya, membuat suaranya terdengar lebih berat. Ia mengatakan Dimas adalah seseorang yang dulu ia percayai, seseorang yang pandai bicara, pandai menenangkan, dan pandai membuatnya merasa ia yang selalu salah. Ia berkata Dimas tidak memukulnya dengan tangan, tetapi memukulnya dengan kalimat, dengan ancaman, dengan manipulasi yang membuat ia meragukan dirinya sendiri.

Aku menahan ekspresi, menjaga wajah tetap datar, meski dadaku tiba tiba terasa sesak. Rara memperhatikan reaksiku, seolah mencari tanda, seolah menunggu ada sesuatu yang tergelincir dari mulutku. Ia bercerita bagaimana Dimas membuatnya merasa bersalah jika menolak, bagaimana ia dipaksa percaya bahwa cinta harus menyakitkan agar terasa nyata. Setiap kali ia menyebut nama itu, jemarinya menekan sendok lebih keras, sampai sendok itu bergetar.

Aku ingin mengatakan bahwa Dimas adalah orang jahat, tetapi aku menahan diri karena kata kata itu terlalu mudah. Rara tidak membutuhkan label, ia membutuhkan saksi, seseorang yang mendengar tanpa menertawakan atau menggurui. Ia berkata orang orang selalu menyuruhnya bersabar, seolah sabar adalah tombol yang bisa ditekan kapan saja. Ia juga berkata orang menyuruhnya ikhlas, padahal mereka tidak pernah tahu betapa sulitnya hidup dengan bayangan seseorang yang masih menghantui bahkan setelah pergi.

Warung semakin sepi, televisi dikecilkan volumenya, dan pemilik warung mematikan satu lampu di sudut. Cahaya redup membuat wajah Rara tampak lebih pucat, tetapi sorot matanya justru semakin tajam. Ia menatapku lebih lama, seperti sedang menyesuaikan sesuatu dalam ingatannya. Aku sempat merasa ia seperti mengenali bentuk wajahku, tetapi aku menepis pikiran itu dan mencoba terlihat santai.

Rara menunduk, lalu berkata pelan bahwa ia takut pulang. Ia tidak menjelaskan rumah seperti apa yang menunggunya, tetapi kalimat itu menggantung seperti ancaman. Aku bertanya apakah ia punya saudara atau teman untuk dituju, tetapi ia hanya tersenyum pahit. Ia berkata semua orang menganggapnya berlebihan, menganggap ceritanya hanya drama, dan menganggap luka batin bukan sesuatu yang nyata.

Aku mencoba menyusun kalimat yang menenangkan, namun lidahku terasa kaku. Ada banyak nasihat yang ingin keluar, tetapi aku ingat ia tidak datang untuk mencari solusi. Rara menatap jendela, memandang hujan seperti memandang pintu yang tertutup rapat. Lalu ia berkata ia sudah terlalu lama memendam, sampai dadanya terasa sesak setiap kali mengingat wajah orang yang pernah membuatnya hancur.

Ketika ia menyebut itu, matanya berkaca kaca, tetapi ia tidak membiarkan air mata jatuh. Ia berkata ada malam malam di mana ia berpikir lebih baik menghilang saja, karena hidupnya seperti tidak pernah dianggap penting. Namun ia juga berkata ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin melawan, walau ia belum tahu caranya. Kalimat itu membuatku merasa ada sesuatu yang sedang ia siapkan, sesuatu yang tidak sekadar curhat biasa.

Ia membuka tasnya perlahan, tangannya bergerak hati hati seperti sedang mengambil barang berharga. Dari dalam tas, ia mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi dan sebuah pena kecil. Ia meletakkan kertas itu di meja, lalu menatapku seperti seseorang yang ingin memastikan aku melihatnya. Aku merasakan udara di sekitar kami berubah, lebih berat, lebih dingin, seolah hujan ikut masuk ke dalam ruangan.

Rara mendorong kertas itu ke arahku tanpa berkata apa apa. Aku membuka lipatannya, dan mataku langsung tertumbuk pada tulisan tangan yang rapi tetapi penuh tekanan. Di sana tertulis tanggal, nama, lokasi, dan rangkaian kalimat yang terdengar seperti kronologi kejadian. Ada bagian yang menjelaskan apa yang dilakukan Dimas, bagaimana ia memanipulasi, mengancam, dan menghancurkan rasa percaya diri seseorang hingga menjadi puing.

Aku menelan ludah, mencoba menjaga tangan agar tidak bergetar. Rara mengamatiku dengan tatapan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang terluka. Ia berkata pelan bahwa kertas itu bukan surat putus asa, melainkan bukti, sesuatu yang selama ini ia takut tulis karena takut dianggap mengada ada. Ia berkata selama bertahun tahun ia diam, tetapi diam ternyata membuat pelaku semakin berani.

Aku mencoba bertanya kenapa ia menunjukkan ini padaku, namun suaraku nyaris tidak keluar. Rara menjawab bahwa ia hanya butuh satu orang yang mendengar dan percaya. Ia berkata orang sering menuntut korban untuk bercerita, tetapi saat korban bercerita, mereka justru menyuruhnya melupakan. Kalimat itu terdengar sederhana, namun mengandung kemarahan yang dipendam sangat lama.

Aku menatap kembali kertas itu, lalu menemukan bagian yang membuat napasku tersendat. Di sana tertulis ciri ciri pelaku, termasuk bekas luka kecil di dagu kanan dan kebiasaan memainkan sendok saat gugup. Tanpa sadar aku menyentuh daguku, dan Rara langsung memperhatikan gerakan itu. Matanya menyipit sedikit, bukan karena ragu, tetapi karena yakin.

Aku mencoba tersenyum, berusaha menutup kegelisahan, tetapi bibirku terasa kering. Rara menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menarik ponselnya dan meletakkannya di atas meja dengan layar menghadap ke bawah. Ia berkata pelan bahwa ia sudah lama membayangkan momen ini, membayangkan jika suatu hari ia bisa duduk tenang di depan orang yang pernah membuatnya hancur. Suaranya lembut, tetapi kelembutannya terasa seperti pisau yang diasah.

Aku ingin berdiri, ingin pergi, namun aku memaksa diri tetap duduk. Rara berkata ia sengaja memilih warung ini karena ada kamera CCTV di sudut, dan pemilik warung mengenalnya. Ia juga berkata hujan membuat orang jarang lewat, sehingga suara di dalam warung lebih jelas terekam. Aku menatap sekeliling, dan untuk pertama kalinya aku melihat kamera kecil di pojok ruangan, lampunya berkedip pelan.

Aku mencoba berkata bahwa ia salah orang, bahwa aku bukan Dimas, tetapi suaraku terdengar rapuh bahkan di telingaku sendiri. Rara tidak membantah, ia hanya tersenyum kecil, lalu membuka aplikasi perekam suara di ponselnya. Ia berkata ia tidak butuh pengakuan keras, ia hanya butuh reaksi, getaran takut, kebiasaan lama yang muncul saat seseorang terpojok. Ia berkata kadang pelaku tidak sadar bahwa tubuhnya sendiri adalah saksi.

Pemilik warung mendekat, membawa struk dan berdiri tidak jauh dari meja kami. Ia pura pura merapikan kursi, tetapi matanya sesekali menatapku dengan tajam. Rara berkata pelan bahwa ia sudah melapor sejak sore, dan polisi hanya menunggu bukti tambahan. Ia berkata ia ingin memastikan orang itu benar benar ada di hadapannya, agar ia tidak lagi hidup dalam ketakutan dan bayangan.

Aku merasa darahku turun ke kaki, membuat tubuhku lemas. Hujan di luar terdengar semakin keras, tetapi yang lebih keras adalah detak jantungku sendiri. Aku mencoba tertawa, mencoba berkata bahwa ini lelucon, namun tawaku terdengar palsu. Rara menatapku lama, lalu berkata dengan suara yang sangat tenang bahwa ia mengingat wajah itu setiap malam, bahkan saat ia menutup mata.

Aku berdiri tiba tiba, kursiku bergeser dan menimbulkan suara kasar di lantai. Pemilik warung langsung bergerak mendekat, dan dari balik pintu terdengar langkah kaki lebih dari satu orang. Rara tidak panik, ia justru menatapku seperti seseorang yang akhirnya selesai menunggu. Aku ingin lari, tetapi kakiku terasa berat, dan pintu warung seperti mendadak menjadi sangat jauh.

Rara mengambil kembali kertas itu, lalu melipatnya dengan rapi seolah menutup bab lama. Ia menatapku sekali lagi, lalu berkata bahwa malam ini ia tidak datang untuk menangis. Ia datang untuk memastikan dirinya tidak lagi menjadi korban yang diam. Suaranya lembut, tetapi di dalam kelembutan itu ada keberanian yang selama ini ia sembunyikan.

Pintu warung terbuka, dan dua orang pria masuk, salah satunya mengenakan jaket gelap dengan tanda kecil di dada. Mereka mendekat tanpa terburu buru, namun langkah mereka tegas seperti orang yang sudah tahu apa yang dicari. Aku mematung, tidak mampu lagi menyusun alasan. Rara berdiri perlahan, menatap mereka, lalu mengangguk kecil seolah memberi isyarat bahwa semua sudah sesuai rencana.

Saat borgol dingin menutup pergelangan tanganku, aku baru sadar bahwa sepanjang malam aku bukan pendengar, melainkan target. Rara menatapku tanpa kebencian, hanya dengan tatapan lega yang sulit dijelaskan. Ia berkata pelan bahwa ia tidak butuh orang yang memberi nasihat, ia hanya butuh keberanian untuk bercerita pada tempat yang tepat. Dan malam itu aku mengerti, ternyata ia tidak sedang meminta didengar, ia sedang memastikan aku tidak bisa lagi bersembunyi.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)