Lipstick Senja Dari Meja JendelaCerpen

Lipstick Senja Dari Meja Jendela Keterangan Gambar : Wajahnya tampak cantik dengan riasan sederhana yang sangat rapi. Lipstick matte berwarna cokelat lembut di bibirnya terlihat begitu serasi dengan kulit wajahnya yang terang. Namun kecantikan itu seperti tertutup oleh sorot mata lelah yang sulit disembunyikan. Ia tidak benar benar murung, hanya terlihat seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu sendirian.


Perwirasatu.co.id, Sabtu 11 Juli 2026

Siang itu langit tampak pucat di atas kota yang sibuk. Restoran kecil di tepi jalan mulai dipenuhi pekerja kantor yang datang bergantian untuk makan siang. Bunyi sendok beradu dengan piring bercampur aroma kopi dan sup hangat yang mengepul dari dapur belakang. Di tengah keramaian yang terasa biasa itu, mataku justru tertuju pada seorang pramusaji perempuan yang berjalan pelan sambil membawa buku catatan pesanan.

Wajahnya tampak cantik dengan riasan sederhana yang sangat rapi. Lipstick matte berwarna cokelat lembut di bibirnya terlihat begitu serasi dengan kulit wajahnya yang terang. Namun kecantikan itu seperti tertutup oleh sorot mata lelah yang sulit disembunyikan. Ia tidak benar benar murung, hanya terlihat seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu sendirian.

Ketika sampai di mejaku, ia mencatat pesanan dengan gerakan cepat dan suara datar. Sesekali ia merapikan apron hitam di pinggangnya sambil menghindari tatapan pelanggan. Ada jeda pendek setiap kali ia berbicara, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain. Aku memesan makanan sambil memperhatikan bagaimana senyum kecil di wajahnya muncul lalu hilang begitu cepat.

Setelah semua pesanan selesai dicatat, aku memberanikan diri bertanya sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana. “Mbak, lipstick kamu bagus. Matte ya?” kataku sambil tersenyum kecil. Perempuan itu tampak sedikit terkejut, lalu tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari. Untuk pertama kalinya sejak datang ke mejaku, matanya terlihat lebih hidup.

“Iya, Kak. Ini MAC,” jawabnya pelan.

“Cocok banget warnanya. Shade nomor berapa?” tanyaku lagi.

Ia tertawa kecil sambil berpikir sejenak. “Aku lupa nomor shadenya, Kak. Nanti kalau Kakak ke sini lagi, aku kasih tahu.” Kalimat itu diucapkannya dengan nada ringan yang membuat wajahnya tampak jauh lebih hangat dibanding beberapa menit sebelumnya. Senyum tipis mulai menetap di bibirnya sebelum ia pergi menuju dapur.

Aku memperhatikannya dari jauh sambil menunggu pesanan datang. Langkah perempuan itu kini tidak lagi seberat tadi. Saat melewati meja pelanggan lain, ia mulai menyapa dengan lebih ramah dan sesekali tersenyum kecil. Perubahan sederhana itu terasa aneh sekaligus menyenangkan untuk dilihat.

Tak lama kemudian, ia kembali membawa makananku. Uap hangat dari semangkuk sup naik perlahan di antara kami. Ia meletakkan pesanan dengan hati hati sambil mengucapkan selamat makan dengan suara yang jauh lebih cerah. Aku hanya mengangguk kecil sambil merasa bahwa pujian sederhana kadang memang mampu mengubah suasana hati seseorang.

Beberapa meja dari tempat dudukku, seorang lelaki tua duduk sendirian dekat jendela restoran. Rambutnya putih seluruhnya dan tangannya tampak gemetar saat memegang gelas teh hangat. Ia mengenakan kemeja abu abu yang sedikit kusut, namun sorot matanya terlihat tenang. Sedari tadi, lelaki itu beberapa kali memandang ke arah pramusaji perempuan tadi dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Saat perempuan itu melintas di dekatnya, lelaki tua tersebut memanggil pelan. Aku tidak mendengar jelas apa yang ia katakan karena suara pengunjung lain terlalu ramai. Namun aku melihat perempuan itu mendadak berhenti dan menatap lelaki tersebut cukup lama. Wajahnya berubah tegang, lalu perlahan matanya mulai memerah seperti sedang menahan tangis.

Lelaki tua itu mengatakan sesuatu sambil tersenyum tipis. Perempuan itu mengangguk beberapa kali sebelum buru buru berjalan menuju belakang restoran. Langkahnya cepat, tetapi bahunya tampak bergetar kecil. Entah mengapa suasana di dalam restoran tiba tiba terasa lebih sunyi di telingaku.

Ketika ia kembali beberapa menit kemudian sambil membawa minuman tambahan untuk mejaku, matanya masih terlihat basah. Meski begitu, ia tetap berusaha tersenyum seperti tidak terjadi apa apa. Aku sempat ragu untuk bertanya, tetapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan semuanya. “Mbak, nggak apa apa?” tanyaku hati hati.

Perempuan itu diam beberapa saat sambil menunduk. Jemarinya sibuk merapikan ujung nota pembayaran yang sedari tadi diremas perlahan. Setelah memastikan tidak ada pelanggan lain yang memanggil, ia duduk sebentar di kursi kosong di depanku. Tatapannya mengarah ke meja dekat jendela tempat lelaki tua tadi duduk.

“Itu ayah saya,” katanya lirih.

Aku menoleh kembali ke arah lelaki tua tersebut. Kini ia sedang memandangi hujan tipis yang mulai turun di luar kaca restoran. Bentuk mata mereka memang mirip, tetapi ada sesuatu yang membuat hubungan keduanya terasa aneh. Mereka tampak dekat, namun seperti dipisahkan oleh jarak yang tidak terlihat.

Perempuan itu menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. Ia mengatakan bahwa ayahnya pernah mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu yang membuat ingatannya sering hilang timbul. Ada hari ketika ayahnya mengenalinya sebagai anak sendiri, tetapi ada juga hari ketika ia dianggap orang asing. Kadang ayahnya bahkan memanggil namanya dengan nama ibunya yang sudah meninggal lebih dulu.

“Sejak pagi tadi Ayah nggak mengenali saya,” ucapnya pelan. “Beliau datang lagi ke sini karena lupa jalan pulang.”

Aku mendengarkan tanpa menyela. Perempuan itu lalu bercerita bahwa sebenarnya ia pernah kuliah di jurusan tata rias dan bercita cita membuka studio make up kecil. Ia sangat menyukai dunia kecantikan dan terbiasa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk mencoba warna lipstick baru. Namun semuanya berubah setelah kecelakaan ayahnya membuat keadaan ekonomi keluarga runtuh perlahan.

Ia berhenti kuliah demi bekerja dan merawat ayahnya. Semua perlengkapan make up yang dulu dikumpulkannya sedikit demi sedikit dijual untuk biaya pengobatan. Bahkan beberapa mimpi yang dulu terasa dekat kini seperti tinggal kenangan yang dipaksa dilupakan. Meski begitu, ia masih memakai lipstick setiap bekerja karena merasa itu satu satunya bagian dari dirinya yang belum benar benar hilang.

“Makanya saya senang waktu Kakak bilang lipstick saya bagus,” katanya sambil tersenyum kecil. “Sudah lama nggak ada yang ngomong begitu.”

Aku tidak langsung menjawab. Ada rasa tidak enak karena tadi sempat mengira ia hanya pramusaji yang tidak ramah. Padahal sejak pagi mungkin ia sedang menahan lelah yang jauh lebih berat daripada yang terlihat oleh siapa pun di restoran itu.

Tak lama kemudian, seorang pegawai lain memanggilnya dari dapur. Ia buru buru berdiri sambil meminta maaf karena terlalu lama mengobrol denganku. Sebelum pergi, ia sempat merapikan rambutnya dan tersenyum tipis. Senyum itu terlihat kecil, tetapi kali ini terasa lebih tulus.

Waktu berjalan perlahan menuju sore. Restoran semakin ramai dan suara hujan di luar mulai terdengar lebih deras. Aku menyelesaikan makan sambil sesekali melihat ke arah meja dekat jendela. Namun beberapa menit kemudian, aku sadar lelaki tua tadi sudah tidak ada di tempatnya.

Kursi dekat jendela itu kosong. Gelas teh hangatnya masih tersisa setengah dengan uap tipis yang belum benar benar hilang. Serbet putih di atas meja tampak sedikit berantakan seperti baru saja disentuh seseorang. Anehnya, tidak ada satu pun pegawai restoran yang tampak memperhatikan kepergiannya.

Saat perempuan pramusaji itu datang membawa nota pembayaran, aku langsung bertanya tentang ayahnya. “Mbak, ayahnya ke mana?” tanyaku sambil menunjuk meja dekat jendela.

Perempuan itu terlihat bingung. “Ayah?” ulangnya pelan.

“Iya, yang tadi duduk dekat jendela.”

Wajahnya perlahan berubah pucat. Tatapannya mengikuti arah jariku menuju meja kosong di dekat kaca restoran. Tangan yang memegang nota mendadak gemetar kecil hingga beberapa lembar kertas jatuh ke lantai.

“Kak…” suaranya mengecil. “Ayah saya sudah meninggal tiga tahun lalu.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Aku kembali menoleh ke arah meja dekat jendela. Gelas teh itu masih ada di sana bersama bekas uap yang perlahan memudar. Kursinya sedikit bergeser seperti baru saja ditarik seseorang. Hujan di luar kaca terdengar semakin keras, sementara seluruh tubuhku terasa kaku.

Perempuan itu berjalan perlahan mendekati meja tersebut. Matanya tidak berkedip sedikit pun saat memandang kursi kosong di depannya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sesuatu yang tergeletak di bawah gelas teh hangat itu.

Sebuah lipstick matte berwarna cokelat lembut.

Perempuan itu membuka tutup lipstick tersebut perlahan. Air matanya jatuh tanpa suara ketika membaca tulisan kecil yang mulai pudar di bagian bawahnya. Ia menggenggam benda itu erat seolah sedang memegang kenangan yang lama hilang.

Shade favorit Mama.

Perempuan itu menutup wajahnya sambil menangis pelan. Aku hanya bisa diam mematung di kursi sementara hujan terus mengguyur jalanan di luar restoran. Untuk beberapa saat, dunia terasa begitu sunyi meski suara orang orang masih memenuhi ruangan.

Dan saat itulah aku akhirnya sadar bahwa senyum perempuan tadi bukan hanya muncul karena pujianku tentang lipstick.

Melainkan karena seseorang yang telah lama pergi sempat datang kembali hanya untuk memastikan putrinya masih mampu bertahan hidup.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)