Keterangan Gambar : Lisan adalah amanah yang paling sering dipakai namun paling jarang disadari dampaknya. Dari lisan lahir pahala atau dosa, kemuliaan atau kehinaan. Banyak manusia tergelincir bukan karena langkah kakinya, melainkan karena ucapannya
Perwirasatu.co.id - 04 Januari 2026.
Lisan adalah amanah yang paling sering dipakai namun paling jarang disadari dampaknya. Dari lisan lahir pahala atau dosa, kemuliaan atau kehinaan. Banyak manusia tergelincir bukan karena langkah kakinya, melainkan karena ucapan yang dianggap remeh. Padahal, lisan menentukan kualitas iman, keselamatan sosial, dan bahkan penutup hidup seseorang di hadapan Allah Ta’ala.
Lisan bukan sekadar alat bicara, melainkan cermin hati. Apa yang keluar dari mulut manusia sejatinya memantulkan isi batin dan kualitas takwanya. Karena itu para ulama salaf memberi perhatian luar biasa terhadap penjagaan lisan. Ibnu Jauzi rahimahullah menegaskan bahwa menjaga lisan di dunia akan berbuah kemampuan mengucapkan syahadat saat wafat, sementara meremehkannya dapat berakhir dengan su’ul khatimah. Nasihat ini bukan ancaman kosong, melainkan peringatan berbasis wahyu dan pengalaman spiritual para ulama.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18).
Ayat ini menanamkan kesadaran bahwa setiap ucapan, sekecil apa pun, tidak pernah lepas dari pengawasan Allah. Lisan yang dibiarkan liar tanpa kendali berarti membuka pintu hisab yang berat di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya diyakini dalam hati, tetapi dibuktikan melalui kontrol lisan. Diam yang terjaga sering kali lebih bernilai daripada bicara yang melukai.
Ibnu Jauzi rahimahullah berkata dalam Bahrud Dumu’: “Barangsiapa menjaga lisannya di dunia karena Allah Ta’ala, maka Allah akan memberinya kemampuan mengucapkan syahadat ketika ia wafat dan bertemu dengan-Nya. Dan barangsiapa membiarkan lisannya mencela kehormatan kaum muslimin serta mengikuti aib-aib mereka, maka Allah akan menahan lisannya dari mengucapkan syahadat ketika ia wafat.” Pernyataan ini mengguncang kesadaran, sebab akhir kehidupan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan lisan sepanjang hidup.
Allah Ta’ala juga memperingatkan tentang bahaya merendahkan dan mencela sesama muslim:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa meremehkan manusia lain dengan lisan adalah bentuk kezaliman sosial yang merusak ukhuwah dan mengundang murka Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang ghibah:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.”
(HR. Muslim).
Ghibah sering dianggap ringan, padahal ia termasuk dosa lisan yang paling merusak pahala.
Menjaga lisan bukan berarti membungkam kebenaran, tetapi menimbang ucapan dengan hikmah dan niat yang lurus. Lisan yang dipenuhi dzikir akan melembutkan hati, sementara lisan yang terbiasa mencela akan mengeraskannya. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”
(QS. Al-Ahzab: 41).
Pada akhirnya, lisan adalah saksi perjalanan hidup. Ia bisa menjadi sebab keselamatan atau sumber penyesalan abadi. Orang yang melatih lisannya untuk jujur, lembut, dan penuh dzikir sedang menyiapkan akhir yang tenang. Sebaliknya, siapa yang meremehkan dosa lisan sedang mempertaruhkan detik-detik terakhir hidupnya. Maka, sebelum datang saat di mana mulut terkunci selamanya, latihlah lisan untuk selalu tunduk kepada Allah Ta’ala, agar ia ringan mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat.
( Red )
Tulis Komentar