Mengendalikan Angkara Lewat Kearifan Tembang
Perwirasatu.co.id-Tembang dolanan Jawa sering dipandang sekadar lagu pengantar bermain anak. Padahal, di balik lirik sederhana itu tersembunyi ajaran etika yang dalam. Butho Butho Galak menjadi contoh bagaimana budaya lokal merumuskan kritik atas angkara murka secara halus, relevan dengan nilai pengendalian diri yang juga diajarkan agama dan tradisi moral universal.
Tembang dolanan Jawa merupakan bagian dari tradisi lisan yang telah hidup turun temurun dalam masyarakat. Lagu lagu ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter bagi anak anak. Melalui irama sederhana dan lirik simbolik, tembang dolanan menanamkan nilai sosial, etika, dan pengendalian diri sejak usia dini. Media Detik.com dalam artikelnya pada 18 September 2022 menegaskan bahwa tembang dolanan mengandung pesan moral seperti kebersamaan, kedisiplinan, dan pengenalan batas perilaku.
Dalam tembang Butho Butho Galak, sosok buto atau raksasa diposisikan sebagai simbol perilaku manusia yang dikuasai amarah dan nafsu. Karakter galak dan gerak yang lincah menggambarkan sifat impulsif yang sulit dikendalikan. Pesan ini tidak ditujukan sebagai kecaman personal, melainkan kritik sosial yang bersifat kolektif. Universitas Negeri Yogyakarta dalam kajian seni budaya yang dipublikasikan pada 10 November 2021 menjelaskan bahwa simbol tokoh dalam tembang dolanan berfungsi sebagai cermin perilaku sosial masyarakat.
Makna lirik solahmu lunjak lunjak menandai perilaku tergesa gesa, tidak tenang, dan reaktif. Dalam budaya Jawa, sikap seperti ini dipandang sebagai tanda ketidakseimbangan batin. Masyarakat Jawa menjunjung tata krama, keteduhan rasa, serta keselarasan antara pikiran dan tindakan. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dalam publikasi 7 Juli 2023 menyebut tembang dolanan sebagai alat komunikasi etis yang efektif karena kritik disampaikan secara simbolik dan musikal.
Secara filosofis, figur buto merepresentasikan angkara murka, yakni sisi gelap manusia ketika akal dan nurani kehilangan kendali. Konsep ini sejalan dengan falsafah Jawa ngeli nanging ora keli, yaitu kemampuan menyesuaikan diri tanpa larut dalam keburukan. Anak anak dikenalkan batas emosi dan perilaku sejak dini agar tidak tumbuh menjadi pribadi yang dikuasai ledakan perasaan sesaat. Hal ini ditegaskan dalam kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Tengah yang dipublikasikan pada 15 Maret 2019.
Pesan tembang ini memiliki resonansi kuat dengan ajaran Islam, khususnya dalam Surah Ali Imran ayat 134 yang menekankan keutamaan menahan amarah dan memaafkan. Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan akhlak terletak pada kemampuan mengelola emosi, bukan meluapkannya. NU Online dalam artikel tafsir tematik yang dipublikasikan pada 22 April 2022 menjelaskan bahwa menahan marah bukan berarti memendam dendam, melainkan menguasai diri secara sadar dan bermartabat.
Jika dibaca secara berdampingan, tembang Butho Butho Galak dan ajaran Al Quran menunjukkan dialog harmonis antara budaya lokal dan nilai religius. Keduanya menolak perilaku reaktif dan mengajarkan pengendalian diri sebagai fondasi etika sosial. Republika dalam laporan kebudayaan pada 9 September 2020 menegaskan bahwa tradisi lokal Nusantara banyak memuat nilai yang sejalan dengan prinsip moral agama.
Dalam konteks kekinian, pesan ini semakin relevan. Media sosial, polarisasi politik, dan tekanan ekonomi kerap memicu kemarahan kolektif dan reaksi impulsif. Fenomena amarah digital dan ujaran kebencian mencerminkan hadirnya buto baru dalam kehidupan modern. Majalah Tempo dalam laporan reflektifnya pada 14 Januari 2023 menilai krisis etika digital bersumber dari lemahnya pengendalian emosi publik.
Pendidikan karakter hari ini sering dibebani istilah teknokratis dan pendekatan formal. Padahal, kearifan lokal telah lama menyediakan perangkat etis yang efektif dan membumi. Menghidupkan kembali tembang dolanan bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi kebudayaan untuk menanamkan kesabaran, empati, dan kendali diri sejak dini. Kompas.id dalam laporan pendidikan budaya pada 27 Juni 2021 menekankan pentingnya integrasi tradisi lokal dalam pendidikan karakter.
Pada akhirnya, Butho Butho Galak mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah sosok di luar dirinya, melainkan angkara dalam batin sendiri. Baik melalui tembang Jawa maupun ayat suci Al Quran, pesan yang disampaikan sama bahwa kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya menahan amarah, mengolah nafsu, dan memilih jalan kebaikan secara sadar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam rilis kebudayaan 3 Februari 2020 menegaskan bahwa nilai pengendalian diri merupakan inti pembentukan karakter bangsa.
(Dwi Taufan Hidayat)
Tulis Komentar