Menjadi Teladan Dalam Kebaikan
Keterangan Gambar : Di tengah hiruk pikuk kehidupan, sering kali lisan kita begitu ringan menyeru kebaikan, namun langkah kaki enggan mengikuti. Kita mengajak orang lain menuju cahaya, tetapi diri sendiri justru tertatih di lorong gelap.
Perwirasatu.co.id - Minggu 5 April 2026. Di tengah hiruk pikuk kehidupan, sering kali lisan kita begitu ringan menyeru kebaikan, namun langkah kaki enggan mengikuti. Kita mengajak orang lain menuju cahaya, tetapi diri sendiri justru tertatih di lorong gelap. Padahal, dalam ajaran Islam, keteladanan bukan sekadar pelengkap dakwah, melainkan ruh yang menghidupkannya dan menentukan diterima atau tidaknya amal tersebut.
Dalam khazanah hikmah para ulama, kita menemukan nasihat yang begitu tajam dari Al-Hasan al-Basri rahimahullah:
إذا كنت آمرًا بالمعروف فكن من آخذ الناس به وإلا هلكت، وإذا كنت ممن ينهى عن المنكر فكن من أنكر الناس له وإلا هلكت.
“Jika kamu memerintahkan kepada kebaikan maka jadilah manusia yang paling mengamalkannya, bila tidak niscaya kamu binasa. Jika kamu termasuk orang yang mencegah dari kemungkaran, maka jadilah manusia yang paling mengingkarinya, bila tidak niscaya kamu binasa.”
Nasihat ini bukan sekadar peringatan, tetapi cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Betapa sering kita menjadi penyeru tanpa amal, menjadi pengingat tanpa kesadaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dengan sangat tegas dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)
Ayat ini mengguncang hati siapa pun yang masih memiliki nurani. Ia tidak hanya menegur, tetapi juga memperingatkan bahwa ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai ironi: seseorang begitu lantang berbicara tentang kejujuran, tetapi lisannya sendiri dipenuhi dusta; seseorang mengajak kepada kesederhanaan, namun hidupnya tenggelam dalam kemewahan yang berlebihan. Padahal, dakwah yang paling kuat bukanlah kata-kata, melainkan keteladanan.
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah contoh sempurna dalam hal ini. Beliau tidak hanya memerintahkan kebaikan, tetapi menjadi orang pertama yang melaksanakannya, dan tidak hanya melarang keburukan, tetapi menjadi orang yang paling jauh darinya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ، كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ وَيَحْرِقُ نَفْسَهُ
“Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya sendiri adalah seperti lampu yang menerangi manusia tetapi membakar dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabrani)
Betapa dalam makna hadis ini. Ia menggambarkan betapa sia-sianya ilmu dan seruan jika tidak diiringi dengan pengamalan. Bahkan, bukan hanya sia-sia, tetapi bisa menjadi sebab kebinasaan.
Lebih menggetarkan lagi adalah hadis tentang orang yang diseret ke dalam neraka karena lisannya sendiri:
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِالرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ
“Didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. Maka terburailah isi perutnya, lalu ia berputar-putar seperti keledai yang berputar pada penggilingan. Penduduk neraka berkumpul kepadanya dan berkata: ‘Wahai fulan, bukankah dahulu engkau menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab: ‘Aku dahulu menyuruh kepada kebaikan tetapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang dari kemungkaran tetapi aku melakukannya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar kisah, tetapi peringatan keras agar kita tidak terjebak dalam kemunafikan amal.
Menjadi yang terdepan dalam kebaikan bukan berarti harus sempurna tanpa dosa, tetapi memiliki kesungguhan untuk selalu memperbaiki diri sebelum mengajak orang lain. Dakwah yang paling jujur adalah dakwah yang dimulai dari diri sendiri. Ketika kita berusaha shalat tepat waktu, jujur dalam transaksi, menjaga lisan, dan menahan amarah, di situlah dakwah hidup tanpa suara.
Maka, mari kita renungkan: sebelum kita menasihati orang lain tentang sabar, sudahkah kita bersabar? Sebelum kita menyeru kepada keikhlasan, sudahkah kita membersihkan niat kita? Sebelum kita mengingatkan tentang akhirat, sudahkah hati kita benar-benar mengingatnya?
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi melihat siapa kita sebenarnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur dalam ucapan dan lurus dalam perbuatan, yang menjadikan amal sebagai bukti dari setiap nasihat, dan menjauhkan kita dari kehinaan akibat berkata tanpa berbuat. Aamiin.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar