Menjaga Ikhlas Di Tengah Sorotan

Menjaga Ikhlas Di Tengah Sorotan

Perwirasatu.co.id, Selasa 30 Juni 2026

Dalam perjalanan hidup, ada kalanya seseorang melakukan amal saleh dengan tulus karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, namun tanpa diduga amal tersebut diketahui banyak orang. Ia dipuji, dihormati, bahkan menjadi inspirasi bagi orang lain. Sebagian orang kemudian merasa takut, khawatir amalnya berubah menjadi riya. Padahal tidak semua hal yang terlihat manusia otomatis menjadi riya. Islam mengajarkan bahwa ukuran utama riya bukanlah terlihat atau tidak terlihatnya amal, melainkan niat yang bersemayam di dalam hati.

Riya merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia dapat merusak pahala amal dan menjadikan seseorang lebih mengharapkan penilaian manusia daripada ridha Allah. Karena itu setiap muslim wajib memahami hakikat riya agar tidak terjebak ke dalamnya. Namun di sisi lain, seorang muslim juga tidak boleh berlebihan dalam menuduh dirinya riya pada perkara yang sebenarnya tidak termasuk riya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis agung ini menjadi landasan bahwa nilai suatu amal sangat ditentukan oleh niat yang tersembunyi di dalam hati. Jika seseorang beramal karena Allah lalu kemudian diketahui manusia, maka yang menjadi ukuran bukan pengetahuan manusia terhadap amal tersebut, melainkan tujuan awal ketika amal itu dilakukan.

Pertama, mendapatkan pujian dari manusia bukan berarti riya. Banyak orang yang bersedekah, berdakwah, membantu sesama, atau melakukan amal kebaikan lainnya dengan niat ikhlas. Setelah itu orang-orang memuji dan menghormatinya. Selama pujian tersebut tidak menjadi tujuan utama ketika beramal, maka hal itu bukan riya.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan amal kebaikan lalu dipuji manusia. Beliau bersabda:

تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ

"Itulah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pujian yang datang tanpa dicari dan tanpa menjadi tujuan bukanlah riya. Bahkan bisa menjadi kabar gembira dari Allah bagi seorang hamba yang diterima amalnya.

Kedua, menjadi terkenal atau viral tanpa mencarinya juga bukan riya. Di zaman media sosial, tidak sedikit orang yang melakukan kebaikan lalu videonya tersebar luas. Namanya dikenal banyak orang, ceramahnya didengar jutaan manusia, atau amal sosialnya menjadi perhatian masyarakat. Jika semua itu terjadi tanpa niat mencari popularitas, maka tidak dapat langsung dihukumi sebagai riya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya." (QS. Adh-Dhuha: 11)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa menampakkan nikmat Allah dalam batas yang benar bukanlah kesombongan atau riya. Yang tercela adalah ketika ketenaran dijadikan tujuan dan sarana untuk mendapatkan sanjungan manusia.

Ketiga, semangat beribadah karena adanya kompetitor dalam kebaikan juga bukan riya. Ketika melihat saudara muslim rajin membaca Al-Qur'an, giat bersedekah, atau tekun menghadiri majelis ilmu, lalu kita termotivasi untuk meningkatkan amal, maka itu termasuk perlombaan dalam kebaikan yang diperintahkan syariat.

Allah berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

"Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan." (QS. Al-Baqarah: 148)

Ayat ini menunjukkan bahwa semangat meningkatkan kualitas ibadah karena melihat orang lain berbuat baik bukanlah riya. Justru itulah salah satu bentuk fastabiqul khairat yang dianjurkan dalam Islam. Yang salah adalah jika seseorang beribadah hanya agar dianggap lebih baik daripada orang lain.

Keempat, memakai pakaian yang bagus ketika pergi ke masjid atau menghadap Allah juga bukan riya. Sebagian orang merasa bersalah ketika mengenakan pakaian terbaik saat shalat Jumat, menghadiri pengajian, atau hari raya. Padahal Allah menyukai hamba-Nya yang menjaga kebersihan dan kerapian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

"Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid." (QS. Al-A'raf: 31)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

"Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan." (HR. Muslim)

Karena itu memakai pakaian yang bersih, rapi, dan baik ketika beribadah merupakan bagian dari adab kepada Allah, bukan otomatis termasuk riya.

Kelima, menutupi dosa bukanlah kemunafikan dan bukan pula riya. Ada sebagian orang yang mengira bahwa jika ia menyembunyikan dosa-dosanya sementara orang lain melihat dirinya sebagai orang baik, maka itu termasuk riya. Padahal Islam justru memerintahkan agar dosa yang telah dilakukan tidak diumbar kepada manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

"Semua umatku akan mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menutupi dosa merupakan bentuk menjaga kehormatan diri dan kesempatan untuk bertaubat. Yang penting adalah terus memperbaiki diri di hadapan Allah, bukan menceritakan aib kepada manusia.

Hakikat ikhlas adalah ketika seorang hamba tetap beramal baik saat dipuji maupun dicela, saat dilihat maupun tidak dilihat, saat dikenal maupun tidak dikenal. Ia tidak menggantungkan nilai dirinya pada pandangan manusia, karena ia sadar bahwa penilaian manusia dapat berubah setiap waktu, sedangkan penilaian Allah tidak pernah salah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ


"Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5)

Karena itu, jangan mudah menuduh diri sendiri riya hanya karena mendapatkan pujian, dikenal banyak orang, termotivasi oleh orang saleh, memakai pakaian terbaik saat beribadah, atau berusaha menutupi dosa yang pernah dilakukan. Yang harus selalu dijaga adalah niat di dalam hati. Selama tujuan utama kita adalah mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka teruslah melangkah dalam kebaikan.

Jika amal itu terlihat manusia, jangan jadikan itu tujuan. Jika amal itu terdengar manusia, jangan jadikan itu harapan. Sebab yang paling penting bukanlah siapa yang melihat kita di dunia, melainkan bagaimana Allah melihat hati kita. Semoga setiap langkah kebaikan yang tampak di hadapan manusia tetap tercatat sebagai amal ikhlas yang bernilai besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan semoga setiap amal yang tersembunyi menjadi cahaya yang menerangi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)