Menyambut Umur Kedua Dengan Iman
Perwirasatu.co.id, Senin 08 Juni 2026.
Sakaratul maut adalah kepastian yang tak pernah gagal menghampiri manusia. Setiap detik umur yang berjalan sesungguhnya sedang membawa kita menuju alam kedua, alam yang kekal dan tak lagi memberi kesempatan untuk kembali memperbaiki amal. Karena itu, hidup bukan sekadar mengejar dunia, melainkan mempersiapkan bekal terbaik agar ketika kematian datang, hati tetap tenang, lisan tetap menyebut nama Allah, dan ruh pulang dalam keadaan diridhai-Nya.
Kematian sering terasa jauh bagi manusia yang masih sehat, masih kuat berjalan, masih mampu tertawa, dan masih sibuk mengumpulkan keinginan dunia. Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Bisa jadi seseorang tidur malam dengan penuh rencana, tetapi esok pagi namanya telah diumumkan sebagai jenazah. Ada yang masih muda namun dipanggil lebih dahulu, ada yang kaya namun tak mampu membeli tambahan waktu walau hanya satu detik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Kullu nafsin dzā`iqatul maut, wa innamā tuwaffauna ujūrakum yaumal qiyāmah.”
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pahala kalian disempurnakan pada hari kiamat.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungi dalam-dalam. Dunia hanyalah tempat singgah yang sementara. Rumah megah akan ditinggalkan, kendaraan mewah akan diwariskan, jabatan akan dilupakan, bahkan tubuh yang sangat dijaga akhirnya akan dimasukkan ke liang kubur yang sempit. Yang tersisa hanyalah amal.
Karena itu pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah berapa banyak harta yang kita punya, tetapi apa yang telah kita persiapkan untuk menyambut sakaratul maut. Sudahkah lisan terbiasa berdzikir? Sudahkah mata dijaga dari maksiat? Sudahkah tangan dipakai membantu sesama? Sudahkah hati bersih dari dengki dan kesombongan?
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Aktsirū dzikra hādzimil laddzāt.”
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, tetapi agar manusia sadar bahwa hidup memiliki batas. Orang yang sering mengingat kematian akan lebih hati-hati dalam berbicara, lebih lembut kepada keluarga, lebih mudah meminta maaf, dan tidak terlalu rakus mengejar dunia.
Sakaratul maut adalah saat paling berat dalam perjalanan manusia. Pada detik-detik itu, seluruh kekuatan akan melemah. Lidah bisa kelu, mata memandang kosong, dan tubuh perlahan kehilangan daya. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ yang merupakan manusia paling mulia pun merasakan beratnya sakaratul maut.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ
“Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat.” (HR. Bukhari)
Namun orang yang hidupnya dekat dengan Allah akan mendapatkan pertolongan dan ketenangan. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’” (QS. Fussilat: 30)
Betapa indah akhir kehidupan orang-orang yang istiqamah. Ketika manusia lain ketakutan menghadapi kematian, mereka justru mendapat kabar gembira dari para malaikat. Sebab selama hidup mereka menjaga shalat, menjaga amanah, menjaga lisan, serta berusaha menjauhi dosa walau tidak sempurna.
Sering kali manusia menunda taubat karena merasa masih punya banyak waktu. Padahal dosa yang dibiarkan terus menumpuk akan mengeraskan hati. Hari ini seseorang mungkin masih mudah menangis ketika mendengar ayat Al-Qur’an, tetapi karena terlalu lama larut dalam kelalaian, hatinya perlahan mati dan tak lagi tersentuh nasihat.
Allah berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Taubat bukan hanya untuk pendosa besar. Setiap manusia membutuhkan taubat setiap hari. Sebab tidak ada manusia yang bersih dari salah dan khilaf. Kadang dosa lahir dari lisan yang menyakiti, dari prasangka buruk, dari iri hati, atau dari ibadah yang mulai lalai.
Menyambut umur kedua berarti mulai memperbaiki hidup sebelum penyesalan datang. Jangan menunggu sakit parah baru mendekat kepada Allah. Jangan menunggu tua baru rajin shalat berjamaah. Jangan menunggu kehilangan baru sadar bahwa hidup sangat singkat.
Ada orang yang sepanjang hidupnya sibuk mengejar pujian manusia, tetapi ketika meninggal hanya amal yang menemaninya. Di dalam kubur, tidak ada teman kecuali amal saleh. Tidak ada cahaya kecuali cahaya iman. Tidak ada penyelamat kecuali rahmat Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Karena itu, selama masih hidup jangan sia-siakan kesempatan. Perbaiki hubungan dengan Allah. Perbaiki hubungan dengan orang tua. Maafkan orang yang pernah menyakiti. Ringankan tangan untuk bersedekah. Biasakan membaca Al-Qur’an walau sedikit. Sebab kita tidak tahu amal mana yang menjadi sebab turunnya rahmat Allah.
Kematian bukan akhir dari segalanya. Ia adalah pintu menuju kehidupan abadi. Orang yang beriman akan memandang kematian sebagai perjalanan pulang menuju kasih sayang Allah. Sedangkan orang yang lalai akan dipenuhi penyesalan yang tidak ada akhirnya.
Hari ini kita masih diberi napas. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Masih ada kesempatan untuk sujud lebih khusyuk, memohon ampun lebih sungguh-sungguh, dan memperbanyak amal sebelum datang hari ketika semua pintu taubat ditutup.
Maka jangan tunda lagi. Persiapkan diri menyambut umur kedua dengan iman yang hidup, hati yang bersih, dan amal yang tulus. Semoga ketika sakaratul maut datang, lisan kita dimudahkan mengucap:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Tiada Tuhan selain Allah.”
Dan semoga Allah menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan kubur kita, serta mempertemukan kita kembali di dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar