Notifikasi Terakhir dari Nomor Tak Aktif

Notifikasi Terakhir dari Nomor Tak Aktif Keterangan Gambar : Aku masih ingat malam itu dengan sangat jelas. Pukul 04.50 menyala di layar ponsel, sementara udara dini hari terasa lengket di kulit. Anakku baru saja terlelap setelah hampir dua jam menangis. Istriku tertidur miring di samping boks bayi, napasnya berat karena kelelahan.


Perwirasatu.co.id - Rabu 15 April 2026. Di gang sempit belakang Pasar Baru, malam tidak pernah benar benar sunyi. Tetapi dini hari itu berbeda. Ketika bayi di rumah kami terbangun untuk ketiga kalinya, aku sadar suara tadarusan yang menggema dari masjid bukan lagi sekadar latar ibadah. Ia berubah menjadi sesuatu yang mengusik, mendesak, dan perlahan menuntunku pada percakapan singkat yang kelak membuka rahasia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku masih ingat malam itu dengan sangat jelas. Pukul 04.50 menyala di layar ponsel, sementara udara dini hari terasa lengket di kulit. Anakku baru saja terlelap setelah hampir dua jam menangis. Istriku tertidur miring di samping boks bayi, napasnya berat karena kelelahan.

Dari luar, suara tadarusan mengalun melalui pengeras suara masjid. Bukan sekadar terdengar. Ia menembus. Memantul di dinding rumah tipis kami. Mengisi setiap celah sunyi yang seharusnya menjadi waktu istirahat.

Aku tidak pernah keberatan orang mengaji. Sejak kecil aku tumbuh dengan suara yang sama. Bahkan dulu aku sering ikut duduk di serambi masjid sampai larut. Tetapi sejak anak kami lahir dua bulan lalu, malam berubah menjadi medan bertahan hidup.

Sudah hampir sepekan bayi kami sulit tidur setiap kali pengeras suara dinyalakan hingga lewat tengah malam. Awalnya aku mencoba bersabar. Dua malam. Tiga malam. Sampai akhirnya tubuh ini menyerah.

Dengan ragu, aku membuka WhatsApp dan mencari nama Pak Sumanto. Ia takmir yang kukenal tinggal dua gang dari masjid. Kami tidak dekat, tetapi pernah beberapa kali bertegur sapa.

Pesanku kutulis pelan, berulang kali kuhapus sebelum kukirim.

Pak, maaf. Bapak yang tadarusan sampai jam dua subuh di masjid.

Balasan datang cepat.

Iya. Kenapa.

Aku menelan ludah, lalu menjelaskan dengan hati hati. Bahwa aku punya bayi. Bahwa rumah kami dekat masjid. Bahwa aku tidak melarang mengaji, hanya berharap volume mic dipelankan atau dimatikan setelah jam sebelas malam.

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu pesan itu muncul.

Apa urusannya sama saya. Iri ya, tidak bisa baca Quran seperti saya. Kamu itu hatinya busuk. Dengar orang mengaji panas kupingmu. Setan kamu, menyuruh orang berhenti ngaji. Lagi pula siapa suruh kamu bikin rumah dekat masjid.

Dadaku seperti ditekan sesuatu yang berat. Jempolku menggantung lama di atas layar sebelum akhirnya membalas lagi, mencoba tetap sopan. Aku hanya menjelaskan bahwa aku tidak melarang. Aku hanya seorang ayah yang ingin bayinya bisa tidur.

Balasan terakhir beliau membuat tengkukku dingin.

Terserah saya dong. Emangnya masjid ini punya bapakmu. Masih mending cuma pakai mic. Kalau bisa besok saya pakai sound horreg biar pahala saya melimpah.

Aku menatap layar lama sekali sebelum akhirnya hanya mengetik satu kata.

Astaga.

Cerita ini sebenarnya pernah kuceritakan kepada Rian, teman lamaku, di sebuah warung kopi beberapa bulan setelah kejadian itu. Ia mendengarkan tanpa memotong, hanya sesekali mengerutkan kening.

Terus kamu gimana, tanyanya waktu itu.

Aku mengaduk kopi yang sudah tidak panas. Karena bagian setelah percakapan itulah yang benar benar mengubah semuanya.

Malam malam berikutnya, suara masjid justru terasa lebih keras di telingaku. Tidak setiap hari, tetapi cukup sering membuat kami terbangun. Istriku mulai mudah tersinggung. Bayi kami beberapa kali demam karena kurang tidur.

Anehya, setiap kali aku berniat mendatangi Pak Sumanto langsung, selalu ada hal yang menahan.

Pernah suatu malam aku sudah sampai di depan pagar, tetapi hujan turun mendadak sangat deras. Malam lain, anakku tiba tiba panas tinggi. Pernah juga aku sudah memakai jaket, tetapi entah kenapa langkahku berhenti sendiri di teras.

Sampai suatu malam, tepat dua minggu setelah chat itu, listrik di rumah kami tiba tiba padam.

Bukan hanya rumah kami.

Satu gang gelap.

Anakku langsung terbangun dan menangis keras. Istriku panik di dalam rumah. Aku keluar untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa tetangga juga keluar, wajah mereka pucat diterangi lampu ponsel.

Lalu seseorang berbisik pelan.

Masjid kok masih bunyi ya.

Aku ikut menoleh.

Dari arah masjid, suara tadarusan tetap mengalun. Keras. Jernih. Terlalu jernih untuk lingkungan yang sedang mati listrik.

Perasaan tidak enak merayap pelan di dada.

Aku melangkah mendekat.

Gerbang masjid terbuka sedikit. Lampu di dalam redup kekuningan, bukan terang seperti biasanya. Suara itu menggema aneh, seperti berasal dari ruang yang terlalu kosong.

Aku masuk.

Langkahku berhenti di ambang ruang utama.

Kosong.

Tidak ada jamaah.

Tidak ada Pak Sumanto.

Hanya pengeras suara yang menyala, melantunkan rekaman tadarus yang berputar berulang.

Bulu kudukku menegang.

Tiba tiba seorang penjaga masjid muncul dari arah belakang, membawa senter kecil.

Mas, ngapain di dalam, tanyanya.

Saya kira ada tadarusan, jawabku pelan.

Penjaga itu menatapku heran.

Sejak Pak Sumanto meninggal bulan lalu, tadarus malam memang pakai rekaman, Mas. Biar masjid tetap ramai.

Darahku seperti surut seketika.

Meninggal.

Kapan, Pak.

Sebulan lalu. Tengah malam juga. Serangan jantung. Sampe sekarang nomornya masih aktif. Katanya HP beliau belum diurus keluarganya.

Tanganku gemetar saat meraih ponsel.

Aku membuka WhatsApp.

Percakapan itu masih ada.

Utuh.

Di bawah nama Pak Sumanto tertulis sesuatu yang membuat napasku tercekat.

Terakhir online dua minggu lalu.

Di warung kopi, ceritaku berhenti sampai di situ. Rian tidak langsung bicara. Ia hanya menatapku lama.

Itu berarti kamu chat siapa waktu itu, bisiknya.

Aku tidak langsung menjawab.

Karena tepat saat itu, ponsel di meja bergetar pelan.

Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar yang gelap.

Pengirimnya hanya satu nama.

Pak Sumanto.

Dan pesannya baru satu baris.

Mic sudah saya pelankan. Bayinya sudah bisa tidur.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)