Pelayanan Haji Dimulai Dari ToiletKisah sederhana Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf tentang membersihkan toilet di Mina pada 2008 menjelma menjadi refleksi kepemimpinan yang membumi.
Keterangan Gambar : Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, bukan sekadar cerita personal, melainkan potret kerasnya realitas pelayanan haji. Ketika air mati berhari hari dan toilet umum berada dalam kondisi sangat kotor, situasi itu memperlihatkan betapa ibadah haji tidak selalu identik dengan kenyamanan
Perwirasatu.co.id - 16 Januari 2026.
Kisah sederhana Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf tentang membersihkan toilet di Mina pada 2008 menjelma menjadi refleksi kepemimpinan yang membumi. Di hadapan calon petugas haji 2026, pengalaman itu dihadirkan bukan sebagai nostalgia, melainkan pelajaran etik pelayanan. Dari krisis air hingga kloset kotor, haji diuji bukan oleh seremoni, tetapi oleh kesediaan melayani tanpa gengsi.
Pengalaman krisis air di kawasan Jamarat, Mina, yang dikenang Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, bukan sekadar cerita personal, melainkan potret kerasnya realitas pelayanan haji. Ketika air mati berhari hari dan toilet umum berada dalam kondisi sangat kotor, situasi itu memperlihatkan betapa ibadah haji tidak selalu identik dengan kenyamanan, tetapi dengan kesabaran dan kerja kolektif di tengah keterbatasan. (Sumber: Kementerian Agama RI, 14 Januari 2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Menhaj Irfan Yusuf saat memberikan pembekalan kepada lebih dari 1.600 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji 1447 Hijriah atau 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Forum ini menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai dasar pelayanan, bahwa tugas petugas haji bukan sekadar administratif, tetapi juga moral dan kemanusiaan. (Sumber: Kemenag.go.id, 14 Januari 2026).
Ketika air akhirnya menyala di tengah malam, Irfan Yusuf tidak menunggu instruksi atau memerintah bawahan. Ia justru turun langsung, mengguyur satu per satu kloset di satu lantai toilet. Tindakan ini mencerminkan kepemimpinan teladan, di mana seorang pelayan umat tidak menempatkan dirinya di atas pekerjaan yang dianggap rendah atau menjijikkan. (Sumber: Kompas.com, 14 Januari 2026).
Pesan utama yang disampaikan kepada para calon PPIH adalah pembuangan total terhadap rasa jijik dan gengsi. Dalam konteks haji, gengsi adalah kemewahan yang tidak relevan. Sampah, toilet kotor, atau kondisi jemaah yang lelah adalah realitas yang menuntut kehadiran petugas secara utuh, bukan setengah hati. (Sumber: Antara, 14 Januari 2026).
Pendekatan ini menunjukkan bahwa profesionalisme pelayanan haji tidak diukur dari seragam rapi atau posisi struktural, melainkan dari kesiapan melakukan pekerjaan paling dasar demi kenyamanan jemaah. Membersihkan kloset menjadi simbol kerja sunyi yang dampaknya besar, karena menyangkut kesehatan, martabat, dan kekhusyukan ibadah jutaan orang. (Sumber: Kementerian Agama RI, 14 Januari 2026).
Secara kritis, kisah ini juga menyiratkan evaluasi terhadap sistem pengelolaan fasilitas haji. Krisis air yang berlangsung berhari hari menandakan adanya persoalan tata kelola infrastruktur yang tidak boleh terulang. Namun di tengah keterbatasan sistem, faktor manusia tetap menjadi penentu utama kualitas pelayanan. (Sumber: Tempo.co, 14 Januari 2026).
Di sinilah nilai kepemimpinan partisipatif menjadi relevan. Seorang pemimpin yang mau turun tangan memberi contoh akan melahirkan budaya kerja yang egaliter dan responsif. Para petugas haji diingatkan bahwa kebiasaan kecil, seperti sigap membersihkan atau membantu tanpa diminta, akan berdampak besar saat berada di Saudi Arabia. (Sumber: Kemenag.go.id, 14 Januari 2026).
Narasi ini patut diapresiasi karena menggeser orientasi pelayanan dari simbolik ke substansial. Haji bukan hanya soal ritual, tetapi soal memastikan jemaah dapat beribadah dengan aman, sehat, dan bermartabat. Dalam konteks ini, toilet bersih sama pentingnya dengan tenda yang layak atau transportasi yang tertib. (Sumber: Republika, 14 Januari 2026).
Lebih jauh, pesan Irfan Yusuf menantang paradigma feodal dalam birokrasi pelayanan publik. Tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah jika itu menyangkut kepentingan umat. Prinsip ini sejalan dengan semangat reformasi birokrasi yang menempatkan aparatur sebagai pelayan, bukan penguasa layanan. (Sumber: Kompas.com, 14 Januari 2026).
Pada akhirnya, kisah membersihkan toilet di Mina adalah metafora kuat tentang esensi pelayanan haji. Ia mengajarkan bahwa integritas diuji bukan di mimbar, tetapi di lorong sempit toilet umum; bukan saat dipuji, tetapi saat tak ada yang melihat. Dari sanalah kualitas penyelenggaraan haji dibangun, setahap demi setahap. (Sumber: Kementerian Agama RI, 14 Januari 2026).
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat.
Tulis Komentar