Respon Tenang Saat Diremehkan
Keterangan Gambar : Diremehkan adalah pengalaman yang pahit, tetapi sering kali justru menjadi pintu pembentukan karakter.
Perwirasatu.co.id, Kamis 23 April 2026. Diremehkan adalah pengalaman yang pahit, tetapi sering kali justru menjadi pintu pembentukan karakter. Banyak orang terpancing emosi, ingin membalas dengan kata-kata, padahal ketenangan adalah kemenangan yang tidak terlihat. Islam mengajarkan bahwa harga diri seorang mukmin bukan ditentukan oleh pengakuan manusia, melainkan oleh keteguhan iman, kesabaran, dan amal nyata. Saat diremehkan, jangan terburu-buru menjelaskan diri, karena waktu dan hasil akan berbicara.
Dalam hidup ini, tidak semua orang akan mendukung mimpi kita. Bahkan, terkadang yang meremehkan justru orang terdekat. Mereka menilai dari keadaan sekarang, bukan dari proses yang sedang kita jalani. Padahal Allah tidak menilai manusia dari penampilan atau posisi, melainkan dari takwa dan kesungguhan hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Maka ketika seseorang meremehkan mimpi kita, cukup jawab dengan tenang: “Oke, kita lihat nanti.” Tidak perlu debat panjang. Karena perdebatan sering kali hanya membuang energi dan membuat hati kotor. Islam mengajarkan bahwa orang beriman itu menjaga lisannya. Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
Ketenangan bukan berarti lemah. Ketenangan adalah tanda bahwa seseorang menguasai dirinya. Orang yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang mampu menahan ledakan emosinya. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saat ada yang berkata, “Kamu nggak mampu,” jangan sibuk membela diri. Jawab saja, “Menarik.” Lalu diam dan buktikan lewat hasil. Sebab, dalam Islam, bukti lebih kuat daripada seribu pembelaan. Allah memerintahkan kita untuk tetap berjalan dalam kebaikan dan tidak menjadikan ucapan manusia sebagai penghalang. Allah berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139)
Orang yang meremehkan biasanya tidak mengerti proses. Mereka hanya melihat hasil akhir, tetapi tidak tahu luka, lelah, dan doa yang kita simpan dalam sujud. Saat kerja keras kita dianggap remeh, katakan saja, “Saya masih belajar.” Lalu lanjutkan langkah. Karena setiap usaha tidak akan sia-sia. Allah berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Jika orang meragukan kita, jawablah dengan santun: “Terima kasih masukannya.” Senyum, selesai. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Karena orang yang hatinya sudah dipenuhi prasangka, biasanya tidak butuh penjelasan, mereka hanya butuh pembuktian. Dalam kondisi seperti itu, bersabarlah. Allah berfirman:
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Bersabarlah, dan kesabaranmu itu tidak lain hanyalah dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)
Kesabaran adalah senjata yang paling sunyi namun paling mematikan bagi kesombongan manusia. Sebab orang yang meremehkan ingin kita meledak, ingin kita terpancing, ingin kita kehilangan kendali. Tetapi ketika kita tetap tenang, mereka kehilangan senjatanya. Bahkan Allah menjanjikan bahwa sabar adalah jalan menuju pertolongan. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Saat dibanding-bandingkan, jangan sibuk menjelaskan. Cukup katakan, “Setiap orang punya jalannya.” Sebab Allah memang menciptakan manusia dengan takdir, ujian, dan rezeki yang berbeda-beda. Membandingkan hidup hanya akan melelahkan hati. Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32)
Perbandingan sering kali menjadi racun yang halus. Ia membuat kita lupa bahwa perjalanan hidup bukan lomba cepat, melainkan lomba istiqamah. Bisa jadi orang lain lebih cepat berhasil, tetapi kita lebih kuat dalam pondasi. Bisa jadi orang lain lebih dulu terkenal, tetapi kita lebih dulu matang. Yang Allah lihat bukan siapa paling cepat, tetapi siapa paling benar dan paling sabar.
Saat dicibir di belakang, biarkan saja. Jangan ikut sibuk membalas. Karena orang yang sibuk membicarakan kita di belakang, sebenarnya sedang mengakui bahwa mereka tertinggal di belakang. Dalam Islam, ghibah adalah dosa besar, tetapi kita tidak perlu membalas dengan dosa yang sama. Allah berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Reputasi tidak dibangun oleh pembelaan, tetapi oleh akhlak dan konsistensi. Orang boleh bicara apa saja, tetapi waktu akan menguji siapa yang benar. Karena Allah adalah sebaik-baik pembela. Allah berfirman:
إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56)
Dan ketika seseorang menganggap kita tidak akan berhasil, catat kata-kata mereka. Jadikan bahan bakar. Tetapi jangan simpan untuk dendam, simpan untuk semangat. Karena dendam melemahkan jiwa, sedangkan tekad menguatkan masa depan. Islam mengajarkan kita untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Allah berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)
Maka respon tenang saat diremehkan adalah tanda kedewasaan iman. Kita tidak hidup untuk memuaskan komentar manusia, kita hidup untuk memenuhi panggilan Allah. Fokuslah pada doa, kerja nyata, dan perbaikan diri. Sebab hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tetapi siapa yang paling konsisten berjuang dalam diam. Dan yakinlah, ketika Allah sudah menakdirkan kemuliaan, tidak ada satu pun manusia yang mampu menghalanginya. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hajj: 38)
Jadi, ketika diremehkan, tetaplah tenang. Jangan kehilangan adab, jangan kehilangan iman, jangan kehilangan arah. Karena yang benar akan sampai, yang sabar akan menang, dan yang ikhlas akan dimuliakan. Di atas semua itu, Allah tidak pernah tidur melihat perjuangan hamba-Nya.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar