Apakah Mati Untuk Dilupakan?
Perwirasatu.co.id, Senin 1 Juni 2026.
Di sebuah museum, kita melihat foto para raja yang dahulu diagungkan. Nama mereka terpajang, wajah mereka dibingkai, sejarah mereka dicatat. Namun kita sadar, hanya sedikit yang benar-benar mengenang siapa mereka. Kekuasaan besar pun akhirnya tinggal gambar. Dari sana hati bertanya: apakah hidup manusia hanya berakhir menjadi cerita yang perlahan hilang, lalu lenyap tanpa makna?
Saudaraku, begitulah dunia. Ia bukan tempat tinggal, melainkan tempat singgah. Yang hari ini dipuja, esok dilupakan. Yang hari ini berkuasa, esok digantikan. Allah ﷻ telah menegaskan bahwa pergiliran zaman adalah sunnatullah agar manusia mengambil pelajaran, bukan agar manusia tertipu oleh kemenangan sementara. Allah berfirman:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).”
(QS. Ali ‘Imran: 140)
Dalam tafsir para ulama dijelaskan bahwa pergiliran itu mencakup pergiliran masa, kekuasaan, dan para pemimpin. Betapa banyak raja yang dulu mengira tahtanya abadi, ternyata hanya menunggu waktu untuk menjadi sejarah. Sehebat apa pun istana, akhirnya tinggal puing. Seindah apa pun nama, akhirnya hanya tersisa huruf.
ﻳَﻌْﻨِﻲ الْأُمَرَاء
“Yaitu (pergiliran) para pemimpin/raja.”
(Tafsir Ath-Thabari)
Maka renungkanlah, jika raja saja dilupakan, bagaimana dengan kita yang hanya rakyat biasa? Apakah hidup kita hanya sekadar bekerja, mengumpulkan harta, mengejar kedudukan, lalu mati, lalu selesai? Tidak. Kita tidak diciptakan untuk berakhir menjadi tanah tanpa makna. Allah ﷻ menciptakan manusia bukan untuk sia-sia, melainkan untuk kembali kepada-Nya. Allah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. Al-Mu’minun: 115)
Saudaraku, kematian adalah pintu yang pasti. Ia bukan kemungkinan, tetapi kepastian. Ia tidak menunggu kesiapan, tidak memandang usia, tidak menimbang jabatan, tidak melihat kekayaan. Ketika ajal tiba, ruh dipisahkan dari jasad. Lalu manusia yang dulu ramai memujimu, hanya akan menangis sebentar. Setelah itu mereka kembali sibuk dengan hidup mereka, dengan pekerjaan mereka, dengan urusan dunia mereka. Maka benarlah bahwa dunia terus berputar, dan manusia terus berganti.
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita bahwa manusia akan diiringi tiga hal ketika mati, tetapi hanya satu yang menetap bersamanya. Beliau ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Tiga hal yang mengikuti mayit: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali, satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan saat itu. Jasadmu dikafani. Pakaianmu dibagi-bagikan. Jabatanmu segera ada yang menggantikan. Kendaraanmu segera berpindah tangan. Rumahmu segera ditempati orang lain. Hartamu bisa jadi diperebutkan, bahkan oleh orang yang dulu kau cintai. Semua yang kau perjuangkan mati-matian, semua yang kau banggakan, semua yang kau pertahankan dengan tenaga dan pikiran, akhirnya lepas begitu saja.
Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Jika demikian, apa yang pantas dikejar? Apakah layak seseorang menghalalkan segala cara demi menumpuk harta yang pada akhirnya hanya diwariskan? Bahkan bisa jadi anak keturunannya menikmati hasilnya tanpa pernah benar-benar mendoakan orang tua yang telah bersusah payah. Dan lebih buruk lagi, jika harta itu didapat dari yang haram, maka ia menjadi beban dosa yang terus mengalir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi)
Saudaraku, kematian memang membuat kita dilupakan oleh banyak manusia. Tapi orang beriman tidak menjadikan manusia sebagai tujuan. Ia tidak mengejar dikenang, ia mengejar ridha Allah. Namun Allah Maha Adil, Dia menjadikan amal shalih sebagai warisan yang abadi. Bahkan jika manusia lupa, langit tidak lupa. Malaikat tidak lupa. Catatan amal tidak lupa. Dan Allah ﷻ tidak pernah lupa.
Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Maka harapan seorang hamba bukanlah pujian manusia, melainkan amal shalih. Itulah penerang kubur. Itulah teman di alam barzakh. Itulah yang menjadi sebab keselamatan ketika semua manusia sibuk dengan dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika anak Adam meninggal, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Inilah jawaban bagi pertanyaan: apakah mati untuk dilupakan? Ya, manusia mungkin lupa. Tetapi orang beriman tidak pernah benar-benar hilang jika ia meninggalkan amal yang hidup. Sedekahnya terus mengalir. Ilmunya terus dipelajari. Akhlaknya terus dikenang. Dan doa orang shalih menjadi hadiah yang menembus alam kubur.
Saudaraku, jadikan hidup sebagai ladang akhirat. Jangan tertipu oleh kemegahan sementara. Dunia hanyalah ujian. Yang kekal adalah negeri akhirat. Allah ﷻ berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 17)
Maka mari kita perbanyak amal shalih, perbanyak taubat, perbanyak keikhlasan. Jangan sampai kita mati dalam keadaan kosong dari kebaikan. Jangan sampai kita pulang kepada Allah hanya membawa beban dosa dan kelalaian.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang sadar sebelum terlambat, diberi hati yang lembut, amal yang ikhlas, serta akhir hidup yang husnul khatimah. آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar