Home Artikel Berani Tidak Disukai Demi Menjaga Kebenaran

Berani Tidak Disukai Demi Menjaga Kebenaran

17
0
SHARE
Berani Tidak Disukai Demi Menjaga Kebenaran

Keterangan Gambar : Ada kalanya hidup mengharuskan kita menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukai pilihan, sikap, dan keputusan kita. Tidak semua kebaikan dipahami dengan benar, tidak semua kejujuran mendapatkan penghargaan.

Perwirsatu.co.id, 06 November 2026

Ada kalanya hidup mengharuskan kita menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukai pilihan, sikap, dan keputusan kita. Tidak semua kebaikan dipahami dengan benar, tidak semua kejujuran mendapatkan penghargaan. Namun, jangan sampai keinginan memperoleh pengakuan manusia membuat kita meninggalkan kebenaran, mengorbankan prinsip, dan kehilangan ketenangan hati.

Dalam kehidupan sosial, manusia sering kali terjebak dalam keinginan untuk disukai, diterima, dihargai, dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Kita ingin perkataan kita dipahami, tindakan kita dibenarkan, dan keberadaan kita mendapatkan tempat di hati setiap orang. Keinginan tersebut sesungguhnya manusiawi. Akan tetapi, apabila keinginan itu terlalu mendominasi kehidupan, kita dapat kehilangan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Kita mulai mengukur kebahagiaan berdasarkan penilaian manusia, bukan berdasarkan keridaan Allah Swt.

Padahal, tidak mungkin kita mampu menyenangkan semua orang. Setiap manusia memiliki sudut pandang, pengalaman, kepentingan, dan ukuran kebenaran yang berbeda. Sesuatu yang dianggap baik oleh seseorang belum tentu dipandang baik oleh orang lain. Bahkan, ketika kita berusaha melakukan sesuatu dengan niat tulus, tetap saja ada orang yang salah memahami, mencurigai, atau memberikan penilaian negatif.

Allah Swt. mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari ujian, termasuk ujian berupa perkataan dan sikap orang lain.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 2:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?"

Ayat ini mengajarkan bahwa keimanan bukan sekadar pengakuan melalui lisan. Keimanan harus dibuktikan melalui keteguhan menghadapi berbagai ujian. Salah satu ujian itu adalah ketika seseorang harus mempertahankan prinsip kebenaran meskipun tidak mendapatkan dukungan, bahkan menghadapi penolakan dari lingkungan sekitarnya.

Ada kalanya berkata jujur membuat kita tidak disukai. Menolak kebatilan membuat kita dijauhi. Mempertahankan amanah membuat kita dianggap tidak menyenangkan oleh orang-orang yang menginginkan keuntungan pribadi. Namun, selama sikap tersebut berada dalam koridor kebenaran, kita tidak perlu menggadaikan prinsip hanya demi mendapatkan tepuk tangan.

Rasulullah saw. memberikan tuntunan yang sangat mendasar mengenai pentingnya mencari keridaan Allah daripada mengejar keridaan manusia.

Beliau bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Artinya: "Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun mengundang kemarahan manusia, Allah akan meridainya dan menjadikan manusia rida kepadanya. Sebaliknya, barang siapa mencari keridaan manusia dengan mengundang kemurkaan Allah, Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya." (HR. Ibnu Hibban).

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa orientasi utama seorang muslim bukanlah mendapatkan pujian manusia, melainkan memperoleh keridaan Allah. Sebab, penilaian manusia selalu berubah. Hari ini seseorang dipuji, besok mungkin dicela. Hari ini dianggap berjasa, esok bisa saja dilupakan. Namun, Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk niat yang tersembunyi di balik tindakan yang tidak diketahui manusia.

Meskipun demikian, berani tidak disukai bukan berarti membenarkan kesombongan, keras kepala, atau sikap tidak peduli terhadap nasihat. Ada perbedaan antara mempertahankan prinsip dan mempertahankan ego. Orang yang berpegang pada kebenaran tetap bersedia menerima kritik, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Artinya: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu."

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keteguhan prinsip harus berjalan bersama kelembutan hati. Kebenaran tidak perlu disampaikan dengan kesombongan. Kejujuran tidak harus disertai penghinaan. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan.

Kita juga perlu memahami bahwa tidak setiap kesalahpahaman harus dilayani dengan penjelasan panjang. Ada orang yang benar-benar belum memahami sehingga perlu diberikan penjelasan. Namun, ada pula orang yang tidak berniat memahami karena telah membangun penilaian berdasarkan prasangka. Menghadapi keadaan seperti ini, kebijaksanaan diperlukan agar waktu dan energi tidak habis untuk membuktikan sesuatu kepada orang yang memang tidak ingin mengerti.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan salam."

Inilah salah satu ciri kematangan jiwa. Tidak semua perkataan harus dibalas. Tidak semua tuduhan harus dijawab dengan kemarahan. Terkadang, menjaga jarak dari pertengkaran yang tidak bermanfaat merupakan bentuk kebijaksanaan. Diam bukan berarti kalah, sebagaimana menjauh bukan berarti takut. Bisa jadi, keduanya merupakan pilihan untuk menjaga kehormatan dan kedamaian hati.

Rasulullah saw. juga bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya: "Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan membalas setiap perlakuan buruk. Kekuatan sejati justru terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan emosi, tidak mudah terpancing, dan tetap menjaga akhlak meskipun sedang diperlakukan tidak menyenangkan.

Dalam perjalanan hidup, kita mungkin harus berjalan sendirian ketika mempertahankan sesuatu yang benar. Tidak selalu ada orang yang mendukung keputusan kita. Tidak selalu ada tangan yang memberikan tepuk tangan. Bahkan, orang-orang yang dahulu dekat mungkin menjauh ketika kita tidak lagi mengikuti keinginan mereka.

Namun, kesendirian dalam mempertahankan kebenaran tidak selalu berarti kehilangan. Terkadang, Allah sedang mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan harga diri kepada penilaian manusia. Kita belajar bahwa ketenangan tidak berasal dari banyaknya orang yang menyukai kita, melainkan dari kesesuaian antara hati, perkataan, dan perbuatan.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Karena itu, jangan menjadikan pujian sebagai tujuan hidup dan jangan menjadikan celaan sebagai alasan untuk kehilangan arah. Teruslah memperbaiki niat, menjaga amanah, berkata jujur, berlaku adil, dan berbuat baik. Apabila ternyata kita salah, jangan gengsi untuk memperbaikinya. Apabila kita benar, jangan mudah meninggalkannya hanya karena tekanan manusia.

Hidup bukan perlombaan untuk mendapatkan persetujuan semua orang. Hidup adalah perjalanan mempertanggungjawabkan setiap pilihan di hadapan Allah. Kita tidak dituntut menjadi manusia yang selalu disukai, tetapi dituntut menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.

Sebab, orang yang terus mengejar tepuk tangan manusia bisa kehilangan dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang menjadikan kebenaran dan keridaan Allah sebagai pedoman akan memiliki pegangan ketika pujian datang maupun ketika celaan menghampiri.

Beranilah tidak disukai apabila itu merupakan konsekuensi mempertahankan kebenaran. Namun, jangan pernah sengaja menyakiti orang lain atas nama kebenaran. Jadilah pribadi yang teguh tanpa menjadi keras, rendah hati tanpa kehilangan prinsip, dan pemaaf tanpa membiarkan kezaliman terus berlangsung.

Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba yang tidak diperbudak oleh pujian, tidak dihancurkan oleh celaan, dan tidak kehilangan arah karena penilaian manusia. Sebab, sebaik-baik ketenangan adalah ketika hati tetap terhubung dengan Allah, sementara langkah kehidupan senantiasa berada di jalan yang diridai-Nya.

Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home