
Keterangan Gambar : Enam nama kini muncul dalam perebutan kursi Direktur Jenderal WHO,
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Enam nama kini muncul dalam perebutan kursi Direktur Jenderal WHO, meski daftar resmi lengkap belum diumumkan. Di antara mereka ada Budi Gunadi Sadikin, fisikawan nuklir yang kemudian menjadi bankir dan Menteri Kesehatan Indonesia. Pencalonannya berlangsung ketika WHO menghadapi tekanan pendanaan, reformasi kelembagaan, dan tuntutan memulihkan kepercayaan negara anggota terhadap kepemimpinan kesehatan global pascapandemi yang kian kompleks di tengah perubahan geopolitik.
Batas pengajuan nominasi Direktur Jenderal WHO telah berakhir pada 24 September 2026. Enam kandidat kini diketahui publik, termasuk Budi Gunadi Sadikin. Namun, angka enam belum dapat disebut sebagai daftar final karena WHO baru akan mengumumkan nama dan proposal pencalonan secara resmi setelah penutupan rangkaian Regional Committee pada akhir Oktober atau awal November.
Budi menjadi figur yang berbeda dari sejumlah kandidat lain. Ia menempuh pendidikan fisika nuklir, kemudian berkarier di sektor perbankan sebelum dipercaya memimpin Kementerian Kesehatan Indonesia. Profil tersebut membuat pencalonannya menarik karena jabatan Direktur Jenderal WHO bukan hanya membutuhkan pemahaman kesehatan, tetapi juga kemampuan administratif, diplomasi, pengelolaan organisasi, dan membangun konsensus antarnegara. WHO sendiri tidak mensyaratkan calon harus dokter atau staf WHO.
Di tengah tekanan pembiayaan WHO, pengalaman Budi di bidang keuangan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan. Ia menawarkan gagasan agar WHO kembali memperkuat dua mandat utamanya: menjadi ruang untuk mempertemukan negara-negara dan menetapkan norma serta standar kesehatan berbasis sains. Menurut Budi, kemampuan membangun kepercayaan dapat membuka kerja sama dengan negara, lembaga pembiayaan pembangunan, filantropi, dan institusi kesehatan global.
Namun, pengalaman finansial tidak otomatis menyelesaikan persoalan WHO. Organisasi tersebut harus menghadapi pembiayaan yang terbatas, ketimpangan akses kesehatan, kesiapsiagaan pandemi, perubahan iklim, resistensi antimikroba, serta kebutuhan mempertahankan kerja sama multilateral. Karena itu, pencalonan Budi pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh latar belakang profesinya, melainkan oleh kemampuan menerjemahkan pengalaman manajemen menjadi agenda kesehatan yang dapat diterima negara anggota.
Kompetisi juga memperlihatkan keragaman pengalaman. Hans Kluge dari Belgia memiliki pengalaman sebagai Direktur Regional WHO untuk Eropa. Hanan Balkhy memimpin WHO kawasan Mediterania Timur, sementara Hanan Al-Kuwari merupakan mantan Menteri Kesehatan Qatar. María Neira dari Spanyol merupakan pejabat senior WHO. Gevorg Tamamyan adalah dokter onkologi anak asal Armenia yang dicalonkan Botswana.
Dengan demikian, kontestasi ini bukan sekadar pertarungan personal. Para kandidat membawa pengalaman, jaringan, gagasan, dan perspektif berbeda mengenai masa depan WHO. Bagi Indonesia, pencalonan Budi juga menjadi ujian apakah kepentingan negara berkembang dapat diterjemahkan menjadi agenda kesehatan global yang melampaui kepentingan nasional.
Proses menuju kursi tertinggi WHO masih panjang. Executive Board akan melakukan penyaringan dan mengajukan hingga tiga kandidat kepada World Health Assembly. Majelis Kesehatan Dunia ke-80 dijadwalkan memilih Direktur Jenderal pada Mei 2027, dengan masa jabatan baru dimulai 16 Agustus 2027.
Karena itu, pencalonan Budi sebaiknya tidak dibaca semata sebagai kebanggaan diplomatik Indonesia. Pertanyaan yang lebih substantif adalah agenda apa yang ditawarkan, bagaimana ia menjawab persoalan pembiayaan dan kredibilitas WHO, serta sejauh mana pengalaman nasional dapat diterjemahkan menjadi kepemimpinan multilateral.
Perebutan kursi Direktur Jenderal WHO akan mempertemukan berbagai latar belakang dan gagasan. Budi membawa pengalaman yang tidak lazim: fisikawan nuklir, bankir, dan menteri kesehatan. WHO, sementara itu, sedang mencari bentuk kepemimpinan di tengah tekanan finansial, perubahan geopolitik, dan kebutuhan memperkuat kembali kerja sama kesehatan dunia. Pemilihan 2027 akan menjadi salah satu titik penting bagi arah organisasi tersebut.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)








.jpg)








LEAVE A REPLY