Home Tokoh Sranya Bamrungphong, Perempuan di Dunia Diplomasi

Sranya Bamrungphong, Perempuan di Dunia Diplomasi

37
0
SHARE
Sranya Bamrungphong, Perempuan di Dunia Diplomasi

Keterangan Gambar : Marty Natalegawa lebih sering muncul dalam catatan diplomasi Indonesia. Ia pernah menjadi Duta Besar RI untuk Inggris

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Nama Marty Natalegawa lebih sering muncul dalam catatan diplomasi Indonesia. Ia pernah menjadi Duta Besar RI untuk Inggris, Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, kemudian Menteri Luar Negeri pada 2009–2014. Namun, ada sosok perempuan dengan perjalanan hidup internasional yang berjalan berdampingan dengannya: Sranya Bamrungphong. Ia bukan sekadar istri diplomat, melainkan perempuan dengan pendidikan, pengalaman jurnalistik, aktivitas sosial, dan kehidupan lintas budaya.

Sranya lahir di Bangkok, Thailand, pada 20 Februari 1961. Dunia internasional sudah dikenalnya sejak kecil karena ayahnya seorang diplomat. Masa hidup yang bersentuhan dengan perpindahan negara membuat lingkungan multikultural bukan sesuatu yang asing baginya. Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari bekal ketika ia menjalani kehidupan dewasa yang juga berpindah mengikuti perjalanan keluarga.

Pendidikan Sranya memperlihatkan ketertarikannya terhadap dunia internasional. Ia menyelesaikan studi Hubungan Internasional di Universitas Thammasat, kemudian meraih magister Hubungan Internasional di London School of Economics. Di LSE itulah ia mengenal Marty Natalegawa. Keduanya belajar di bawah pembimbing yang sama sebelum akhirnya membangun keluarga.

Namun perjalanan Sranya tidak berhenti pada pendidikan dan perkawinan. Ia pernah bekerja sebagai wartawan Bangkok Post dan kemudian bergabung dengan BBC World Service di London untuk layanan berbahasa Thailand. Pengalaman jurnalistik itu penting karena menunjukkan bahwa sebelum dikenal publik sebagai pasangan seorang pejabat Indonesia, Sranya telah memiliki pengalaman profesional dalam lingkungan media internasional.

Kehidupan di Jakarta juga tidak membuat aktivitasnya berhenti. Ketika tinggal di Indonesia, ia pernah mengajar di sebuah sekolah bahasa. Pilihan tersebut menunjukkan bagaimana ia tetap memiliki ruang kegiatan sendiri ketika kehidupan keluarga harus menyesuaikan diri dengan penugasan diplomatik Marty.

Profil resmi Kementerian Luar Negeri Jepang yang diterbitkan pada 2011 juga mencatat perhatian Sranya terhadap pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, dan kekerasan dalam rumah tangga. Ketika berada di Thailand, ia disebut aktif dalam sejumlah organisasi nonpemerintah. Saat Marty bertugas di Perwakilan Tetap Indonesia untuk PBB di New York, Sranya bahkan pernah menjadi wakil ketua sebuah forum perempuan internasional.

Catatan tersebut membuat sosok Sranya menjadi lebih menarik daripada sekadar figur pendamping. Ia memiliki jalur kehidupan yang mempertemukan pendidikan internasional, jurnalistik, pengajaran, aktivitas sosial, dan keluarga diplomatik. Tidak tepat pula menyebut aktivitas itu sebagai bagian langsung dari kebijakan luar negeri Indonesia. Ia tidak tercatat sebagai pengambil keputusan diplomatik. Tetapi pengalaman tersebut memperlihatkan lingkungan sosial dan profesional yang mengiringi kehidupan keluarga seorang diplomat.

Kehidupan Sranya juga bersentuhan dengan dunia budaya Jakarta. The Jakarta Post pada 15 April 2012 menulis tentang perancang busana Auguste Soesastro dan menyebut Sranya sebagai salah satu muse-nya. Bagi sang perancang, seorang muse bukan sekadar figur untuk dipotret, tetapi juga dapat memberikan masukan terhadap desain. Detail ini memperlihatkan sisi lain kehidupan Sranya di luar ruang diplomatik dan keluarga.

Dari pernikahannya dengan Marty, Sranya memiliki tiga anak. Keluarga tersebut mempertemukan latar Thailand dan Indonesia dalam lingkungan kehidupan yang sangat internasional. Anak-anak mereka tumbuh di tengah perjalanan keluarga yang bersinggungan dengan sejumlah pusat diplomasi, termasuk London, Jakarta, dan New York.

Di sinilah kisah Sranya menjadi penting. Perempuan yang lahir dari keluarga diplomat Thailand itu kemudian memiliki pendidikan internasional, memasuki dunia jurnalistik, aktif dalam persoalan sosial, mengajar di Jakarta, dan menjalani kehidupan keluarga bersama seorang diplomat Indonesia. Semua itu berlangsung tanpa harus menjadikannya tokoh pengambil kebijakan.

Kisah Sranya sekaligus menunjukkan sisi manusiawi yang sering tidak terlihat dalam biografi diplomat. Di balik jabatan dan perjalanan antarnegara terdapat pasangan, anak, pekerjaan, pendidikan, serta kehidupan sosial yang harus terus beradaptasi. Namun Sranya tidak semata-mata hidup sebagai bayang-bayang Marty.

Ia memiliki perjalanan sendiri. Justru karena itulah kisahnya layak ditempatkan bukan sebagai catatan kaki dari karier Marty Natalegawa, melainkan sebagai cerita tentang seorang perempuan yang hidup di persimpangan pendidikan, media, keluarga, dan dunia internasional.

Sumber

(Dwi Taufan hidayat)

Iklan Detail Video

Iklan_home