
Keterangan Gambar : Seorang anak bertanya mengapa Fikri masih mengajar di serambi masjid setiap sore, padahal tak seorang pun membayarnya.
Perwirasatu.co.id, 10 Oktober 2026
Seorang anak bertanya mengapa Fikri masih mengajar di serambi masjid setiap sore, padahal tak seorang pun membayarnya. Fikri tidak segera menjawab, sebab pertanyaan itu mengingatkannya pada seorang guru yang pernah menunggunya puluhan tahun lalu di tempat yang sama. Ia membuka tas hitam tua di sampingnya, lalu mengeluarkan sebuah buku yang sampulnya telah kusam.
Di ujung kampung berdiri Masjid Al Hidayah, bangunan sederhana dengan cat dinding yang mulai pudar dan halaman sempit yang selalu dipenuhi sandal anak anak menjelang Magrib. Di serambinya, hampir setiap sore, Pak Rahman mengajar membaca, mengaji, berhitung, dan sesekali membantu anak anak mengerjakan pekerjaan rumah. Ia tidak pernah menentukan biaya, tidak pernah memasang kotak sumbangan, dan selalu menolak amplop yang disodorkan orang tua murid.
"Kalau punya uang lebih, belikan buku untuk anak kalian," katanya suatu sore ketika seorang ibu menyelipkan amplop ke tangannya. "Saya tidak membutuhkan itu."
Jawaban tersebut sering membuat orang tersenyum, tetapi tidak selalu membuat mereka mengerti. Pak Rahman hanya pensiunan guru sekolah dasar yang hidup sederhana bersama istrinya. Rumahnya kecil, kebunnya tidak seberapa, dan sepeda motornya sudah berkali kali masuk bengkel. Ia sebenarnya membutuhkan uang seperti orang lain, tetapi setiap kali berbicara tentang mengajar, wajahnya berubah seolah sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih penting daripada kebutuhan dirinya.
Di antara murid murid itu terdapat Fikri, anak lelaki berusia sembilan tahun yang paling sering datang terlambat. Ia tinggal bersama ibunya di rumah petak dekat sungai dan hampir setiap pagi membantu menjual gorengan sebelum berangkat sekolah. Ia sering mengantuk saat belajar, beberapa kali tidak mengerjakan tugas, dan pernah ketahuan mencuri pensil milik temannya.
Pak Rahman marah ketika mengetahui hal itu.
"Kalau kamu mengambil milik orang lain, bagaimana orang akan percaya kepadamu?"
Fikri menunduk. Ia tidak menjawab karena memang tidak punya alasan yang baik. Ketika anak anak lain pulang, Pak Rahman menyuruhnya tetap tinggal dan menyelesaikan latihan membaca yang belum dikerjakannya.
Sejak hari itu Fikri semakin sering dimarahi.
Kadang karena terlambat, kadang karena tidak membawa buku, kadang karena tertidur ketika Pak Rahman menjelaskan. Namun lelaki tua itu juga orang pertama yang menyadari bahwa Fikri sebenarnya cepat memahami pelajaran ketika ia mau berkonsentrasi. Karena itu, setiap kali Fikri mengatakan dirinya bodoh, Pak Rahman selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
"Kamu bukan bodoh. Kamu hanya terlalu cepat percaya bahwa kamu tidak mampu."
Fikri tidak menyukai kalimat itu.
Ia lebih suka ketika Pak Rahman memberi uang untuk membeli makanan, seperti beberapa orang dewasa lain di kampung. Menurutnya, uang lebih mudah dipahami daripada buku. Dengan uang, ia bisa membeli nasi. Dengan buku, ia hanya mendapatkan pekerjaan tambahan.
Suatu sore, Fikri tidak datang mengaji.
Hari berikutnya juga tidak.
Pada hari ketiga, Pak Rahman mendatangi rumahnya dan menemukan anak itu sedang membantu ibunya menggoreng pisang. Ibunya meminta maaf karena Fikri harus bekerja lebih banyak. Pak Rahman tidak marah. Ia hanya duduk sebentar, lalu meletakkan beberapa buku di dekat kompor.
"Kalau kamu tidak bisa datang ke masjid, saya yang akan datang."
Fikri memandangnya dengan heran.
"Bapak tidak capek?"
"Capek."
"Terus kenapa datang?"
Pak Rahman tersenyum.
"Karena dulu ada orang yang melakukan hal yang sama kepada saya."
Fikri tidak memahami maksudnya.
Beberapa tahun kemudian, ia baru menyadari bahwa kalimat itu bukan sekadar cerita. Tetapi sebelum sempat mengetahuinya, hidup membawa Fikri pergi dari kampung. Ia melanjutkan sekolah di kota, bekerja sambilan, kemudian mendapatkan beasiswa dan kuliah. Hubungannya dengan Pak Rahman tidak pernah benar benar putus, tetapi semakin lama kunjungannya semakin jarang.
Setiap kali pulang, ia selalu menemukan gurunya masih duduk di serambi masjid.
Usia Pak Rahman bertambah. Rambutnya memutih, pendengarannya berkurang, dan langkahnya tidak lagi setegap dahulu. Namun ia tetap membawa tas hitam tua yang sama. Tas itu sudah kusam, bagian sudutnya robek, dan talinya pernah dijahit beberapa kali.
"Kenapa tidak beli tas baru, Pak?" tanya Fikri suatu sore.
Pak Rahman menepuk tas itu.
"Yang lama masih bisa dipakai."
Fikri tertawa.
"Bapak memang terlalu hemat."
Pak Rahman tidak menjawab. Ia hanya membuka tas, mengambil sebuah buku, lalu mulai mengajar seperti biasa.
Tahun tahun berlalu.
Fikri mendapatkan pekerjaan tetap di kota. Ia mulai memiliki penghasilan cukup, menyewa rumah, dan sesekali mengirim uang kepada ibunya. Ia juga beberapa kali mengirimkan uang kepada Pak Rahman, tetapi uang itu selalu kembali.
"Jangan kirim uang," kata Pak Rahman melalui pesan singkat. "Kalau ingin membantu, datanglah mengajar."
Fikri membaca pesan itu sambil tersenyum. Ia merasa gurunya semakin tua dan semakin keras kepala.
Sampai suatu malam, kabar datang bahwa Pak Rahman jatuh sakit.
Fikri pulang.
Di rumah sederhana itu, ia melihat gurunya berbaring dengan napas yang berat. Istri Pak Rahman duduk di samping ranjang sambil memegang tas hitam tua yang selama puluhan tahun selalu dibawa suaminya ke masjid.
"Bapak masih memikirkan anak anak," katanya.
Fikri duduk di tepi ranjang.
"Besok saya antar ke rumah sakit."
Pak Rahman menggeleng.
"Besok kamu ke masjid."
"Saya bisa ke masjid setelah mengantar Bapak."
Pak Rahman menatapnya lama.
"Jangan."
Hanya satu kata, tetapi terdengar seperti perintah yang dahulu sering didengar Fikri ketika masih kecil.
Malam itu Pak Rahman meminta istrinya meninggalkan mereka berdua. Setelah pintu tertutup, ia menunjuk tas hitam di kursi.
"Buka."
Fikri mengambil tas itu.
Di dalamnya ada buku buku lama, beberapa pensil, papan tulis kecil, dan sebuah buku catatan berwarna cokelat. Fikri mengenali buku itu. Ia pernah melihat Pak Rahman menulis di dalamnya setelah selesai mengajar.
"Boleh saya baca?"
Pak Rahman mengangguk.
Halaman halaman pertama berisi daftar nama murid. Ada catatan tentang kemampuan membaca, kebiasaan belajar, keadaan keluarga, dan beberapa persoalan yang pernah mereka alami. Nama Fikri muncul di salah satu halaman paling awal.
Fikri membaca tulisan di samping namanya.
"Sering terlambat. Mudah menyerah. Cepat memahami pelajaran jika tidak sedang memikirkan masalah di rumah."
Ia tersenyum kecil.
"Yang ini masih benar sampai sekarang."
Pak Rahman ikut tersenyum.
Fikri membalik halaman.
Catatan berikutnya membuat senyumnya hilang.
"Jangan beri Fikri uang terlalu banyak. Ia harus belajar bahwa dirinya mampu berdiri sendiri."
Fikri menatap gurunya.
"Jadi Bapak sengaja tidak pernah memberi saya uang?"
"Saya pernah memberimu."
"Sedikit sekali."
"Karena kamu perlu belajar mencari lebih banyak."
Fikri tertawa pelan, tetapi matanya mulai basah.
Ia terus membaca.
Pada halaman berikutnya terdapat catatan tentang murid lain. Seorang anak yang hampir putus sekolah, seorang anak yang kehilangan ayah, seorang anak yang tidak pernah memiliki buku sendiri. Pak Rahman menuliskan apa yang harus dilakukan, bukan berapa banyak bantuan yang harus diberikan.
Kemudian Fikri menemukan halaman yang bertanggal jauh lebih lama.
Tanggal itu bahkan sebelum Fikri lahir.
Tulisan di sana berbeda. Lebih muda, lebih tegak, tetapi kalimatnya masih terasa seperti suara Pak Rahman.
"Saya menerima ilmu dari Pak Yusuf. Beliau tidak pernah meminta saya membayar. Beliau hanya meminta satu hal. Jangan simpan ilmu itu untuk diri sendiri."
Fikri berhenti membaca.
"Siapa Pak Yusuf?"
Pak Rahman memandang langit langit.
"Orang yang dulu mengajari saya."
"Bapak pernah cerita."
"Saya belum pernah menceritakan semuanya."
Pak Rahman mengambil napas panjang.
"Dulu saya juga anak yang sering datang terlambat. Saya bekerja setelah sekolah karena ibu saya tidak mampu membiayai hidup kami. Pak Yusuf adalah penjaga masjid tempat saya belajar. Ia tidak punya banyak uang, tetapi ia punya waktu dan pengetahuan."
Fikri diam.
"Ketika saya ingin berhenti sekolah, beliau mendatangi rumah saya. Ketika saya tidak punya buku, beliau membawakan buku. Ketika saya merasa bodoh, beliau mengatakan saya hanya terlalu cepat percaya bahwa saya tidak mampu."
Fikri perlahan mengangkat kepala.
Kalimat itu.
Kalimat yang sama.
Selama ini ia mengira Pak Rahman menciptakannya sendiri.
"Pak Yusuf meninggal sebelum saya menjadi guru," lanjut Pak Rahman. "Sebelum meninggal, beliau memberikan sebuah tas kepada saya."
Fikri melihat tas hitam di tangannya.
"Ini?"
Pak Rahman mengangguk.
"Sudah berapa lama?"
"Lebih dari lima puluh tahun."
Fikri terdiam cukup lama.
Ia tiba tiba memahami mengapa Pak Rahman tidak pernah mengganti tas itu. Bukan karena hemat. Bukan karena tidak mampu membeli yang baru. Tas itu adalah benda yang membawa sebuah janji dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun ada sesuatu yang belum ia mengerti.
"Kenapa Bapak memberikannya kepada saya?"
Pak Rahman tidak menjawab.
Ia mengambil buku catatan itu, membuka halaman terakhir, lalu menyerahkannya kepada Fikri.
Hanya ada satu kalimat.
"Kalau suatu hari Rahman tidak bisa datang lagi, berikan tas ini kepada anak yang paling membutuhkan ilmu."
Fikri menatap gurunya.
"Bapak sudah memilih saya?"
Pak Rahman tersenyum.
"Saya tidak memilih."
"Kenapa?"
"Karena dulu Pak Yusuf juga tidak memilih saya."
Fikri semakin bingung.
Pak Rahman menunjuk halaman terakhir.
"Beliau hanya mengajarkan saya. Selebihnya, saya yang memilih untuk meneruskan."
Pagi berikutnya, Pak Rahman meninggal dalam tidurnya.
Tidak ada upacara besar. Tidak ada berita di surat kabar. Hanya warga kampung, murid murid lama, dan anak anak yang pernah duduk di serambi masjid datang untuk mengantarkan ke pemakaman.
Setelah pemakaman selesai, Fikri kembali ke Masjid Al Hidayah.
Tas hitam itu berada di tangannya.
Sore menjelang Magrib, beberapa anak mulai berdatangan. Mereka duduk di tempat yang dahulu ditempati Pak Rahman. Fikri sempat merasa ragu.
Ia bukan guru agama.
Ia bukan orang yang pandai berceramah.
Ia bahkan masih sering merasa tidak tahu banyak hal.
Seorang anak mengangkat tangan.
"Pak, kita belajar apa hari ini?"
Fikri membuka tas.
Ia mengeluarkan buku pertama.
"Belajar membaca."
Anak itu mengangguk.
Beberapa menit kemudian, suara mereka memenuhi serambi masjid.
Fikri memperhatikan wajah anak anak itu satu per satu. Ia teringat dirinya sendiri ketika masih kecil, ketika menganggap buku tidak lebih berguna daripada uang dan mengira dirinya tidak akan menjadi siapa siapa.
Kemudian seorang anak bertanya.
"Pak, siapa yang mengajari Bapak?"
Fikri terdiam.
Ia memandang tas hitam di sampingnya, lalu membuka buku catatan yang diwariskan Pak Rahman.
Untuk pertama kalinya ia membaca sebuah catatan yang selama ini tidak pernah ia lihat.
Tulisan itu hanya satu baris.
"Fikri belum tahu bahwa suatu hari ia akan duduk di tempat saya."
Fikri tersenyum.
Ia menutup buku tersebut.
"Orang yang mengajari saya sudah tidak ada."
Anak anak menunggu.
Fikri mengambil pensil dan memberikannya kepada anak yang duduk paling depan.
"Tetapi pelajarannya belum selesai."
Ia mulai mengajar.
Di luar masjid, cahaya sore perlahan menghilang. Di dalam serambi, suara anak anak mengeja huruf demi huruf terdengar semakin jelas.
Tidak seorang pun mengetahui bahwa tas hitam yang berada di samping Fikri bukan sekadar peninggalan seorang guru.
Di dasar tas itu, tersembunyi sebuah pensil tua dengan nama yang terukir pada batangnya.
Yusuf.
Fikri belum pernah melihatnya sebelumnya.
Ia mengambil pensil itu, menatap ukiran nama tersebut, lalu meletakkannya kembali.
Kemudian ia melanjutkan pelajaran.
Sebab malam itu ia akhirnya mengerti, yang diwariskan Pak Rahman kepadanya bukan tas, bukan buku, bahkan bukan pengetahuan.
Yang diwariskan kepadanya adalah kewajiban untuk membuat ilmu itu terus berjalan.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY