
Keterangan Gambar : Cerpen: Musuh yang Tinggal di Seberang Jalan
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Pagi itu Daru menghitung tujuh sepeda motor dan tiga mobil berhenti di toko Damar sebelum pukul sembilan. Ia hafal jumlahnya karena selama hampir setengah jam hanya seorang perempuan membeli gula di kiosnya, itu pun berutang sampai akhir pekan. Ketika sebuah mobil kembali berhenti di seberang jalan, Daru meletakkan sapu lebih keras daripada semestinya. Dari balik tumpukan kardus, Damar mengangkat tangan dan tersenyum kepadanya.
Daru membalas lambaian itu sekadarnya. Dulu mereka berangkat sekolah dengan sepeda yang sama, bergantian mengayuh ketika rantai tidak lepas atau ban tidak bocor. Mereka bahkan pernah menjual gorengan buatan ibu Daru selepas sekolah untuk membeli sepatu sepak bola. Entah sejak kapan jarak selebar jalan kampung itu terasa lebih jauh daripada tahun tahun ketika Damar merantau.
Damar pulang dua tahun lalu membawa modal dan membuka toko sembako tepat di seberang kios peninggalan ayah Daru. Tokonya terang, raknya tinggi, dan truk pemasok datang hampir setiap pagi membawa beras, minyak, tepung, serta minuman kemasan. Daru tidak pernah mengakuinya, tetapi suara truk yang mundur di depan toko itu perlahan menjadi bunyi yang paling tidak disukainya. Setiap mendengarnya, ia seperti sedang mendengar seseorang menghitung kekalahannya.
Suatu siang Damar datang membeli dua bungkus kopi meskipun barang yang sama memenuhi rak tokonya sendiri. Ia memandang rak kayu Daru yang mulai lapuk dan mengatakan bahwa seorang distributor kenalannya sedang menawarkan harga barang lebih murah. “Kalau kau mau, nanti aku kenalkan,” katanya sambil meletakkan uang di meja. Daru memasukkan uang itu ke laci dan menjawab, “Tokoku belum perlu dikasihani.”
Damar terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. “Siapa yang mengasihani siapa, Daru, aku cuma menawarkan.” Ia membawa kopi itu pergi tanpa mengambil uang kembaliannya. Daru memanggilnya sekali, tetapi Damar sudah menyeberang dan sibuk menyambut pemasok yang baru datang.
Sejak hari itu Daru semakin rajin memperhatikan toko seberang. Ia mengetahui kapan Damar menerima beras, berapa banyak tabung gas yang datang, bahkan kendaraan pelanggan mana yang hampir setiap hari berhenti di sana. Ironisnya, ia mulai lupa nama beberapa pelanggan kiosnya sendiri. Seorang pelanggan pernah dua kali memanggil dari depan rak minyak sementara Daru sibuk menghitung kardus yang diturunkan di seberang.
Kecurigaannya memperoleh alasan baru ketika terdengar kabar bahwa Damar menyewa ruko kosong tepat di samping kios Daru. Pemilik ruko membenarkan bahwa uang muka sudah dibayar untuk satu tahun. Beberapa hari kemudian Daru melihat dua orang dari perusahaan distribusi datang membawa map dan mengukur bagian belakang bangunan. Malam itu untuk pertama kalinya ia benar benar percaya bahwa Damar sedang mempersiapkan sesuatu untuk menyingkirkannya.
“Kalau tokonya tambah besar, kiosmu bisa habis,” kata seorang pelanggan sambil menunggu beras ditimbang.
Daru hanya tersenyum. Namun setelah pelanggan itu pergi, ia memandang papan nama kios peninggalan ayahnya yang catnya mulai mengelupas. Bayangan tentang kios yang tutup dan nama ayahnya diturunkan dari dinding terasa jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan keuntungan.
Sore berikutnya Damar datang membawa kunci ruko baru. “Nanti kalau sudah beres, aku ingin bicara denganmu.”
“Bicara sekarang saja.”
“Belum bisa. Ada beberapa urusan yang belum selesai.”
Daru memandang kunci itu dan merasa jawaban tersebut cukup untuk membenarkan semua prasangkanya.
Beberapa minggu kemudian listrik toko Damar padam ketika pelanggan sedang ramai. Mesin kasir berhenti, lemari pendingin mati, dan pegawainya berlarian mencari kabel tambahan. Dari kiosnya, Daru melihat pelanggan berpindah ke tempat lain dan untuk sesaat merasakan kepuasan yang sulit ia akui. Malamnya, perasaan itu kembali terlintas ketika truk pemasok Damar gagal datang karena kerusakan mesin.
Pada masa itulah Bu Sari semakin sering berbelanja di kios Daru. Perempuan tua itu mengenal ayah Daru sejak kios tersebut masih berupa meja kayu di teras rumah. Suatu pagi uangnya kurang hampir dua puluh ribu rupiah untuk membeli beras, minyak, telur, dan gula. Daru memandang tangannya yang kurus, kemudian memasukkan seluruh belanjaan ke kantong tanpa mengurangi satu pun.
“Bayarnya kapan kapan saja, Bu.”
Bu Sari tersenyum sambil merapikan kerudungnya. “Ayahmu dulu juga begitu.”
Daru tidak menjawab. Setelah perempuan itu pergi, ia melihat ada beberapa tetes air di lantai dekat pintu meskipun pagi itu tidak turun hujan.
Dua hari kemudian dapur rumah Bu Sari terbakar akibat korsleting. Tidak ada korban, tetapi sebagian atap rusak dan perabotan hangus. Damar datang membawa terpal, makanan, dan beberapa pekerja, sementara Daru berdiri cukup lama di antara warga dengan tangan kosong. Menjelang malam ia membeli seng dan kayu lalu meminta tukang mengantarkannya tanpa menyebut siapa yang membayar.
Esoknya Bu Sari datang membawa pisang rebus. “Ayahmu pasti senang melihatmu sekarang,” katanya.
Daru tertawa kecil. “Bapak sudah sebelas tahun meninggal, Bu.”
“Saya tahu.”
Bu Sari menatapnya beberapa saat, kemudian berjalan keluar sambil membawa payung tua berwarna gelap meskipun matahari sedang terik.
Hari hari berikutnya Daru mulai sibuk dengan kiosnya sendiri. Ia memperbaiki rak, membersihkan gudang, dan mulai mengantar belanjaan pelanggan lanjut usia yang rumahnya tidak terlalu jauh. Pendapatannya tidak berubah secara ajaib, tetapi pelanggan mulai kembali. Anehnya, semakin sedikit waktu yang ia gunakan untuk melihat toko Damar, semakin jarang ia merasa kekurangan.
Namun kecurigaan itu belum sepenuhnya hilang. Suatu malam Daru melihat lampu ruko baru menyala dan beberapa pekerja memasukkan rak besar. Pada kaca depan sudah terpasang kertas berisi gambar rancangan gudang dan jalur distribusi. Nama Damar tercetak besar di sudut dokumen, sementara nama Daru tidak terlihat di mana pun.
Tiga hari kemudian sebuah sepeda motor terjatuh di tikungan dekat pasar. Daru yang sedang mengantar pesanan mengenali jaket pengendaranya sebelum melihat wajahnya. Damar tergeletak di tepi jalan dengan darah mengalir dari pelipis, sementara beberapa orang berdiri kebingungan. Untuk sepersekian detik Daru teringat semua keburukan yang pernah ia harapkan terjadi pada lelaki itu.
Ia bisa menunggu orang lain bertindak. Ia juga bisa meneruskan perjalanan dan berpura pura tidak melihat. Namun ketika Damar membuka mata dan menyebut namanya, Daru meninggalkan sepeda motornya di pinggir jalan lalu mengangkat tubuh sahabat lamanya ke mobil seorang warga.
Operasi berlangsung hampir tiga jam. Ibu Damar duduk di lorong rumah sakit sambil menggenggam tasbih dan sesekali menangis. Daru tidak banyak berbicara karena di kepalanya berputar satu pertanyaan yang terasa semakin menyakitkan. Bagaimana mungkin kesulitan seseorang pernah membuatnya bahagia, sementara kemungkinan kehilangan orang yang sama membuat dadanya terasa kosong?
Damar sadar keesokan paginya. Wajahnya pucat dan suaranya masih lemah ketika meminta Daru mendekat.
“Ruko sebelahmu sudah jadi?”
Daru tersenyum hambar. “Kau masih sempat memikirkan toko?”
“Aku takut kau keburu marah sebelum aku menjelaskannya.”
Damar meminta ibunya mengambil map dari tas hitam. Di dalamnya terdapat rancangan gudang distribusi yang selama ini hanya sempat dilihat Daru dari kejauhan. Ruko tersebut memang disewa Damar, tetapi bukan untuk membuka toko baru. Tempat itu akan digunakan sebagai gudang agar beberapa kios kecil di kampung dapat membeli barang langsung dari distributor dengan harga lebih rendah.
“Namamu tidak ada di gambar,” kata Daru.
“Karena kau belum bilang mau.”
Jawaban itu membuat Daru terdiam.
Damar mengaku sengaja belum menjelaskan karena pengajuan kerja sama dengan distributor belum disetujui. Ia tidak ingin memberikan harapan sebelum semuanya pasti, terlebih Daru selalu menolak setiap kali ditawari bantuan. “Aku memang kadang terlalu merasa tahu apa yang baik untuk orang lain,” katanya. “Mungkin itu salahku.”
Untuk pertama kalinya Daru melihat Damar bukan sebagai orang yang menang dalam kehidupan. Ia melihat seorang sahabat yang juga bisa keliru, gagal menjelaskan niat, dan tanpa sadar melukai harga diri orang lain. Yang membedakan mereka hanyalah Damar tidak pernah menjadikan kesalahan Daru sebagai alasan untuk membencinya.
Beberapa bulan kemudian gudang itu mulai beroperasi. Tidak ada papan besar dengan nama Damar dan tidak ada toko baru yang menelan kios Daru. Justru beberapa pedagang kecil datang mengambil barang di sana, termasuk Daru, yang akhirnya dapat menjual beberapa kebutuhan dengan harga lebih murah. Jalan di antara kedua toko tetap sama lebarnya, tetapi tidak lagi terasa seperti garis pemisah.
Pada suatu sore menjelang hujan, Bu Sari datang membawa amplop kecil. Ia mengenakan kerudung pucat dan membawa payung gelap yang pernah dilihat Daru sebelumnya. Perempuan itu meletakkan amplop di meja sambil mengatakan bahwa utangnya sudah terlalu lama. Daru hendak menolak, tetapi Bu Sari sudah berjalan menuju pintu.
Bel di atas pintu tidak berbunyi ketika perempuan itu keluar.
Daru sempat memandangnya, tetapi telepon dari pemasok membuat perhatiannya beralih. Ketika teringat kembali, jalan di depan kios sudah diguyur hujan. Anehnya, tidak ada bekas telapak kaki basah di lantai. Hanya aroma minyak rambut yang samar tertinggal di dekat meja, aroma yang dahulu selalu ia cium setiap kali ayahnya membuka kios selepas mandi pagi.
Malamnya Daru membuka amplop tersebut. Tidak ada uang di dalamnya, hanya selembar kertas tua dengan lipatan menguning. Ia langsung mengenali tulisan ayahnya pada baris pertama, tulisan yang sama dengan catatan utang pelanggan yang masih tersimpan di laci meja.
Daru membaca kalimat itu dua kali. Ayahnya menulis tentang manusia yang terlalu sibuk menghitung isi lumbung tetangga sampai lupa mensyukuri beras di rumah sendiri. Pada bagian bawah terdapat satu kalimat pendek yang membuat Daru teringat semua pagi ketika ia berdiri di depan kios menghitung kendaraan pelanggan Damar.
Ia mengambil payung dan berjalan menuju rumah Bu Sari. Rumah itu gelap, pintunya terkunci, dan beberapa kursi masih tersusun di teras. Tetangga sebelah keluar setelah mendengar Daru memanggil dan memandangnya dengan heran.
“Mencari Bu Sari?”
Daru mengangguk.
“Beliau meninggal tiga hari lalu di rumah anaknya.”
Hujan seperti mendadak kehilangan suara. Daru berdiri di depan pagar dengan amplop di tangan, mencoba mengingat wajah perempuan yang sore tadi berbicara kepadanya. Ia ingin mengatakan bahwa itu mustahil, tetapi tidak satu pun kata keluar dari mulutnya.
Keesokan pagi ia meminta Damar membuka rekaman kamera yang menghadap kios. Mereka memutar rekaman waktu kedatangan Bu Sari berkali kali. Tidak ada perempuan tua memasuki kios, tidak ada payung gelap melewati jalan, dan tidak ada siapa pun berdiri di depan meja.
Yang terlihat hanya Daru.
Dalam rekaman itu ia berjalan menuju laci tua peninggalan ayahnya, membukanya, lalu mengambil sebuah amplop yang terselip jauh di bagian belakang. Setelah itu ia berdiri cukup lama menghadap kursi kosong seolah sedang mendengarkan seseorang berbicara. Damar hendak mengatakan sesuatu, tetapi Daru mengangkat tangan memintanya diam.
Malam berikutnya Daru kembali membaca kertas peninggalan ayahnya. Tidak ada kalimat tentang Damar, kekayaan, kemenangan, atau kekalahan. Hanya nasihat sederhana agar seseorang tidak menghabiskan hidup untuk membenci keberuntungan manusia lain ketika masih begitu banyak kebaikan yang dapat dilakukan dengan tangannya sendiri.
Pagi berikutnya Daru membuka kios seperti biasa. Sebuah truk berhenti di depan gudang Damar, kemudian dua mobil dan beberapa sepeda motor menyusul. Tanpa sadar ia hampir mulai menghitungnya, seperti kebiasaan yang telah bertahun tahun tinggal di kepalanya. Namun kali ini Daru berhenti pada angka satu.
Damar berdiri di seberang jalan dan mengangkat tangan. Daru membalas lambaian itu, lalu melihat wajahnya sendiri memantul samar pada kaca etalase toko di hadapannya. Selama bertahun tahun ia mengira musuhnya membuka toko di seberang jalan. Baru pagi itu ia mengerti bahwa musuh tersebut selalu menutup kios dan pulang bersamanya setiap malam.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY