Home Artikel Di Ambang Ajal, Mushaf Tetap Digenggam

Di Ambang Ajal, Mushaf Tetap Digenggam

3
0
SHARE
Di Ambang Ajal, Mushaf Tetap Digenggam

Keterangan Gambar : Jabatan tertinggi di sebuah negara tidak mampu menunda datangnya ajal walau hanya sedetik. Kekuasaan yang pernah digenggam puluhan tahun pun kehilangan maknanya ketika seseorang berdiri di hadapan kematian. Yang tersisa hanyalah keyakinan, amal perbuatan, dan apa yang masih dianggap paling berharga untuk dibawa menuju detik-detik terakhir kehidupan.


Perwirasatu.co.id, 30 Juli 2026.

Pada akhirnya, kematian adalah peristiwa yang menghapus seluruh jarak antara penguasa dan rakyat biasa. Jabatan tertinggi di sebuah negara tidak mampu menunda datangnya ajal walau hanya sedetik. Kekuasaan yang pernah digenggam puluhan tahun pun kehilangan maknanya ketika seseorang berdiri di hadapan kematian. Yang tersisa hanyalah keyakinan, amal perbuatan, dan apa yang masih dianggap paling berharga untuk dibawa menuju detik-detik terakhir kehidupan.

Subuh 30 Desember 2006, Baghdad masih diselimuti udara dingin ketika Saddam Hussein memasuki ruang eksekusi di bekas markas intelijen militer Irak di kawasan Kazimiyah. Beberapa menit kemudian, hidup seorang mantan Presiden Irak yang pernah ditakuti di Timur Tengah akan berakhir di bawah tali gantungan. Peristiwa itu segera menjadi salah satu momen paling monumental dan kontroversial dalam sejarah politik modern dunia.

Di hadapan ruang eksekusi, tidak ada lagi istana kepresidenan, pasukan pengawal, ataupun pidato-pidato politik yang dahulu menggetarkan lawan dan pendukungnya. Seluruh simbol kekuasaan telah ditanggalkan oleh sejarah. Saddam Hussein tidak lagi berdiri sebagai kepala negara yang selama hampir seperempat abad mengendalikan Irak dengan tangan besi. Ia hadir sebagai seorang manusia yang sedang menunggu ajalnya sendiri.

Yang menarik perhatian dunia bukan hanya pelaksanaan hukuman mati tersebut, melainkan bagaimana Saddam Hussein memilih menghadapi detik-detik terakhir kehidupannya. Ia mengenakan jas hitam sebagaimana yang kerap digunakannya semasa berkuasa. Di tangannya tergenggam sebuah mushaf Al-Qur'an yang tidak pernah dilepaskannya sejak memasuki ruang eksekusi.

Pilihan itu bukanlah sesuatu yang sederhana. Dalam situasi ketika seluruh atribut duniawi telah dilucuti, seseorang biasanya akan kembali kepada apa yang paling diyakininya. Ada yang memilih diam, ada yang memilih menangis, dan ada pula yang memilih menyampaikan permintaan terakhirnya. Saddam Hussein memilih menggenggam Al-Qur'an dan mempertahankan martabat yang menurut keyakinannya masih dapat dijaganya hingga detik terakhir kehidupannya.

Menurut sejumlah kesaksian yang dimuat media internasional, Saddam Hussein juga meminta agar mantelnya tidak dilepas ketika memasuki ruang eksekusi. Udara Baghdad pada pagi itu cukup dingin. Ia tidak ingin tubuhnya menggigil dan disalahartikan sebagai ketakutan menghadapi kematian. Benar atau tidaknya bagaimana perasaan yang berkecamuk dalam dirinya ketika itu tentu hanya Saddam Hussein yang mengetahuinya. Akan tetapi, satu hal yang dapat dipastikan adalah para saksi mata menyatakan ia berada dalam keadaan sadar sepenuhnya dan mengetahui dengan jelas apa yang sedang dihadapinya.

Ada sisi psikologis yang menarik untuk dibaca dari peristiwa tersebut. Psikologi modern menjelaskan bahwa manusia yang menghadapi ancaman kematian akan berusaha mempertahankan identitas dirinya hingga saat-saat terakhir. Sebagian orang mempertahankan simbol keyakinannya, sebagian lainnya mempertahankan simbol kehormatan dirinya. Pada diri Saddam Hussein, kedua hal itu tampak hadir secara bersamaan. Ia mempertahankan penampilannya sebagai seorang pemimpin sekaligus mempertahankan kedekatannya dengan kitab suci yang digenggamnya.

Namun, membaca peristiwa ini secara jernih juga menuntut kita untuk tidak terjebak pada dua kutub penilaian yang ekstrem. Menggenggam Al-Qur'an pada detik-detik terakhir kehidupan tidaklah serta-merta menghapus seluruh catatan sejarah seseorang. Sebaliknya, vonis pengadilan yang dijatuhkan kepada seseorang juga tidak menghilangkan sisi kemanusiaannya sebagai manusia yang akan menghadapi kematian.

Karena itulah, Saddam Hussein harus dibaca secara utuh dan proporsional. Ia adalah mantan Presiden Irak yang dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tinggi Irak atas kejahatan terhadap kemanusiaan dalam perkara pembunuhan 148 warga Syiah di Dujail pada tahun 1982. Di bawah pemerintahannya pula, Irak mengalami perang berkepanjangan dengan Iran selama delapan tahun dan invasi ke Kuwait yang kemudian mengubah peta politik kawasan Timur Tengah selama beberapa dekade berikutnya.

Sebagian rakyat Irak mengenangnya sebagai pemimpin yang menjaga persatuan negaranya di tengah ancaman konflik kawasan. Sebagian lainnya mengingatnya sebagai simbol otoritarianisme yang meninggalkan luka kemanusiaan yang panjang. Perbedaan penilaian tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari perdebatan sejarah modern Irak.

Karena itu, feature ini tidak dimaksudkan untuk memuliakan ataupun mengutuk Saddam Hussein. Peristiwa pada pagi 30 Desember 2006 justru memberikan ruang yang lebih luas bagi kita untuk merenungkan satu kenyataan yang sering kali dilupakan manusia modern, yakni bahwa kekuasaan memiliki batas akhirnya sendiri. Setinggi apa pun kedudukan seseorang, pada akhirnya ia akan berhadapan dengan kematian seorang diri.

Ada ironi besar yang tersimpan dalam peristiwa tersebut. Seorang penguasa yang pernah memimpin lebih dari dua puluh lima juta rakyat Irak akhirnya hanya membawa sebuah mushaf Al-Qur'an menuju ruang eksekusi. Ia tidak membawa simbol-simbol kekuasaan yang dahulu melekat pada dirinya. Yang masih digenggamnya hanyalah sesuatu yang diyakininya memiliki nilai jauh melampaui kekuasaan duniawi.

Beberapa menit sebelum ajal menjemputnya, sejarah seakan sedang memperlihatkan kepada dunia bahwa kematian memiliki caranya sendiri untuk menyederhanakan manusia. Ia meruntuhkan seluruh atribut yang selama ini diperebutkan dalam kehidupan. Jabatan, kekuasaan, dan kemasyhuran pada akhirnya tidak lagi mempunyai makna yang sama ketika seseorang berdiri di hadapan ajalnya sendiri.

Subuh di Baghdad itu bukan hanya mencatat berakhirnya kehidupan seorang mantan presiden. Ia juga menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih mendalam tentang kekuasaan, keyakinan, kemanusiaan, dan bagaimana manusia memilih menghadapi detik-detik terakhir kehidupannya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat peristiwa tersebut tetap menarik untuk dibaca hampir dua dekade setelah tali gantungan itu dijatuhkan.

Pagi itu, ruang eksekusi di Baghdad tidak hanya menjadi tempat berakhirnya kehidupan Saddam Hussein, tetapi juga menjadi panggung yang memperlihatkan betapa rumitnya hubungan antara politik, hukum, agama, dan dendam sejarah yang selama puluhan tahun terpendam di Irak. Apa yang semestinya berlangsung sebagai pelaksanaan sebuah putusan pengadilan justru berubah menjadi peristiwa yang menyisakan kontroversi panjang hingga hari ini.

Pelaksanaan hukuman mati terhadap Saddam Hussein berlangsung hanya lima puluh enam hari setelah putusan pengadilan dijatuhkan. Pemerintah Irak memilih hari pertama Iduladha 1427 Hijriah sebagai waktu pelaksanaannya. Keputusan tersebut sejak awal menuai kritik dari berbagai kalangan internasional. Bagi sebagian umat Islam, Iduladha merupakan momentum yang sarat dengan makna pengorbanan, pengampunan, dan persaudaraan. Karena itu, pelaksanaan hukuman mati pada hari besar keagamaan tersebut dipandang kurang sensitif terhadap dimensi sosial dan religius masyarakat Muslim dunia.

Kontroversi pelaksanaan eksekusi semakin menguat ketika rekaman video yang diambil menggunakan telepon genggam secara diam-diam tersebar ke seluruh dunia beberapa jam setelah Saddam Hussein dieksekusi. Video tersebut memperlihatkan suasana ruang eksekusi yang jauh dari kesan tenang dan khidmat sebagaimana lazimnya pelaksanaan putusan pengadilan. Terdengar ejekan yang ditujukan kepada Saddam Hussein dan seruan yang memuji Muqtada al-Sadr, tokoh politik Syiah Irak yang memiliki sejarah panjang pertentangan dengan rezim Saddam Hussein.

Suasana yang semula dimaksudkan sebagai pelaksanaan proses hukum kemudian berubah menjadi simbol pertarungan identitas politik dan sektarian yang telah lama membelah Irak. Sejumlah pengamat internasional menilai bahwa peristiwa tersebut justru memperlihatkan belum pulihnya luka sosial dan politik yang diwariskan oleh konflik berkepanjangan di negara itu. Tidak sedikit pihak yang berpendapat bahwa proses pelaksanaan eksekusi telah mengurangi makna kemenangan hukum yang ingin ditampilkan pemerintah Irak kepada dunia internasional.

Pemerintah Amerika Serikat yang sebelumnya mendukung pelaksanaan hukuman mati terhadap Saddam Hussein bahkan mengkritik cara pelaksanaannya yang dianggap tidak mencerminkan penghormatan terhadap martabat proses peradilan. Kritik serupa juga disampaikan berbagai organisasi hak asasi manusia internasional yang menilai pelaksanaan eksekusi tersebut tidak sepenuhnya memenuhi standar penghormatan terhadap hak-hak terpidana dalam menjalani putusan pengadilan.

Human Rights Watch misalnya menyatakan bahwa sejak awal proses peradilan Saddam Hussein telah menyisakan berbagai persoalan serius, mulai dari independensi lembaga peradilan hingga persoalan keamanan para hakim dan penasihat hukum yang terlibat di dalamnya. Beberapa pengacara Saddam Hussein bahkan dilaporkan terbunuh selama proses persidangan berlangsung. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa perkara yang dihadapi Saddam Hussein tidak pernah berdiri semata-mata sebagai perkara hukum, melainkan juga merupakan pertemuan antara kepentingan politik domestik Irak dan dinamika geopolitik internasional.

Di tengah suasana yang penuh ketegangan tersebut, terdapat satu adegan yang justru paling banyak dikenang dunia, yakni ketika Saddam Hussein menolak penutup kepala hitam yang merupakan bagian dari prosedur standar pelaksanaan hukuman gantung. Ia memilih menghadapi kematian dengan wajah terbuka dan pandangan yang tidak tertutup kain hitam.

Pilihan itu tentu memiliki banyak kemungkinan makna. Sebagian kalangan memaknainya sebagai simbol keberanian seorang mantan penguasa yang memilih menghadapi kematian secara terbuka. Sebagian lainnya memandangnya sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan citra dirinya di hadapan sejarah. Apa pun penafsirannya, satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa penolakan tersebut benar-benar terjadi dan dikonfirmasi oleh sejumlah saksi mata yang hadir di ruang eksekusi.

Akan tetapi, yang jauh lebih menarik perhatian adalah mushaf Al-Qur'an yang terus berada dalam genggamannya. Sesaat sebelum tali gantungan dilingkarkan ke lehernya, Saddam Hussein mengulurkan mushaf tersebut kepada salah seorang yang berada di dekatnya. Ia kemudian menyampaikan permintaan terakhir yang hingga hari ini masih menyisakan pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.

"Aku ingin Al-Qur'an ini diberikan kepada orang ini," demikian permintaannya sambil menyebut satu nama, Bander.

Siapakah Bander?

Hingga kini tidak terdapat penjelasan resmi yang benar-benar memastikan identitas orang yang dimaksud Saddam Hussein. Mouwafak al-Rubaie yang menyaksikan secara langsung pelaksanaan eksekusi mengaku tidak mengenal siapa sosok yang disebut Saddam Hussein tersebut. Berbagai laporan media internasional pun tidak berhasil menemukan penjelasan yang pasti mengenai identitasnya.

Sebagian kalangan menduga Bander merupakan kerabat dekat ataupun orang kepercayaan Saddam Hussein. Ada pula yang berpendapat bahwa ia merupakan seseorang yang sejak lama memiliki hubungan personal dengan keluarga Saddam Hussein. Namun, seluruh dugaan tersebut tidak pernah memperoleh konfirmasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun jurnalistik. Dengan demikian, identitas Bander hingga kini masih menjadi ruang kosong dalam catatan sejarah mengenai detik-detik terakhir kehidupan Saddam Hussein.

Justru karena itulah, penulisan sejarah dituntut untuk tetap berhati-hati. Seorang penulis feature tidak boleh mengisi ruang kosong sejarah dengan asumsi ataupun romantisasi yang tidak memiliki landasan faktual yang kuat. Fakta yang dapat dipertanggungjawabkan hanyalah bahwa Saddam Hussein meminta agar mushaf Al-Qur'an miliknya diserahkan kepada seseorang bernama Bander. Di luar fakta tersebut, seluruh penjelasan lainnya masih berada dalam wilayah dugaan.

Beberapa saat kemudian, Saddam Hussein mulai melafalkan dua kalimat syahadat. Sejumlah saksi mata menyatakan bahwa ia mengucapkan "Allahu Akbar" dan menyerukan kemenangan bagi bangsanya serta Palestina sebagai tanah Arab sebelum proses eksekusi dilaksanakan. Tidak lama kemudian, pintu gantungan dibuka dan kehidupannya pun berakhir pada pukul 06.00 waktu setempat.

Ironisnya, justru bukan pelaksanaan hukuman mati itu sendiri yang paling lama diingat dunia internasional. Yang terus dikenang adalah bagaimana suasana ruang eksekusi tersebut memperlihatkan bahwa sebuah bangsa yang baru saja keluar dari perang ternyata masih menyimpan luka yang begitu dalam. Ejekan, slogan politik, dan pertentangan sektarian yang terdengar pada pagi itu menjadi cermin bahwa keadilan hukum tidak selalu mampu dengan segera menghadirkan rekonsiliasi sosial.

Di titik inilah, tragedi Saddam Hussein melampaui dirinya sebagai seorang individu. Peristiwa tersebut menjelma menjadi gambaran tentang betapa sulitnya sebuah bangsa keluar dari lingkaran dendam sejarah yang panjang. Ketika hukum, politik, dan identitas keagamaan saling bertemu dalam satu ruang yang sama, keadilan sering kali menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menjatuhkan sebuah vonis.

Di tengah seluruh kontroversi itulah, sejarah tetap mencatat satu kenyataan yang sederhana. Beberapa menit sebelum ajal menjemputnya, seorang mantan penguasa Irak memilih menggenggam Al-Qur'an, menolak penutup kepala hitam, dan menyebut satu nama yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya: Bander.

Ada satu pelajaran yang sering kali luput dibicarakan ketika dunia membahas peristiwa eksekusi Saddam Hussein, yakni kenyataan bahwa kematian memiliki kemampuannya sendiri untuk menyederhanakan manusia. Sejarah boleh mengingat seseorang sebagai penguasa, pahlawan, penjahat perang, diktator, ataupun korban dari situasi politik yang rumit. Akan tetapi, kematian tidak pernah mengenal seluruh gelar dan penilaian tersebut. Di hadapan ajal, manusia kembali menjadi dirinya yang paling sederhana, seorang hamba yang akan mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Tuhan.

Mungkin karena itulah, peristiwa pada pagi yang dingin di Baghdad tersebut terus menarik perhatian dunia hingga hari ini. Yang dikenang bukan hanya bagaimana Saddam Hussein dihukum mati, melainkan juga bagaimana ia memilih menghadapi kematiannya. Sejarah tidak hanya mencatat vonis yang dijatuhkan kepadanya, tetapi juga mencatat mushaf Al-Qur'an yang digenggamnya hingga detik-detik terakhir kehidupannya.

Dari sudut pandang psikologi, manusia yang sedang menghadapi kematian akan berusaha kembali kepada sesuatu yang dianggap paling bermakna dalam hidupnya. Psikolog Amerika Serikat, Ernest Becker, dalam karyanya The Denial of Death menjelaskan bahwa manusia selalu berupaya mempertahankan makna eksistensial dirinya ketika berhadapan dengan kematian. Sebab itu, simbol-simbol yang dipilih seseorang menjelang ajal sering kali memperlihatkan apa yang selama ini dianggap paling penting dalam kehidupannya.

Bagi sebagian orang, yang dipertahankan adalah keluarganya. Sebagian lainnya mempertahankan nama baiknya, kehormatannya, ataupun keyakinan yang selama ini dipeluknya. Saddam Hussein tampaknya memilih mempertahankan dua hal sekaligus, yakni martabat dirinya dan simbol keyakinan yang diwakili oleh mushaf Al-Qur'an yang digenggamnya. Tentu saja, tidak seorang pun dapat memastikan bagaimana hubungan spiritual seseorang dengan Tuhannya selain dirinya sendiri. Persoalan tersebut sepenuhnya berada dalam wilayah yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Karena itulah, tulisan ini sejak awal tidak dimaksudkan untuk menghakimi bagaimana akhir kehidupan Saddam Hussein. Penilaian tentang keselamatan ataupun kebinasaan seseorang bukanlah wilayah manusia. Sejarah bertugas mencatat fakta-fakta yang terjadi, sedangkan urusan pengadilan yang sesungguhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Apa yang dapat dilakukan manusia hanyalah membaca sejarah secara jujur, kritis, dan proporsional.

Di sisi yang lain, peristiwa tersebut juga mengajarkan bahwa kekuasaan ternyata memiliki usia yang sangat terbatas. Saddam Hussein pernah menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh di Timur Tengah. Selama lebih dari dua dekade, kebijakan-kebijakannya tidak hanya memengaruhi Irak, tetapi juga menentukan arah politik kawasan. Akan tetapi, seluruh kekuasaan tersebut berakhir hanya dalam hitungan menit di sebuah ruang eksekusi yang tidak terlalu luas di Baghdad.

Peristiwa itu sesungguhnya sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih universal daripada sekadar kisah tentang Saddam Hussein. Sejarah manusia selalu dipenuhi oleh kisah-kisah yang serupa. Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan pun berakhir di dalam lautan. Raja-raja besar dalam sejarah dunia pada akhirnya juga meninggalkan istana-istana yang dahulu mereka banggakan. Tidak ada kekuasaan yang mampu mengalahkan waktu dan kematian.

Barangkali, di sinilah letak ironi terbesar dalam kehidupan manusia. Kita sering kali menghabiskan seluruh energi untuk mengejar apa yang bersifat sementara, tetapi melupakan apa yang justru akan menemani kita pada perjalanan yang paling panjang. Jabatan hanya bertahan beberapa tahun. Kekayaan dapat hilang dalam hitungan hari. Popularitas pun dapat berubah menjadi celaan hanya dalam satu peristiwa. Akan tetapi, kematian akan selalu datang tepat pada waktunya tanpa pernah meminta persetujuan siapa pun.

Subuh di Baghdad pada 30 Desember 2006 itu seakan sedang mempertontonkan sebuah paradoks kehidupan. Seorang mantan penguasa yang dahulu dikelilingi oleh ribuan pasukan pengawal akhirnya memasuki ruang eksekusi hanya ditemani beberapa orang petugas dan saksi. Seorang pemimpin yang pernah memerintahkan jutaan tentaranya bergerak pada akhirnya tidak lagi memiliki kuasa atas beberapa menit yang tersisa dalam hidupnya. Kekuasaan yang dahulu demikian besar ternyata tidak mampu membeli tambahan waktu walaupun hanya satu tarikan napas.

Mungkin, karena alasan itulah peristiwa tersebut tidak pernah selesai hanya dibaca sebagai sebuah berita politik. Ia juga merupakan sebuah catatan tentang kemanusiaan. Ketika seluruh simbol duniawi dilucuti oleh kematian, manusia akan kembali kepada apa yang selama ini paling diyakininya. Sebagian membawa penyesalan, sebagian membawa harapan, dan sebagian lainnya membawa keyakinannya menuju perjalanan yang tidak lagi dapat ditemani oleh siapa pun.

Sejarah boleh berbeda dalam menilai Saddam Hussein. Sebagian orang akan tetap melihatnya sebagai diktator yang bertanggung jawab atas berbagai tragedi kemanusiaan. Sebagian lainnya mungkin akan tetap mengenangnya sebagai pemimpin yang menjaga martabat bangsanya di tengah pergolakan politik internasional. Perbedaan penilaian tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah yang akan terus diperdebatkan.

Namun, terdapat satu kenyataan yang kiranya tidak akan diperdebatkan oleh siapa pun. Subuh itu di Baghdad, ketika seluruh kekuasaan telah dilucuti darinya, Saddam Hussein tidak membawa simbol-simbol kebesarannya menuju ruang eksekusi. Ia tidak menggenggam tongkat kekuasaan, tidak pula membawa lambang negara yang pernah dipimpinnya. Yang masih berada di tangannya hanyalah sebuah mushaf Al-Qur'an.

Barangkali, di situlah kematian sedang mengajarkan sesuatu kepada seluruh manusia. Bahwa pada akhirnya kita tidak akan dikenal oleh apa yang pernah kita miliki, melainkan oleh apa yang tetap kita genggam ketika seluruh yang kita miliki telah pergi meninggalkan kita.

Sebab, di hadapan kematian, seorang presiden dan rakyat biasa sesungguhnya berdiri pada tempat yang sama. Yang membedakan bukanlah seberapa besar kekuasaan yang pernah dimiliki, melainkan apa yang telah dipersiapkan untuk menghadapi perjalanan yang tidak akan pernah kembali.

Dan subuh itu di Baghdad, sejarah mencatat bahwa seorang mantan presiden memilih berjalan menuju ajalnya dengan menggenggam sebuah mushaf Al-Qur'an.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home