Home Pendidikan Menemukan Daya Ungkit Diri Bupati Egi Buka Perspektif Mahasiswa Baru UIM Tentang Potensi dan Kekuatan

Menemukan Daya Ungkit Diri Bupati Egi Buka Perspektif Mahasiswa Baru UIM Tentang Potensi dan Kekuatan

4
0
SHARE
Menemukan Daya Ungkit Diri Bupati Egi Buka Perspektif Mahasiswa Baru UIM Tentang Potensi dan Kekuatan

Keterangan Gambar : Memasuki dunia perkuliahan mahasiswa baru dihadapkan pada banyak pilihan dan tantangan untuk menentukan arah masa depannya

Perwirasatu.co.id. Lampung Selatan. Memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa baru dihadapkan pada banyak pilihan dan tantangan untuk menentukan arah masa depannya. 

Karena itu, mengenali kekuatan dalam diri menjadi langkah penting agar setiap potensi yang dimiliki tidak berhenti sebagai kemampuan, tetapi dapat dikembangkan menjadi bekal untuk bertumbuh.

Pesan itu disampaikan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama saat menjadi pemateri dalam kegiatan Harmoni Akademik Nagamandala Untuk Anak Unggul Negeri (Hanuang) 2026 bagi mahasiswa baru Universitas Indonesia Mandiri (UIM) Tahun Akademik 2026/2027, di Kampus UIM, Kecamatan Penengahan, Rabu (16/9/2026).

Di hadapan ratusan mahasiswa baru, Egi mengajak peserta melakukan refleksi sederhana untuk mengenali kekuatan yang ada dalam diri masing-masing. 

Ia menyebut kekuatan tersebut sebagai “daya ungkit”, yakni potensi yang dapat menjadi modal untuk berkembang apabila dikenali dan dilatih secara konsisten.

“Daya ungkit adalah kekuatan. Kita sebagai insan manusia diciptakan dan dilahirkan dari rahim seorang ibu, melalui rahim ibu kita, itu pasti dibekali yang namanya kekuatan,” ujar Egi.

Untuk membuat mahasiswa tidak sekadar mendengar materi, Egi kemudian meminta peserta meluangkan waktu untuk memikirkan dan menuliskan kekuatan yang mereka miliki. Beberapa mahasiswa bahkan diminta maju ke depan untuk menyampaikan potensi masing-masing.

Jawaban yang muncul pun beragam. Ada mahasiswa yang menyebut kemampuan berorganisasi, public speaking, matematika, kepemimpinan, olahraga hingga ketertarikan pada dunia bisnis sebagai kekuatan yang mereka miliki.

Bagi Egi, keberanian mengenali potensi diri bukanlah bentuk kesombongan. Sebaliknya, kesadaran terhadap kekuatan yang dimiliki merupakan bagian dari proses memahami diri sekaligus menentukan ruang untuk berkembang.

“Sadar potensi bukan berarti sombong. Karena orang ingin tampil, orang ingin kasih tahu kalau punya kekuatan, banyak yang terganggu terus dibilang pamer,” katanya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ukuran untuk menilai perjalanan dirinya sendiri. 

Menurut Egi, apa yang terlihat sebagai keberhasilan sering kali hanya merupakan hasil akhir, sementara proses panjang di belakangnya tidak selalu terlihat.

“Orang sering terjebak dengan yang namanya bayang-bayang sukses. Tapi orang tidak pernah tahu seperti apa proses yang dilalui oleh orang tersebut,” ujarnya.

Egi kemudian membagikan pengalaman ketika menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menceritakan bahwa pilihan perguruan tinggi dan jurusan yang dijalaninya dahulu tidak sepenuhnya berangkat dari rencana awal.

Namun, perjalanan tersebut tetap menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya hingga saat ini. Dari pengalaman itu, Egi menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu merasa kehilangan arah ketika perjalanan yang ditempuh tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Menurutnya, yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengenali diri, menjalani setiap proses, serta terus mengembangkan kekuatan yang dimiliki.

Setelah menemukan “daya ungkit”, Egi mengatakan mahasiswa perlu mengubahnya menjadi kemampuan nyata melalui latihan dan pengalaman. Ia menggambarkan proses pengembangan diri dengan tahapan sederhana: memetakan potensi, melatihnya, mengeksekusi, mengevaluasi, lalu mengulanginya secara konsisten.

“Petakan, kemudian dilatih, lalu dieksekusi, kemudian dievaluasi. Terus diulangi. Karena prosesnya enggak ada yang namanya instan di dunia ini. Yang instan hanya Indomie. Indomie pun harus dimasak,” ujarnya yang disambut tawa peserta.

Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi mahasiswa baru UIM untuk memanfaatkan masa perkuliahan bukan hanya untuk mengejar capaian akademik, tetapi juga mengenali kemampuan, mencoba berbagai pengalaman dan menemukan bidang yang dapat mereka kembangkan.

Egi berharap mahasiswa dapat membawa satu hal penting dari kegiatan Hanuang 2026, yakni keberanian untuk mengenali kekuatan diri dan mulai mengembangkannya sejak sekarang.

“Yang paling penting keluar dari ruangan ini, adik-adik harus sudah mampu menemukan daya ungkit,” tegasnya.

Ia menutup pemaparannya dengan pesan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luas.

“Perubahan besar tidak dimulai dari hal yang besar. Perubahan besar dimulai dari hal yang sederhana,” kata Egi. 

Sumber

(Puddin A)

Iklan Detail Video

Iklan_home