Home Artikel Menjadikan Waktu Bernilai Ibadah

Menjadikan Waktu Bernilai Ibadah

44
0
SHARE
Menjadikan Waktu Bernilai Ibadah

Keterangan Gambar : secangkir kopi, makanan yang lezat, kemampuan membeli kebutuhan, kesehatan untuk bekerja, dan kesempatan pulang kepada orang-orang tercinta.

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Bekerja hampir sepanjang hari sering membuat kita merasa hidup hanya berputar antara kewajiban, kesibukan, dan kelelahan. Namun, di sela waktu yang sempit itu, Allah masih menghadirkan banyak nikmat: secangkir kopi, makanan yang lezat, kemampuan membeli kebutuhan, kesehatan untuk bekerja, dan kesempatan pulang kepada orang-orang tercinta. Kebahagiaan ternyata bukan selalu tentang banyaknya waktu luang, tetapi keberkahan dalam menjalaninya dengan syukur.

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia untuk mengejar akhirat, tetapi menuntun agar dunia menjadi jalan menuju akhirat. Bekerja mencari nafkah, menikmati makanan, beristirahat, bercengkerama dengan keluarga, bahkan menikmati secangkir kopi dapat bernilai kebaikan apabila disertai rasa syukur dan niat yang benar. Yang perlu kita khawatirkan bukan sekadar sedikitnya waktu, melainkan banyaknya waktu yang berlalu tanpa makna.

Allah mengingatkan betapa berharganya waktu dalam Surah Al-‘Ashr ayat 1–3:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan kehidupan bukan semata-mata apakah kita memiliki banyak atau sedikit waktu. Pertanyaannya adalah: untuk apa waktu itu digunakan? Satu jam yang dipenuhi ketaatan, kasih sayang, pekerjaan halal, dan manfaat dapat lebih berharga daripada sehari penuh yang berlalu tanpa tujuan.

Allah juga berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Karena itu, jangan merasa bersalah ketika sesekali menikmati hasil jerih payah yang halal. Makanlah makanan yang baik, nikmatilah minuman yang disukai, belilah sesuatu yang diperlukan, bahagiakan keluarga, dan beristirahatlah. Namun, jangan sampai kenikmatan menjadi tujuan akhir kehidupan. Jadikan semuanya sebagai alasan untuk semakin mengenal kemurahan Allah dan semakin banyak bersyukur.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengingatkan bahwa waktu luang bukan satu-satunya nikmat; kesehatan yang memungkinkan kita bekerja juga merupakan karunia besar. Maka ketika hari terasa sangat padat, jangan hanya menghitung berapa jam yang tersisa. Lihatlah berapa banyak kebaikan yang masih dapat kita tanam di dalamnya.

Bekerjalah dengan amanah, tetapi jangan kehilangan shalat. Carilah rezeki, tetapi jangan kehilangan keluarga. Nikmatilah dunia, tetapi jangan kehilangan akhirat. Beristirahatlah ketika tubuh memerlukannya, lalu bersyukurlah. Sisihkan waktu untuk Al-Qur’an, zikir, doa, sedekah, silaturahmi, dan membantu sesama.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki seluruh waktu untuk melakukan apa yang kita inginkan. Hidup adalah belajar menghadirkan Allah dalam waktu yang kita miliki. Ketika secangkir kopi melahirkan syukur, pekerjaan menjadi amanah, makanan menjadi nikmat yang disadari, dan penghasilan menjadi jalan berbagi, maka kesibukan pun dapat berubah menjadi ibadah. Semoga Allah tidak hanya memberi kita umur yang panjang, tetapi juga umur yang penuh berkah dan berarti.

Sumber

(Dwi Taufik Hidayat)

Iklan Detail Video

Iklan_home