Home Nasional Dua Tahun Prabowo-Gibran: Spanduk Raksasa Greenpeace Gegerkan Bundaran HI

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Spanduk Raksasa Greenpeace Gegerkan Bundaran HI

12
0
SHARE
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Spanduk Raksasa Greenpeace Gegerkan Bundaran HI

Keterangan Gambar : Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia memanjat patung ikonik itu dan membentangkan dua spanduk raksasa yang langsung membuat Istana Merdeka boleh jadi panas dingin: Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?

Perwirasatu.co.id, Jakarta - Tepat dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia pagi ini tidak lagi menyambut, tapi menggugat.

Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia memanjat patung ikonik itu dan membentangkan dua spanduk raksasa yang langsung membuat Istana Merdeka boleh jadi panas dingin:

- Spanduk menghadap Istana: "TANGANI KRISIS IKLIM, TURUNKAN BIAYA HIDUP!"

- Spanduk menghadap Selatan: "BENCANA MAKIN PARAH, HIDUP MAKIN SUSAH, APA KERJA PEMERINTAH?"

Ini bukan sekadar aksi teatrikal. Ini adalah tamparan keras berbasis riset dan membongkar kebohongan angka 5,45% yang digadang-gadang tersebut.

Greenpeace juga merilis laporan terbaru: "Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah."

Laporan itu, membongkar klaim Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR yang membanggakan pertumbuhan ekonomi 5,45% sebagai tertinggi dalam 13 tahun. 

"Siapa yang menikmati 5,45% itu? Yang kaya makin kaya dari eksploitasi alam, yang miskin makin sesak karena harga naik. Pertumbuhan yang mengorbankan lingkungan, akhirnya rakyat yang bayar," kata Atha Rasyadi, Ketua Tim Kampanye Sosial & Ekonomi Greenpeace.

Data risetnya brutal:

- 41% responden paling merasakan dampak krisis iklim di meja makan dan biaya pangan

- 39% merasakan pendapatan dan produktivitas anjlok

- 20% kesulitan tempat tinggal dan biaya transportasi

Nelayan, ojol, pekerja lepas adalah korban pertama. Banjir di Sumatera, karhutla berasap sebulan, cuaca ekstrem - semua bikin penghasilan hilang, harga pangan naik.

Tidak hanya itu, yang paling menyakitkan dari laporan ini: Rakyat disuruh adaptasi sendirian;

- 57,34% responden terpaksa pangkas konsumsi non-esensial, hemat Rp 50 ribu - 1 juta per bulan

- 38,78% terpaksa tanam sendiri cabai dan sayur di rumah

- 56,79% terpaksa cari kerja sampingan demi tambahan Rp 500 ribu - 2,5 juta

"Sementara pemerintah? Justru memprioritaskan anggaran pada program yang memperburuk beban, seperti Makan Bergizi Gratis yang memicu inflasi pangan dan pemangkasan anggaran penanggulangan bencana saat bencana datang bertubi-tubi," kata Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Iklim.

Hal ini juga kemarin jadi teriakkan Forum Wartawan Investigasi Nusantara (For-WIN), di poster opininya menyikapi statement Istana yang menyatakan: "KITA MASIH SANGGUP!" 

Faktanya, adalah; Pemerintah sanggup biarkan lahan terbakar, sanggup biarkan rakyat sesak napas, tapi tidak sanggup tetapkan status; DARURAT NASIONAL.

For-WIN menilai: Aksi Greenpeace hari ini adalah cermin dari kegagalan negara. Ketika pemerintah bilang "Kita masih sanggup", Greenpeace menjawab dengan data: "Rakyat yang tidak lagi sanggup".

Biaya hidup naik, bencana datang, lapangan kerja hilang, tapi anggaran bencana dipotong. Ini bukan lagi krisis iklim, ini krisis keberpihakan.

Pertanyaan Greenpeace yang paling tajam dan harus dijawab Istana hari ini juga adalah:  "Kalau rakyat harus menanggung sendiri dampak krisis iklim dan bencana yang berakibat pada kenaikan biaya hidup, lalu; Apa Kerja Pemerintah?"

(FC-Goest)

Iklan Detail Video

Iklan_home