
Keterangan Gambar : Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati lahir dari qanaah, tawakal, dan keyakinan bahwa rezeki telah diatur Allah
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Kemiskinan tidak selalu terlihat dari sedikitnya harta. Ada kemiskinan yang mengkhawatirkan: hati yang kehilangan syukur, pikiran yang dikuasai iri, dan jiwa yang terus takut kehilangan dunia. Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati lahir dari qanaah, tawakal, dan keyakinan bahwa rezeki telah diatur Allah. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan sekadar banyaknya harta, melainkan sejauh mana hatinya bersyukur, tenang, dan taat.
Allah berfirman dalam QS. Az-Zukhruf ayat 32:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Allah juga berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 32:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa banyaknya harta tidak otomatis menghadirkan ketenteraman. Seseorang dapat memiliki banyak, tetapi selalu merasa kurang. Sebaliknya, orang yang qanaah mampu menikmati nikmat sederhana dengan hati lapang. Harta hendaknya berada di tangan, bukan menjadi penguasa hati. Jadikan syukur sebagai penjaga hati setiap hari.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika hati panas melihat keberhasilan orang lain, tanyakanlah: sudahkah aku mensyukuri nikmat yang Allah titipkan? Bila rezeki terasa sempit, jangan biarkan ketakutan mendorong kepada keluhan, kedengkian, atau jalan yang haram. Tetaplah berikhtiar dan berdoa.
Ada yang diuji dengan kekurangan dan ada yang diuji dengan kelapangan. Yang satu membutuhkan sabar, yang lain membutuhkan syukur. Keduanya membutuhkan hati yang tunduk kepada Allah.
Jangan takut miskin karena sedikitnya dunia. Takutlah ketika hati menjadi miskin dari syukur, qanaah, dan tawakal. Dompet kosong masih dapat diisi melalui ikhtiar, tetapi hati yang dipenuhi iri akan terus merasa kosong. Semoga Allah menjadikan kita bersih dari dengki dan tenang menerima ketetapan-Nya.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)







.jpg)









LEAVE A REPLY