Home Artikel Jangan Ukur Harga Diri Dari Harta

Jangan Ukur Harga Diri Dari Harta

26
0
SHARE
Jangan Ukur Harga Diri Dari Harta

Keterangan Gambar : Jangan pernah mengukur harga diri manusia dari isi rekeningnya, sebab kekayaan bukan ukuran kemuliaan, sebagaimana kemiskinan bukan tanda kehinaan. Harta hanyalah titipan yang kelak dipertanggungjawabkan.


Perwirasatu.co.id, 19 Oktober 2026.

Jangan pernah mengukur harga diri manusia dari isi rekeningnya, sebab kekayaan bukan ukuran kemuliaan, sebagaimana kemiskinan bukan tanda kehinaan. Harta hanyalah titipan yang kelak dipertanggungjawabkan. Kemuliaan sejati tumbuh dari ketakwaan, kejujuran, kerendahan hati, dan kasih sayang. Jangan sampai kesibukan mengejar kekayaan membuat kita kehilangan kepedulian, merendahkan sesama, serta melupakan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Dalam kehidupan yang semakin menempatkan materi sebagai lambang keberhasilan, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan yang melelahkan. Rumah megah, kendaraan mewah, pakaian bermerek, dan besarnya saldo rekening seolah menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kehidupan dunia yang sifatnya sementara. Ada orang yang berlimpah harta, tetapi hatinya miskin ketenangan. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi jiwanya kaya dengan rasa syukur dan kasih sayang.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekayaan, keturunan, jabatan, atau kedudukan sosial, melainkan ketakwaannya kepada Allah. Harta boleh menjadi sarana kebaikan, tetapi tidak pernah menjadi jaminan kemuliaan di hadapan-Nya. Orang yang memiliki sedikit harta dapat menjadi mulia karena kesabaran dan ketakwaannya, sedangkan orang kaya kehilangan kehormatan apabila kekayaannya mendorong kesombongan dan kezaliman.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa penilaian terhadap manusia tidak semestinya berhenti pada penampilan dan kekayaan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim, no. 2564).

Hadis ini mengajak kita melakukan introspeksi. Jangan terlalu sibuk memperindah penampilan hingga melupakan kebersihan hati. Jangan terlalu bersemangat meningkatkan penghasilan hingga mengabaikan kejujuran. Jangan pula merasa lebih tinggi daripada orang lain hanya karena kehidupan kita tampak lebih berkecukupan. Sebab, yang menentukan nilai amal bukanlah kemewahan yang terlihat, melainkan keikhlasan hati dan kebaikan yang diwujudkan.

Kekayaan sesungguhnya merupakan amanah yang mengandung tanggung jawab. Di dalamnya terdapat hak keluarga, kewajiban zakat bagi yang memenuhi syarat, kesempatan bersedekah, serta peluang membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin luas pula kesempatan baginya untuk menghadirkan manfaat. Karena itu, kekayaan seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77).

Ayat tersebut tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia secara proporsional. Bekerja keras, membangun usaha, menabung, dan meraih kesejahteraan merupakan ikhtiar yang baik selama ditempuh dengan cara yang halal. Namun, semua itu harus tetap berada dalam bimbingan iman dan akhlak. Jangan sampai keberhasilan materi dibayar dengan hilangnya kejujuran, rusaknya persaudaraan, atau penderitaan orang lain.

Salah satu penyakit hati yang perlu diwaspadai adalah kesombongan. Kekayaan dapat menjadi ujian ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih penting, lebih pintar, atau lebih pantas dihormati daripada orang yang hidup sederhana. Padahal, manusia tidak pernah mengetahui secara pasti kedudukan orang lain di sisi Allah. Bisa jadi, seseorang yang tidak memiliki banyak harta justru lebih ikhlas dalam beribadah, lebih sabar menghadapi ujian, dan lebih tulus membantu sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.” (HR. Muslim, no. 91).

Hadis ini merupakan peringatan agar kita tidak membiarkan kesombongan tumbuh di dalam hati. Menghargai orang lain bukan berarti merendahkan diri secara tidak semestinya, melainkan menyadari bahwa setiap manusia memiliki martabat yang wajib dihormati. Jangan meremehkan pekerja kecil, pedagang sederhana, buruh harian, atau siapa pun yang penghasilannya tidak sebesar milik kita. Mereka tetap manusia yang memiliki kehormatan, perasaan, keluarga, dan perjuangan hidupnya sendiri.

Kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kaya, melainkan perjalanan untuk menunjukkan siapa yang paling mampu menjaga amanah, menebarkan manfaat, dan memelihara kemanusiaan. Ketika berada di atas, jangan lupa menghargai mereka yang berada di bawah. Ketika memiliki kelebihan, jangan menutup mata terhadap kekurangan orang lain. Ketika memperoleh keberhasilan, jangan lupakan doa, pertolongan, dan pengorbanan banyak pihak yang mungkin turut mengantarkan kita sampai pada titik tersebut.

Marilah kita membangun kekayaan tanpa kehilangan kerendahan hati, mengejar keberhasilan tanpa mengorbankan kejujuran, dan menikmati karunia tanpa melupakan mereka yang membutuhkan. Sebab, rekening dapat bertambah dan berkurang, jabatan dapat datang dan pergi, sedangkan kesempatan berbuat baik harus digunakan selama masih tersedia.

Semoga Allah SWT menjadikan kita manusia yang kaya dalam rasa syukur, lapang dalam berbagi, jujur dalam mencari rezeki, serta mulia dalam akhlak. Jangan ukur harga diri seseorang dari isi rekeningnya. Ukurlah diri kita melalui kesungguhan memperbaiki hati, ketulusan berbuat baik, dan kemampuan memuliakan sesama. Sebab, harta terbaik adalah yang mendekatkan kita kepada Allah, bukan yang menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Iklan Detail Video

Iklan_home