Home Pendidikan Mapala STACIA UMJ Gelar Pengembangan Skill Caving di Gua Cicurug Klapanunggal, Tingkatkan Kompetensi Anggota dan Kepedulian terhadap Karst

Mapala STACIA UMJ Gelar Pengembangan Skill Caving di Gua Cicurug Klapanunggal, Tingkatkan Kompetensi Anggota dan Kepedulian terhadap Karst

13
0
SHARE
Mapala STACIA UMJ Gelar Pengembangan Skill Caving di Gua Cicurug Klapanunggal, Tingkatkan Kompetensi Anggota dan Kepedulian terhadap Karst

Keterangan Gambar : Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) STACIA Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) melaksanakan kegiatan Pengembangan Skill Formica Rufa Divisi Caving melalui penelusuran Gua Cicurug di kawasan karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan berlangsung selama 28–30 Juli 2026 sebagai bagian dari pembinaan kemampuan teknis sekaligus penguatan wawasan konservasi bagi anggota.


Perwirasatu.co.id, Bogor – Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) STACIA Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) melaksanakan kegiatan Pengembangan Skill Formica Rufa Divisi Caving melalui penelusuran Gua Cicurug di kawasan karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan berlangsung selama 28–30 Juli 2026 sebagai bagian dari pembinaan kemampuan teknis sekaligus penguatan wawasan konservasi bagi anggota.

Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan keterampilan anggota dalam teknik penelusuran gua vertikal (caving), khususnya penguasaan Single Rope Technique (SRT), yaitu teknik naik dan turun menggunakan satu jalur tali yang menjadi standar dalam eksplorasi gua vertikal.

Gua Cicurug, Destinasi Latihan yang Menantang

Gua Cicurug merupakan salah satu gua alami yang berada di bentangan kawasan karst Klapanunggal. Kawasan ini termasuk wilayah yang memiliki nilai penting dari sisi geologi, hidrologi, dan ekologi karena berada dalam satu bentangan dengan kawasan karst berskala besar yang memiliki fungsi sebagai penyimpan cadangan air tanah sekaligus habitat berbagai satwa.

Nama Cicurug berasal dari bahasa Sunda, yaitu gabungan kata "Ci" yang berarti air dan "Curug" yang berarti air terjun. Nama tersebut menggambarkan karakter wilayah yang kaya akan sumber mata air dan aliran sungai alami.

Secara morfologi, Gua Cicurug merupakan gua vertikal dengan kedalaman sekitar 60 meter dan memiliki dua mulut gua yang saling terhubung. Di dalamnya mengalir sungai bawah tanah aktif yang menjadi salah satu ciri khas gua tersebut.

Perjalanan menuju lorong utama cukup menantang. Sebelum memasuki area penelusuran, peserta harus melewati genangan air dengan kedalaman sekitar dua meter. Setelah itu, lorong gua membentang sepanjang kurang lebih 100 meter, dengan sekitar 60 meter di antaranya menjadi habitat ribuan kelelawar yang hidup secara alami.

Keindahan gua semakin terlihat melalui berbagai ornamen batu kapur berupa stalaktit yang menggantung di langit-langit dan stalagmit yang menjulang dari lantai gua. Pada beberapa titik, cahaya matahari masuk melalui lubang vertikal di bagian atas gua sehingga membentuk pancaran cahaya yang menembus kabut tipis dan tetesan air. Fenomena ini dikenal di kalangan penelusur sebagai "Sinar Surga", yang menjadi salah satu daya tarik utama Gua Cicurug.

Keselamatan Menjadi Prioritas

Sebelum penelusuran dimulai, seluruh peserta menjalani pemeriksaan perlengkapan secara menyeluruh. Pemeriksaan dilakukan menggunakan sistem buddy check, yaitu saling memeriksa perlengkapan antaranggota guna memastikan seluruh sistem pengaman telah terpasang dengan benar.

Peralatan yang digunakan meliputi seat harness, chest harness (body harness), ascender, descender, foot loop, jumar, carabiner, dan cow's tail sebagai perlengkapan utama dalam penerapan teknik SRT.

Setelah seluruh perlengkapan dinyatakan aman, peserta mulai melakukan penurunan menuju dasar gua secara bertahap sesuai arahan instruktur.

Rigging Dipimpin Instruktur Berpengalaman

Sebelum aktivitas penelusuran berlangsung, tim Mapala STACIA UMJ terlebih dahulu melakukan pemasangan lintasan tali (rigging) sebagai jalur utama akses ke dalam gua.

Proses rigging dipimpin oleh Mas Tasol selaku master instruktur Mapala STACIA UMJ, didampingi Mas Habibi dan Mas Bobab. Ketiganya memastikan seluruh sistem anchor, jalur tali, serta prosedur keselamatan telah memenuhi standar operasional penelusuran gua vertikal.

Penelusuran Dibagi Menjadi Dua Kloter

Untuk menjaga efektivitas pelatihan dan keselamatan peserta, penelusuran dibagi menjadi dua kloter.

Kloter 1 melaksanakan penelusuran pada pukul 11.00–15.00 WIB dengan peserta:

• Nabhan Bakir (STC.26468.FA)

• Sulaiman (STC.26470.FA)

• Nabila Aulia Ramadhan (STC.26473.FA)

• Noval Ananda Hidayat (STC.26480.FA)

• Ahmad Fatih Ramadhan (STC.26484.FA)

Didampingi instruktur:

• Agusta Tersiantara Tasol (STC.18352.RS)

• Muhammad Zaffa Rosadi Bobab (STC.24437.HI)

Sementara Kloter 2 melaksanakan penelusuran pada pukul 16.00–20.00 WIB dengan peserta:

• Ardelia Lavina Rizkiya (STC.26467.FA)

• Hendry Febriansyah (STC.26471.FA)

• Muhamad Rasya Fadhil (STC.26474.FA)

• Darius Muammar Alifi (STC.26477.FA)

• Muhammad Fikri Prasetyo (STC.26478.FA)

Didampingi oleh:

• Agusta Tersiantara Tasol (STC.18352.RS)

• Ananda Syahnu Humairah (STC.24440.CS)

• Habibi Ahmad Ramadhan (STC.24459.CS)

Seluruh kegiatan penelusuran dilaksanakan pada titik koordinat 6°27'17.3"S 106°58'10.7"E.

Tim Permukaan Siaga Selama Kegiatan

Selama proses penelusuran berlangsung, sejumlah anggota bertugas sebagai surface team atau tim permukaan. Tim ini berperan mengawasi jalannya kegiatan dari luar gua, memantau komunikasi, mengontrol sistem tali, mencatat pergerakan peserta, serta memberikan respons cepat apabila terjadi kondisi darurat.

Anggota tim permukaan terdiri atas:

• M. Viki Adriansah Rasyid (STC.24436.HI)

• Siti Zahrani Fadillah (STC.24460.CS)

• Najwa Rahma Heldia (STC.24442.CS)

• Erfinsah Cantika Putri Hilmi (STC.24443.CS)

• Lesti Fazilah (STC.24446.CS)

• Muhammad Daffa Santoso (STC.24447.CS)

• Muhammad Hugo (STC.24428.AT)

Meningkatkan Kompetensi dan Menumbuhkan Kepedulian terhadap Lingkungan Karst

Melalui kegiatan Pengembangan Skill Formica Rufa Divisi Caving ini, Mapala STACIA UMJ tidak hanya membekali anggotanya dengan kemampuan teknis dalam penelusuran gua, tetapi juga menanamkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian kawasan karst.

Kawasan karst memiliki peran strategis sebagai penyimpan cadangan air tanah, habitat berbagai jenis flora dan fauna, serta laboratorium alam yang menyimpan nilai ilmiah tinggi. Oleh karena itu, setiap aktivitas penelusuran dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip keselamatan, konservasi, dan etika penelusuran gua.

Melalui kegiatan ini, Mapala STACIA UMJ berharap seluruh anggota mampu menjadi penelusur gua yang kompeten, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap upaya pelestarian ekosistem karst di Indonesia.

(Red)

 Penulis: Andriyansyah Mandel (STC.14275.KN)

Iklan Detail Video

Iklan_home