Home Daerah MARAPI ERUPSI LAGI, MITIGASI DIUJI KEMBALI

MARAPI ERUPSI LAGI, MITIGASI DIUJI KEMBALI

13
0
SHARE
MARAPI ERUPSI LAGI, MITIGASI DIUJI KEMBALI

Keterangan Gambar : Bukittinggi belum sepenuhnya berakhir ketika dentuman terdengar dari arah Gunung Marapi. Tak lama kemudian, abu vulkanik turun di sejumlah kawasan, menempel pada kendaraan, pakaian, dan permukaan jalan

Perwirasatu.co.id , Bukit tinggi - Malam di Bukittinggi belum sepenuhnya berakhir ketika dentuman terdengar dari arah Gunung Marapi. Tak lama kemudian, abu vulkanik turun di sejumlah kawasan, menempel pada kendaraan, pakaian, dan permukaan jalan. Di tengah aktivitas malam dan keramaian warga, erupsi itu kembali memperlihatkan satu kenyataan: hidup berdampingan dengan gunung api berarti terus menguji kesiapan manusia.

Gunung Marapi kembali erupsi pada Sabtu, 26 September 2026 sekitar pukul 21.40 WIB. Data Pos Pengamatan Gunungapi Marapi mencatat amplitudo maksimum 30 milimeter dengan durasi 79 detik. Dentuman dan gemuruh terdengar di sejumlah wilayah Agam, Tanah Datar, hingga Padang Panjang, sementara hujan abu dilaporkan mencapai sebagian wilayah Agam dan Kota Bukittinggi. 

Erupsi berlangsung malam hari ketika puncak gunung tertutup kabut. Karena itu, tinggi kolom abu tidak dapat diamati langsung dari pos. Rekaman CCTV BPBD Kabupaten Tanah Datar kemudian menjadi dasar perkiraan tinggi kolom sekitar 2.000 hingga 2.500 meter di atas puncak. Perbedaan antara pengamatan instrumental dan estimasi visual ini penting dicermati. Dalam situasi bencana, informasi harus cepat, tetapi tetap harus jelas sumber dan tingkat kepastiannya. 

Abu vulkanik menjadi dampak yang paling cepat dirasakan. Di Agam, laporan hujan abu datang dari sejumlah kawasan seperti Sungai Pua, Lasi, Canduang, Bukik Batabuah, dan Ampek Angkek. Di Bukittinggi, warga melaporkan jalan terlihat berkabut dan kendaraan serta pakaian tertutup lapisan abu. Seorang warga bahkan menyebut hujan abu berlangsung sekitar satu jam. 

Peristiwa itu juga memperlihatkan bagaimana aktivitas manusia dapat bersinggungan langsung dengan dinamika gunung api. Ketika masyarakat menjalankan aktivitas malam, Marapi bergerak dengan ritmenya sendiri. Ruang wisata, jalan, permukiman, fasilitas publik dan pusat ekonomi berada dalam satu bentang yang dapat terkena dampak ketika material vulkanik terbawa atmosfer.

Karena itu, erupsi Marapi tidak cukup dibaca sebagai peristiwa geologi. Ia juga merupakan persoalan ruang. Praktisi GIS dan pengamat kebencanaan Timtim Deby Purnasebta menilai lokasi terdampak abu dapat menjadi data penting untuk menguji kembali peta risiko, jalur evakuasi, jaringan komunikasi, fasilitas kritis dan rencana kontinjensi. Abu tidak mengenal batas administratif; arah penyebarannya dipengaruhi dinamika atmosfer dan kondisi ruang yang berada di bawahnya. 

Gunung Marapi masih berstatus Level II atau Waspada. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek. Warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai berhulu di Marapi juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar ketika hujan turun.

Status Waspada tidak berarti bebas risiko. Tingkat bahaya di suatu tempat juga ditentukan oleh arah penyebaran material, kondisi atmosfer, kepadatan penduduk, penggunaan lahan, jaringan transportasi dan keberadaan fasilitas penting. Karena itu, mitigasi tidak boleh berhenti pada larangan memasuki kawasan tertentu.

Setiap erupsi semestinya menjadi bahan evaluasi. Titik-titik hujan abu dapat dipetakan. Data tersebut dapat dibandingkan dengan arah angin, topografi, kepadatan penduduk, jaringan sungai dan lokasi fasilitas publik. Dari sana, pemerintah dapat mengetahui wilayah mana yang membutuhkan informasi lebih cepat, perlindungan kelompok rentan, pengaturan lalu lintas, hingga pembersihan fasilitas umum.

Marapi pada akhirnya bukan sekadar gunung yang sesekali erupsi. Ia adalah bagian dari ruang hidup masyarakat Sumatera Barat. Erupsi 26 September kembali mengingatkan bahwa manusia tidak mungkin menghentikan gunung api. Yang dapat dilakukan adalah memahami tanda-tandanya, memperbaiki informasi, memperkuat koordinasi dan memastikan setiap pengalaman bencana menjadi pengetahuan untuk menghadapi kejadian berikutnya.

Abu mungkin akhirnya hilang dari jalan. Tetapi pelajaran dari setiap erupsi seharusnya tidak ikut menghilang.

Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home