Menjaga Sahnya Ibadah Qurban
Keterangan Gambar : Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang ketundukan hati kepada Allah, keikhlasan niat, dan kesungguhan mengikuti tuntunan syariat.
Perwirasatu.co.id, Minggu 17 Mei 2026.
Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang ketundukan hati kepada Allah, keikhlasan niat, dan kesungguhan mengikuti tuntunan syariat. Banyak orang bersemangat berqurban, namun lupa bahwa ibadah tidak cukup hanya dengan niat baik. Qurban memerlukan ilmu, adab, serta kehatihatian agar tidak berubah menjadi amalan yang sia sia. Karena itu, memahami aturan qurban adalah bentuk penghormatan kepada syariat Allah.
Setiap datang bulan Dzulhijjah, suasana kaum muslimin dipenuhi semangat ibadah. Takbir menggema di masjid, mushala, rumah rumah, dan jalanan. Hati orang beriman seakan dipanggil untuk kembali mengingat pengorbanan agung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kisah itu bukan sekadar sejarah, tetapi pelajaran tentang ketaatan yang sempurna kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾
“ Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”
(QS. Al Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa qurban adalah ibadah mulia yang disandingkan dengan shalat. Maka sebagaimana shalat harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, demikian pula qurban tidak boleh dilakukan sembarangan. Kesalahan kecil yang dianggap sepele terkadang justru membuat ibadah kehilangan kesempurnaannya, bahkan dapat menyebabkan qurban tidak sah.
Di tengah masyarakat, masih banyak orang yang memilih hewan qurban hanya berdasarkan harga murah tanpa memperhatikan syarat syariat. Ada yang membeli kambing yang sakit, pincang, terlalu kurus, bahkan cacat pada mata dan telinganya. Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat jelas.
Beliau bersabda:
«أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلَعُهَا، وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي»
“Empat hewan yang tidak sah dijadikan qurban: hewan yang jelas buta sebelah matanya, hewan yang jelas sakitnya, hewan yang jelas pincangnya, dan hewan yang sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa qurban bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial, tetapi persembahan terbaik kepada Allah. Orang beriman semestinya malu jika memberikan hewan yang buruk untuk ibadah. Bukankah dalam urusan dunia manusia selalu ingin memberikan yang terbaik kepada orang yang dihormati? Lalu bagaimana mungkin kepada Allah justru memberikan yang paling rendah nilainya.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak memahami usia minimal hewan qurban. Ada yang menyembelih kambing yang belum cukup umur karena tubuhnya terlihat besar. Padahal syariat memiliki ketentuan yang jelas. Kambing minimal berusia satu tahun, sapi dua tahun, sedangkan unta lima tahun. Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً»
“Janganlah kalian menyembelih kecuali hewan yang telah cukup umur.”
(HR. Muslim)
Ketelitian seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi di sisi Allah sangat bernilai. Syariat dibangun di atas ketaatan, bukan sekadar perasaan baik. Banyak ibadah rusak bukan karena niatnya buruk, melainkan karena caranya tidak sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
Selain itu, waktu penyembelihan juga menjadi perkara penting. Sebagian orang terburu buru menyembelih sebelum shalat Idul Adha selesai karena alasan teknis atau ingin cepat membagikan daging. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
«مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ وَلَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ»
“Barang siapa menyembelih sebelum shalat Id, maka itu hanyalah daging yang ia berikan untuk keluarganya dan tidak termasuk ibadah qurban sedikit pun.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa menyedihkan jika seseorang sudah menabung bertahun tahun, mempersiapkan hewan terbaik, namun ternyata qurbannya tidak tercatat sebagai ibadah hanya karena tidak memahami waktu penyembelihan. Inilah pentingnya ilmu sebelum beramal.
Qurban sejatinya bukan tentang darah dan daging semata. Allah Ta’ala berfirman:
﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾
“Daging daging unta dan darahnya itu sekali kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa inti qurban adalah ketakwaan. Ketakwaan itu tampak dalam kesungguhan mengikuti aturan Allah, menjaga niat, dan menghindari sikap asal asalan. Orang yang bertakwa akan berhati hati dalam ibadahnya karena ia sadar sedang berhadapan dengan Rabb semesta alam.
Di zaman sekarang, sebagian orang menjadikan qurban sekadar tradisi tahunan. Ada yang lebih sibuk memotret hewan qurbannya daripada mempersiapkan ilmu tentang tata cara penyembelihan. Ada pula yang menjadikan qurban sebagai ajang gengsi sosial. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan keikhlasan dan kesederhanaan.
Beliau bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, sebelum membeli hewan qurban, luruskan hati terlebih dahulu. Jangan sampai qurban dilakukan demi pujian manusia, demi dianggap dermawan, atau demi popularitas. Amal yang tercampur riya hanya akan melelahkan diri tanpa pahala di sisi Allah.
Orang yang hendak berqurban juga dianjurkan menjaga adab sejak awal Dzulhijjah. Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا»
“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun.”
(HR. Muslim)
Anjuran ini mengandung pelajaran tentang penghormatan terhadap ibadah qurban. Bahkan sebelum penyembelihan dilakukan, seorang muslim sudah diminta menjaga dirinya sebagai bentuk kesiapan spiritual.
Maka jangan pernah meremehkan ilmu qurban. Hal hal kecil yang dianggap sepele bisa berdampak besar pada sah atau tidaknya ibadah. Belajarlah kepada ustaz yang memahami fikih qurban, pahami syarat hewan, waktu penyembelihan, niat, dan tata cara pembagian dagingnya. Jangan malu bertanya demi menjaga kesucian ibadah.
Sesungguhnya Allah tidak melihat besar kecilnya hewan yang disembelih, tetapi melihat hati yang tunduk dan amal yang sesuai sunnah. Qurban yang dilakukan dengan ilmu akan melahirkan ketenangan batin, sedangkan qurban tanpa ilmu sering meninggalkan penyesalan.
Semoga Idul Adha tahun ini bukan hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi menjadi momentum memperbaiki ketakwaan, memperdalam ilmu agama, dan mempersembahkan ibadah terbaik kepada Allah Ta’ala. Semoga setiap tetes darah qurban menjadi saksi cinta kita kepada Allah dan menjadi jalan datangnya rahmat serta ampunan Nya. Aamiin.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar