Home Artikel Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat

Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat

7
0
SHARE
Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat

Keterangan Gambar : Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Dengan ilmu, seseorang mampu membedakan yang benar dari yang salah, yang bermanfaat dari yang membahayakan, serta yang diridhai Allah dari yang dimurkai-Nya.

Perwirasatu.co.id, 24 Agustus 2026.

Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Dengan ilmu, seseorang mampu membedakan yang benar dari yang salah, yang bermanfaat dari yang membahayakan, serta yang diridhai Allah dari yang dimurkai-Nya. Karena itulah Islam mengajarkan agar setiap muslim tidak pernah berhenti belajar. Selama napas masih berhembus, selama akal masih dianugerahkan oleh Allah, maka pintu untuk mencari ilmu tetap terbuka. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri melalui ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama maupun ilmu yang menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan.

Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan ibadah yang memiliki kedudukan sangat mulia. Ilmu menjadi bekal utama untuk mengenal Allah, memahami syariat-Nya, memperbaiki akhlak, menguatkan keimanan, serta memberi manfaat kepada sesama manusia. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya tidak merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, sebab semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang belum diketahuinya.

Allah Swt. berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya:

"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" (QS. Taha: 114)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah saw. diperintahkan untuk terus memohon tambahan ilmu. Padahal beliau adalah manusia pilihan yang menerima wahyu secara langsung. Jika Nabi Muhammad saw. saja diperintahkan untuk terus menambah ilmu, maka terlebih lagi umatnya yang masih memiliki begitu banyak kekurangan dan keterbatasan.

Semangat belajar dalam Islam tidak dibatasi oleh usia. Masa muda memang merupakan waktu yang sangat baik untuk menuntut ilmu, tetapi usia yang semakin bertambah bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Banyak ulama besar yang tetap menulis, mengajar, dan menelaah kitab hingga usia senja. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menghasilkan karya-karya terbaiknya ketika rambut telah memutih.

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:

"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

Hadis yang agung ini memberikan motivasi bahwa setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap waktu yang digunakan untuk membaca, menghafal, berdiskusi, ataupun mempelajari sesuatu yang bermanfaat, semuanya bernilai ibadah di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Di tengah masyarakat, kita sering mendengar ungkapan, "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat." Walaupun ungkapan tersebut bukan hadis yang sahih dari Rasulullah saw., maknanya sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk terus belajar sepanjang hayat. Selama manusia masih hidup, ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, menambah wawasan, serta meningkatkan kualitas ibadah dan amal salehnya.

Begitu pula dengan ungkapan yang sangat populer, "Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China." Para ulama hadis menjelaskan bahwa riwayat tersebut berstatus lemah sehingga tidak dapat dijadikan hadis yang sahih. Namun, pesan yang terkandung di dalamnya mengandung semangat bahwa memperoleh ilmu memerlukan kesungguhan, pengorbanan, dan kesiapan menempuh perjalanan yang jauh apabila memang diperlukan. Pada masa lalu, negeri China merupakan gambaran tempat yang sangat jauh dari Jazirah Arab. Hal itu mengajarkan bahwa jarak, kesulitan, dan tantangan bukan alasan untuk menyerah dalam mencari ilmu.

Di zaman sekarang, kesempatan memperoleh ilmu bahkan jauh lebih mudah. Buku dapat dibaca melalui gawai, kajian dapat diikuti secara langsung maupun daring, perpustakaan digital tersedia selama dua puluh empat jam, dan berbagai keterampilan dapat dipelajari dari banyak sumber yang terpercaya. Kemudahan ini semestinya semakin memotivasi kita untuk memperbanyak ilmu, bukan justru terlena oleh hiburan yang menghabiskan waktu tanpa manfaat.

Namun demikian, Islam juga mengajarkan agar kita selektif dalam memilih ilmu. Tidak semua informasi layak dipercaya, tidak semua pengetahuan membawa manfaat. Ilmu yang dicari hendaknya adalah ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, menguatkan keimanan, meningkatkan profesionalitas dalam pekerjaan, serta memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Allah Swt. juga berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya:

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak hanya diukur dari kekayaan, jabatan, ataupun keturunannya, tetapi juga dari keimanan dan ilmu yang diamalkan. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tanpa buah, sedangkan ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan diri sendiri dan orang lain.

Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa salah satu amal yang terus mengalir pahalanya setelah seseorang meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat. Beliau bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya:

"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa berharganya ilmu yang diajarkan kepada orang lain. Setiap ilmu yang diamalkan oleh murid, anak, keluarga, atau masyarakat akan menjadi aliran pahala yang terus mengalir, meskipun orang yang mengajarkannya telah tiada.

Karena itu, jangan pernah merasa terlalu tua untuk belajar membaca Al-Qur'an dengan lebih baik, memperbaiki bacaan salat, memahami tafsir Al-Qur'an, mempelajari hadis, mengembangkan keterampilan baru, ataupun memperdalam ilmu yang menunjang pekerjaan. Setiap tambahan ilmu yang bermanfaat adalah investasi yang nilainya jauh melampaui harta dunia.

Belajar juga melatih kerendahan hati. Orang yang terus belajar akan menyadari bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan. Sebaliknya, orang yang merasa paling tahu sering kali berhenti berkembang. Kerendahan hati merupakan pintu masuk bagi bertambahnya ilmu, sedangkan kesombongan menjadi penghalang datangnya hidayah dan kebijaksanaan.

Marilah kita menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar, walaupun hanya beberapa ayat Al-Qur'an, satu hadis, satu halaman buku, atau satu keterampilan baru yang bermanfaat. Jangan pernah malu bertanya, jangan takut memulai dari dasar, dan jangan menyerah hanya karena usia terus bertambah. Selama Allah masih memberikan kehidupan, berarti Dia masih membuka kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri melalui ilmu. Semoga Allah Swt. menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang selalu haus akan kebenaran, amal yang ikhlas, serta kemampuan untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah dipelajari sehingga menjadi jalan menuju ridha-Nya dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home