
Keterangan Gambar : Prasangka Baik Kepada Allah, Jalan Ketenangan
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Hidup tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita harapkan, tetapi seorang mukmin tidak pernah kehabisan alasan untuk berharap kepada Allah. Ketika rezeki terasa sempit, ujian datang bertubi-tubi, doa belum terkabul, dan masa depan tampak samar, tetaplah menjaga hati agar tidak berburuk sangka kepada Allah. Sebab keyakinan kepada keluasan rahmat-Nya dapat menyalakan harapan ketika keadaan belum menunjukkan jalan keluar.
Prasangka baik kepada Allah bukan sekadar berpikir positif bahwa semua keinginan pasti terwujud. Husnuzan kepada Allah adalah keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik, Maha Bijaksana dalam menetapkan takdir, Maha Mendengar setiap doa, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Karena itu, seorang mukmin boleh menangis ketika menghadapi kesulitan, boleh merasa sedih ketika kehilangan, tetapi jangan sampai kesedihan membuatnya meragukan kasih sayang Allah.
Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah hadis qudsi yang sangat dalam maknanya. Allah Ta'ala berfirman:
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.
Artinya: "Allah Ta'ala berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam suatu majelis, Aku mengingatnya dalam majelis yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari." Hadis riwayat Bukhari.
Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan seorang hamba dengan Allah harus dibangun di atas harapan, keyakinan, zikir, dan usaha mendekat kepada-Nya. Namun, prasangka baik bukan alasan untuk bermalas-malasan. Mengharapkan rezeki sambil meninggalkan ikhtiar bukanlah tawakal. Mengharapkan ampunan sambil sengaja terus-menerus melakukan dosa bukanlah husnuzan. Berharap pertolongan Allah harus berjalan bersama ketaatan, doa, kesungguhan, dan kesabaran.
Allah bahkan melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53). 0
Ayat tersebut memperlihatkan betapa luas pintu harapan yang Allah bukakan. Bahkan orang yang merasa telah terlalu jauh sekalipun tidak diperintahkan untuk menyerah. Ia justru dipanggil dengan panggilan yang penuh kelembutan, "Wahai hamba-hamba-Ku." Setelah itu, Allah melarang mereka berputus asa dari rahmat-Nya.
Maka ketika rezeki belum luas, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak menyayangi kita. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kesabaran, menjaga kita dari sesuatu yang belum kita pahami, atau mempersiapkan jalan yang lebih baik. Ketika doa belum terkabul, jangan mengira bahwa Allah tidak mendengar. Allah mendengar bahkan doa yang hanya bergetar di dalam hati.
Begitu pula ketika masa depan tampak gelap, jangan menganggap bahwa kehidupan akan selamanya berada dalam keadaan demikian. Manusia melihat hari ini, sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidupnya. Kita hanya mengetahui satu halaman, sementara Allah mengetahui seluruh kitab kehidupan kita. Karena itu, tugas seorang hamba bukan memaksa takdir berjalan sesuai keinginannya, melainkan berusaha sebaik mungkin sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Prasangka baik juga mengubah cara kita memandang kegagalan. Kegagalan tidak selalu berarti akhir. Penolakan tidak selalu berarti kehancuran. Kehilangan tidak selalu berarti keburukan. Tertundanya sesuatu tidak selalu berarti Allah tidak memberikan. Ada kalanya sesuatu yang sangat kita inginkan justru tidak baik bagi kehidupan kita, sedangkan sesuatu yang semula kita hindari ternyata membawa pelajaran besar.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).
Inilah sebabnya seorang mukmin tidak hanya berkata, "Ya Allah, berikan apa yang aku inginkan," tetapi juga belajar berkata, "Ya Allah, berikan apa yang terbaik menurut-Mu." Kalimat kedua menunjukkan kedewasaan iman. Kita tetap meminta, tetapi tidak memaksa. Kita tetap berharap, tetapi tidak mengatur Allah. Kita tetap berusaha, tetapi menyerahkan hasil akhirnya kepada Zat Yang Mahatahu.
Jangan biarkan pikiran buruk tentang masa depan mencuri ketenangan hari ini. Jangan biarkan satu kegagalan membuat kita melupakan begitu banyak nikmat. Jangan biarkan satu doa yang belum terkabul membuat kita lupa bahwa setiap hari Allah masih memberi napas, kesempatan bertobat, keluarga, kesehatan, waktu, dan peluang untuk memperbaiki diri.
Rezeki memang luas, tetapi bukan hanya berupa uang. Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang menyayangi adalah rezeki. Hati yang tenang adalah rezeki. Kesempatan beribadah adalah rezeki. Dipertemukan dengan orang baik adalah rezeki. Dijauhkan dari keburukan yang tidak kita ketahui juga merupakan rezeki.
Karena itu, teruslah berbaik sangka kepada Allah, tetapi sertai dengan ikhtiar. Teruslah berdoa, tetapi sertai dengan kesabaran. Teruslah berharap, tetapi sertai dengan ketakwaan. Jika jalan terasa panjang, berjalanlah perlahan. Jika langkah terasa berat, beristirahatlah sejenak, lalu bangkit kembali. Jangan menyerah kepada keadaan, sebab rahmat Allah jauh lebih luas daripada kesulitan yang sedang kita hadapi.
Ketenangan bukan selalu lahir karena semua masalah telah selesai. Ketenangan sering kali tumbuh ketika hati telah percaya bahwa apa pun yang Allah tetapkan pasti berada dalam pengetahuan dan hikmah-Nya. Maka rawatlah prasangka baik itu. Saat rezeki datang, bersyukurlah. Saat rezeki tertunda, bersabarlah. Saat doa dikabulkan, tunduklah dalam syukur. Saat doa belum terjawab, tetaplah percaya.
Sebab seorang hamba yang mengenal Tuhannya tidak akan mudah kehilangan harapan. Ia mungkin jatuh, tetapi akan bangkit. Ia mungkin menangis, tetapi tetap berdoa. Ia mungkin tidak memahami takdir hari ini, tetapi tetap yakin kepada Allah. Dan keyakinan itulah yang membuat hati tetap hidup, langkah tetap teguh, serta masa depan tetap dipandang dengan cahaya harapan.
(Dwi Taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY