Home Artikel RANGKUL ULAMA SAJA TIDAK CUKUP BERANIKAH KAPOLRI BARU UNGKAP KM-50

RANGKUL ULAMA SAJA TIDAK CUKUP BERANIKAH KAPOLRI BARU UNGKAP KM-50

17
0
SHARE
RANGKUL ULAMA SAJA TIDAK CUKUP BERANIKAH KAPOLRI BARU UNGKAP KM-50

Keterangan Gambar : Langkah Kapolri baru Jenderal Suyudi Ario Seto, mendatangi para ulama dan tokoh-tokoh Islam jelas sangat patut untuk diapresiasi. Itu adalah merupakan itikad baik.

Perwirasatu.co.id, 18 Oktober 2026.

Baru-baru ini, ramai media memberitakan; 

Kapolri baru (Jenderal Suyudi) tengah membangun citra baru: merangkul ulama, tokoh Islam, pesantren. 

Tapi rakyat bertanya: "Apakah rangkulan itu hanya seremonial, atau nantinya akan berani memberikan rasa keadilan untuk masyarakat khususnya umat Islam dengan mengupas luka lama umat Islam yang paling dalam — tragedi KM-50?

Langkah Kapolri baru Jenderal Suyudi Ario Seto, mendatangi para ulama dan tokoh-tokoh Islam jelas sangat patut untuk diapresiasi. Itu adalah merupakan itikad baik. Itu bisa jadi setitis cahaya yang bisa menjadi secercah penerang serta memberikan harapan pada rakyat untuk beneran melihat Polri yang humanis dan tidak anti-ulama.

Namun meskipun begitu, rangkulan tanpa upaya untuk memberikan keadilan yang diinginkan tidak lebih adalah hanya pencitraan kosong.

Rakyat, khususnya umat Islam, masih menyimpan satu luka menganga yang belum pernah diobati secara tuntas. Luka itu, adalah: Tragedi KM-50, 7 Desember 2020.

Dimana diketahui, 6 nyawa santri yang tengah mengawal ulama besar umat Islam, melayang di jalan Tol Karawang. Dimana versi resmi dan versi Komnas HAM, juga kesaksian lapangan, masih menyisakan banyak tanda tanya. Dimana kemudian baru-baru ini, 5 tahun setelah kejadian, saksi mata dengan nama samaran Jameson dan Komeng muncul dalam wawancara Chanel YouTube Forum Keadilan dan kembali dengan berani membuka suara; menceritakan tentang bagaimana mencekamnya malam itu dan mengatakan kalau ada 'unlawful killing' dalam peristiwa tersebut.

Jika Kapolri baru Jenderal Suyudi benar-benar ingin merebut hati umat, ini tentu saja adalah ujian tertingginya. Pertanyaannya bukan lagi: "Sudahkah Kapolri salaman dengan ulama?" 

Akan tetapi:

"Beranikah Kapolri membuka kembali berkas kasus KM-50 secara terang dan benderang?!"

"Beranikah membuka semua CCTV, HT, dan bukti komunikasi yang terjadi malam itu?"

"Beranikah menggelar rekonstruksi ulang yang transparan dan melibatkan Komnas HAM serta perwakilan ulama?"

"Beranikah menyeret siapa pun pelakunya, bahkan jika dia adalah perwira tinggi, ke meja hijau tanpa pandang bulu?"

Jika kasus Rp106,3 miliar di ATR/BPN dengan Menteri yang 2x mangkir saja belum berani lakukan jemput paksa, bagaimana rakyat bisa percaya kalau Polri dibawah kepemimpinan Kapolri baru Jenderal Suyudi Ario Seto berani mengungkap kasus sebesar KM-50?

Reformasi Polri tidak diukur dari berapa banyak ulama yang dikunjungi, tapi dari berapa banyak keadilan yang ditegakkan, bahkan untuk kasus yang diduga sengaja ditutupi lantaran melibatkan institusi.

Jika Jenderal Suyudi berani mengungkap KM-50, maka saat itu juga tanpa perlu banyak kata, dijamin seluruh umat Islam akan berdiri di belakangnya. Rangkulan itu akan menjadi asli, bukan lagi sekadar seremoni.

Tapi jika tidak berani, maka setitis harapan akan kembali kering.  Rakyat pun akan kembali bertanya: "Untuk siapa reformasi ini sebenarnya?

"Kapankah Misteri KM-50 Akan Terungkap?" Jawabannya: ada di tangan Kapolri baru Jenderal Suyudi. 

(Red)

Iklan Detail Video

Iklan_home