Cerpen Ketika Tamu Kematian Datang Lebih Dulu.
Perwirasatu.co.id, Rabu 29 April 2026. Tidak semua orang berani berurusan dengan kematian. Bagi sebagian orang, mendengar kabar orang meninggal saja sudah membuat hati terasa dingin. Tetapi adik perempuan saya justru menjalani itu sebagai bagian dari hidupnya. Di sela pekerjaannya sebagai manajer HRD di sebuah kantor di Surabaya, ia juga dikenal sebagai modin perempuan yang memandikan, mengkafani, dan mendoakan jenazah.
Perkenalan saya dengan sisi hidupnya yang satu ini sebenarnya bermula dari sebuah percakapan sederhana pada suatu malam. Malam itu hujan baru saja berhenti. Udara terasa lembap dan jalanan di depan rumahnya tampak basah berkilau oleh lampu jalan yang redup. Kami duduk di ruang tamu sambil menyeruput teh hangat. Dari situlah cerita aneh tentang kematian mulai mengalir pelan dari bibirnya.
Adik saya bernama Rani. Di kantor ia dikenal sebagai perempuan yang tegas dan rapi. Setiap hari ia mengurus administrasi karyawan, menyusun laporan, menghadiri rapat, dan berbicara dengan nada profesional seperti manajer pada umumnya. Tidak ada yang menyangka bahwa setelah pulang kerja ia sering dipanggil oleh warga untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan langsung dengan kematian.
Di Surabaya, modin perempuan memang jarang. Biasanya yang memandikan jenazah adalah perempuan yang sudah tua atau tokoh agama yang sudah lama dikenal masyarakat. Tetapi Rani sudah menjalani pekerjaan itu lebih dari sepuluh tahun. Ia memulainya ketika masih sangat muda, diminta membantu seorang ustazah sepuh yang sudah tidak kuat lagi bekerja sendirian.
Awalnya ia hanya membantu menyiapkan air dan kain kafan. Lama lama ia belajar langsung bagaimana memandikan jenazah dengan benar, bagaimana melipat kain kafan, dan bagaimana membaca doa yang menenangkan keluarga yang ditinggalkan. Tanpa terasa namanya mulai dikenal dari satu kampung ke kampung lain.
Setiap kali ada perempuan meninggal di beberapa wilayah sekitar, orang orang sering menyebut nama Rani. Mereka mengatakan Rani sabar dan tangannya halus ketika merawat jenazah. Bagi saya sendiri, membayangkan pekerjaan itu saja sudah membuat bulu kuduk berdiri. Tetapi Rani selalu menanggapinya dengan tenang.
Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi, begitu ia selalu berkata.
Malam itu saya iseng bertanya apakah selama bertahun tahun menjalani pekerjaan itu ia pernah mengalami sesuatu yang aneh. Rani tersenyum tipis seperti orang yang sedang mengingat sesuatu yang jauh.
Ada, katanya pelan. Bahkan lebih sering daripada yang orang bayangkan.
Saya menatapnya dengan rasa penasaran. Ia lalu mulai bercerita bahwa kadang kadang orang yang akan dimandikannya seolah datang lebih dulu.
Mereka tidak selalu terlihat jelas. Kadang hanya seperti bayangan yang melintas di halaman rumah. Kadang seperti ada orang berdiri di depan pagar. Kadang hanya suara pintu diketuk pelan pada malam hari.
Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa siapa.
Saya tertawa kecil mendengarnya. Saya mengira ia hanyalah sedang menggoda saya dengan cerita horor.
Tetapi Rani tidak tertawa. Ia hanya memandang ke arah pintu depan rumahnya yang tertutup.
Seperti pesan saja, katanya. Seolah mereka berkata jangan pergi kemana mana ya, aku akan mati dan kamu yang akan memandikanku.
Saya mencoba menanggapinya dengan santai. Mungkin hanya kebetulan, mungkin hanya perasaan saja.
Namun Rani menggeleng pelan. Ia mengatakan hal itu sudah terjadi beberapa kali. Setiap kali ada tanda seperti itu, tidak lama kemudian selalu ada kabar kematian dari seseorang yang kemudian dimandikannya.
Percakapan kami terhenti ketika tiba tiba terdengar suara dari pintu depan.
Tok
Tok
Tok
Ketukan itu tidak keras, tetapi jelas terdengar di tengah keheningan malam.
Saya menoleh ke arah pintu dengan perasaan tidak nyaman. Rani justru terlihat tenang, seolah ia sudah sangat mengenal suara seperti itu.
Coba lihat, katanya pelan.
Dengan langkah ragu saya berjalan menuju pintu. Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa siapa di luar. Hanya jalan yang masih basah oleh hujan dan lampu jalan yang berkedip pelan.
Saya kembali ke ruang tamu sambil mengangkat bahu. Mungkin anak anak lewat atau seseorang salah rumah.
Rani tidak menjawab. Ia hanya menatap ponselnya yang tiba tiba bergetar.
Ia mengangkat telepon itu. Wajahnya berubah serius.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ucapnya pelan.
Beberapa detik kemudian ia menutup telepon dan menatap saya.
Seorang ibu di ujung gang baru saja meninggal, katanya. Mereka meminta saya datang sekarang.
Dada saya terasa dingin.
Tadi yang mengetuk pintu itu, saya bertanya dengan suara pelan.
Rani hanya menghela napas.
Biasanya memang begitu, katanya.
Sejak malam itu saya tidak pernah lagi menertawakan cerita ceritanya. Setiap kali ia mengatakan ada tanda tanda aneh sebelum seseorang meninggal, saya memilih diam saja.
Waktu berlalu beberapa bulan. Cerita tentang ketukan pintu itu hampir saya lupakan.
Sampai suatu malam ketika saya sendirian di rumah.
Hujan turun deras seperti malam ketika saya berada di rumah Rani. Suasana terasa sepi dan dingin.
Tiba tiba terdengar suara dari pintu depan.
Tok
Tok
Tok
Ketukan yang sama persis.
Jantung saya berdegup kencang. Saya berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu. Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa siapa.
Saya menutup pintu kembali sambil mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya angin atau mungkin suara ranting yang terbawa hujan.
Beberapa menit kemudian ponsel saya berbunyi.
Pesan dari Rani.
Aku tadi melihat kamu berdiri di depan rumahku.
Saya langsung membalas.
Tidak mungkin. Aku dari tadi di rumah.
Beberapa detik kemudian balasan dari Rani muncul lagi.
Saya membacanya perlahan.
Bukan kamu yang hidup. Yang datang tadi wajahnya pucat seperti orang yang sudah meninggal.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar