Keterangan Gambar : Al-Qur’an berkali-kali menegaskan bahwa tanda cinta sejati adalah mengikuti petunjuk Allah dan RasulullnyaCinta Yang Membawa Cahaya
Cinta kepada Allah dan Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar ungkapan yang ringan di bibir, tetapi komitmen yang menuntut kedekatan, kejujuran jiwa, dan kerelaan hati untuk tunduk pada petunjuk-Nya. Bila benar cinta itu hidup dalam diri, maka hati akan terpaut pada Al-Qur’an, pada majelis ilmu, pada pembahasan hadis, dan pada setiap jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.
Kita sering sepakat bahwa apa yang paling kita cintai akan selalu menjadi pembicaraan yang paling kita nikmati. Orang yang jatuh cinta pada dunia akan fasih berbicara tentang dunia. Orang yang tenggelam dalam ambisi akan menghabiskan hari-harinya mengejar ambisinya. Namun ketika seseorang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, tetapi justru berat melangkah menuju majelis ilmu, enggan membaca Al-Qur’an, apalagi mendalami hadis, di situlah kejujuran hati dipertanyakan. Dunia memang panggung sandiwara, tetapi cinta kepada Allah tak mungkin dipalsukan.
Al-Qur’an berkali-kali menegaskan bahwa tanda cinta sejati adalah mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah ﷺ. Allah berfirman:
﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ﴾
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31)
Ayat ini seperti cermin yang tak mungkin berdusta. Kecintaan pada Allah menuntut ketundukan pada ajaran Nabi, dan ketundukan itu tak mungkin hadir jika seseorang tidak dekat dengan wahyu. Karenanya, para sahabat sangat memahami bahwa kemuliaan terbesar seorang hamba ada pada kedekatannya dengan kitab Allah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa tanda cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dapat dilihat dari kecintaan seseorang kepada Al-Qur’an. Mereka tak sekadar membacanya, tetapi memahaminya, mengamalkannya, menjadikannya cahaya yang menuntun seluruh langkah.
Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat yang sangat lembut namun menusuk hati:
“تَقَرَّبْ مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ”
“Beribadahlah kepada Allah semampumu dan ketahuilah, bahwa engkau tidak akan mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Allah cintai daripada (membaca) firman-Nya.”
Atsar ini merupakan penegasan bahwa jalan tercepat menuju keridhaan Allah adalah dengan mendekap Al-Qur’an dalam hidup kita. Sebab Al-Qur’an adalah kalam-Nya, petunjuk-Nya, cahaya-Nya, dan bukti cinta-Nya kepada manusia. Namun ironisnya, di tengah kesibukan dunia, banyak orang mengaku mencintai Allah tetapi jarang membuka mushaf. Banyak yang merasa dirinya dekat dengan agama tetapi tubuhnya berat menuju kajian. Hatinya hangat mendengar nasihat, tetapi langkahnya kaku meluangkan waktu untuk menuntut ilmu. Inilah realitas yang dulu telah diterangkan para ulama: cinta tanpa pengorbanan hanyalah perasaan yang rapuh.
Padahal, majelis ilmu adalah taman surga di dunia. Di sanalah hati dibersihkan, pikiran diluruskan, niat dilapangkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ”
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya bersama, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-Nya.” (HR. Muslim)
Jika setiap huruf Al-Qur’an bernilai sepuluh kebaikan, jika setiap langkah menuju kajian dihitung sebagai ibadah, maka apa yang membuat sebagian manusia enggan untuk mendekat? Jawabannya seringkali sederhana: karena dunia terlalu memikat. Sebagian orang lebih betah berbicara tentang hobi, usaha, politik, atau gosip harian, tetapi merasa bosan ketika pembicaraan beralih pada agama. Padahal, bukankah cinta sejati mengharuskan hati terpaut pada apa yang dicintai?
Cinta kepada Allah bukan perasaan ringan, tetapi pilihan sadar untuk menjaga kedekatan. Ia tampak dalam kerinduan untuk membaca mushaf, dalam ketekunan menghadiri majelis ilmu, dalam kesungguhan mendalami hadis, dan dalam kegembiraan ketika mendapatkan pemahaman agama. Semakin kuat cinta itu, semakin besar pula energi yang mendorong seseorang untuk memperbaiki diri, menata hati, dan mengejar keridhaan-Nya.
Setiap kita memiliki peluang untuk memperbaiki cinta itu. Mulailah dengan langkah sederhana: membuka mushaf setiap hari, membaca beberapa ayat, merenungkan maknanya, atau meluangkan waktu seminggu sekali untuk duduk di majelis ilmu. Meski langkah itu kecil, ia lebih jujur daripada seribu pengakuan cinta. Sebab Allah melihat usaha hamba-Nya, bukan hanya ucapannya.
Pada akhirnya, hidup ini memang panggung sandiwara, tetapi hubungan kita dengan Allah bukanlah sandiwara. Di hadapan manusia kita bisa menyembunyikan banyak hal, tetapi di hadapan Allah, cinta akan selalu terlihat dari amal. Siapa yang mencintai Allah, ia akan mencintai firman-Nya. Siapa yang mencintai Rasulullah ﷺ, ia akan mencintai sunnahnya. Dan siapa yang mencintai akhirat, ia akan mencintai majelis ilmu yang mengantarnya pulang menuju cahaya.
Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk terus memperbaiki cinta itu, menjadikannya lebih jujur, lebih hidup, lebih berbuah amal, hingga kelak kita benar-benar menjadi hamba yang dicintai-Nya. Aamiin.
Editor: Bro Tommy
Tulis Komentar