Damai Saat Fokus Pada Diri | Portal Berita Online dan Cetak Indonesia

Damai Saat Fokus Pada Dirimanusia sering kehilangan ketenangan karena terlalu sibuk menoleh ke kehidupan orang lain.

$rows[judul] Keterangan Gambar : Islam mengajarkan keteduhan batin melalui pengendalian pandangan hati, menjaga rasa ingin tahu, dan mengarahkan perhatian pada perbaikan diri. Dari sanalah damai tumbuh, iman bersemi, dan hidup menemukan arah yang lebih jernih serta bermakna di hadapan Allah.


Perwirasatu.co.id - 03 Desember 2026.

Dalam hiruk pikuk dunia yang penuh perbandingan, manusia sering kehilangan ketenangan karena terlalu sibuk menoleh ke kehidupan orang lain. Padahal Islam mengajarkan keteduhan batin melalui pengendalian pandangan hati, menjaga rasa ingin tahu, dan mengarahkan perhatian pada perbaikan diri. Dari sanalah damai tumbuh, iman bersemi, dan hidup menemukan arah yang lebih jernih serta bermakna di hadapan Allah.

Salah satu nikmat terbesar yang sering luput kita syukuri adalah ketika hati berhenti gelisah oleh kehidupan orang lain. Kita tidak lagi sibuk bertanya siapa lebih dulu sukses, siapa hidupnya tampak bahagia, siapa yang lebih dihormati, atau siapa yang terlihat lebih mapan. Saat rasa ingin tahu berlebihan itu mereda, jiwa seakan diturunkan dari beban yang tak pernah diminta Allah untuk kita pikul. Islam tidak datang untuk menjadikan manusia pengintai kehidupan sesamanya, melainkan penjaga amanah atas dirinya sendiri.

Al-Qur’an sejak awal telah menuntun manusia agar fokus pada tanggung jawab personal, bukan sibuk mengurusi apa yang berada di luar kendalinya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini menegaskan bahwa rasa ingin tahu tanpa hak dan tanpa manfaat bukanlah perkara sepele. Setiap perhatian, setiap pengamatan, dan setiap lintasan hati akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Ketenangan sejati lahir ketika seseorang memahami batas antara yang menjadi urusannya dan yang bukan. Banyak kegelisahan muncul bukan karena hidup kita kurang, melainkan karena kita terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Padahal Allah telah mengingatkan:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”

(QS. An-Nisa’: 32).

Perbandingan yang berlebihan hanya melahirkan iri, sementara iri menggerogoti syukur, dan hilangnya syukur menutup pintu ketenangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merangkum prinsip hidup yang menyehatkan iman dalam satu kalimat agung:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.”

(HR. at-Tirmidzi no. 2318, Ibnu Majah no. 3976).

Hadis ini bukan sekadar nasihat etika sosial, tetapi peta jalan menuju ketenangan batin. Orang yang baik Islamnya tahu kapan harus peduli, dan kapan harus melepaskan diri dari urusan yang tidak membawa maslahat.

Ketika energi tidak lagi dihabiskan untuk mengamati kehidupan orang lain, saat itulah seseorang memiliki ruang luas untuk bermuhasabah. Ia mulai bertanya: sudahkah shalatku khusyuk, sudahkah lisanku terjaga, sudahkah hatiku bersih dari dengki. Inilah fokus yang melahirkan pertumbuhan ruhani. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”

(QS. Asy-Syams: 9).

Penyucian jiwa tidak mungkin tercapai jika hati terus dipenuhi urusan orang lain.

Diam dari rasa ingin tahu yang berlebihan bukan berarti acuh, tetapi bijak. Islam mengajarkan kepedulian yang proporsional, bukan kepo yang melelahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian banyak membicarakan orang lain, banyak bertanya (tentang hal yang tidak perlu), dan menyia-nyiakan harta.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa terlalu banyak bertanya tentang hal yang tidak perlu adalah perkara yang tidak diridhai.

Damai bukan hadir karena kita tahu segalanya tentang orang lain, tetapi karena kita memahami diri sendiri. Fokus pada apa yang bisa dikendalikan adalah bentuk tawakal yang matang. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

(QS. Al-Ma’idah: 23).

Tawakal bukan pasrah tanpa usaha, melainkan bekerja memperbaiki diri sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Pada akhirnya, ketika pandangan hati kembali tertuju ke dalam, ketenangan itu tumbuh perlahan namun pasti. Hati menjadi ringan, pikiran lapang, dan hidup terasa cukup. Inilah buah dari meninggalkan yang tidak perlu, menjaga batas, dan menghidupkan fokus pada perbaikan diri. Damai itu bukan karena hidup orang lain tampak buruk, melainkan karena hati kita telah menemukan tempatnya bersandar: kepada Allah semata.

( Red )

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)