Harga Diri Ayah Dalam Rumah Nyaris Hilang
Perwirasatu.co.id, Sabtu 27 Juni 2026.
Sore itu hujan turun pelan, menempel di pagar besi yang mulai berkarat dan dinding rumah yang retaknya makin jelas terlihat. Aku duduk di teras sambil memperhatikan genangan air yang memantulkan lampu jalan dengan cahaya redup. Dari dalam rumah terdengar suara batuk ibu yang tersendat, seperti sesuatu yang tertahan di dadanya. Televisi menyala tanpa benar benar ditonton, hanya jadi pengisi ruang yang terlalu sepi. Saat itu aku belum tahu, bahwa yang akan hilang dari rumah ini bukan hanya ketenangan.
Sejak ibu terserang stroke, rumah ini berubah menjadi tempat yang penuh jeda dan suara kecil yang menyakitkan. Ia yang dulu tidak bisa diam kini hanya terbaring dengan mata yang sering kosong menatap langit langit. Setiap kali aku menyuapinya makan, tangannya bergetar seolah tubuhnya menolak kenyataan. Bapak juga tidak jauh berbeda, tubuhnya makin kurus sejak anemia dan penyakit ginjal menggerogotinya. Di antara mereka berdua, aku dan kakakku seperti berdiri di tengah rumah yang perlahan runtuh.
Pagi hari selalu dimulai dengan terburu buru, aku dan kakakku berangkat kerja sebelum matahari benar benar tinggi. Kami bergantian memastikan ibu sudah dimandikan oleh bibi yang kami bayar setiap bulan. Semua kebutuhan rumah kami tanggung bersama, mulai dari listrik, WiFi, sampai sarapan sederhana yang kadang hanya nasi dan telur. Meski begitu, aku tetap menyisihkan uang untuk bapak, sekitar tiga juta setiap bulan. Awalnya kupikir itu cukup untuk membuatnya tidak merasa kekurangan.
Bapak tidak pernah benar benar mengeluh, tapi aku bisa melihat perubahan di wajahnya setiap kali menerima uang dariku. Ada jeda sebelum ia memasukkannya ke saku, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ditahan. Kadang ia pergi ke pasar dan pulang membawa ayam, lalu memasaknya sendiri meski tangannya tidak lagi sekuat dulu. Ia juga sering memberi uang lebih ke bibi, bahkan membungkuskan makanan untuk dibawa pulang tanpa memberi tahu kami. Kebaikannya terasa hangat, tapi juga diam diam membuatku gelisah.
Suatu malam, saat aku baru saja selesai makan, bapak memanggilku ke ruang tengah dengan suara yang lebih berat dari biasanya. Ia duduk tegak, menatapku seolah ingin memastikan aku mendengarkan dengan serius. Ia bilang ingin bekerja lagi, katanya ada teman lama yang mengajaknya membuka usaha. Matanya terlihat hidup untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tapi kalimat berikutnya membuat dadaku terasa sesak, ia membutuhkan modal tiga puluh juta rupiah.
Aku tidak langsung menjawab, hanya menatap wajahnya yang penuh harap. Dalam kepalaku, angka itu terasa seperti sesuatu yang jauh dari jangkauan kami. Aku ingin bertanya banyak hal, tapi yang keluar hanya pertanyaan sederhana tentang usaha apa yang dimaksud. Bapak menjelaskan dengan kata kata yang terdengar kabur, seolah ia sendiri belum benar benar memahaminya. Saat itu aku mulai merasa, ada sesuatu yang tidak ia ceritakan sepenuhnya.
Malam itu aku membicarakannya dengan kakakku di dapur, ditemani suara kipas angin yang berdecit pelan. Kakakku menghela napas panjang, lalu bertanya hal yang sama seperti di kepalaku, bagaimana dengan ibu jika bapak bekerja. Kami saling diam beberapa saat, membayangkan kemungkinan yang tidak menyenangkan. Di satu sisi kami ingin mendukung bapak, tapi di sisi lain kami takut ia terjebak dalam sesuatu yang tidak jelas. Perasaan itu menggantung tanpa keputusan.
Hari hari berikutnya, bapak mulai sering keluar rumah dengan alasan bertemu temannya. Ia memakai kemeja lama yang sudah lama tidak disentuh, mencoba terlihat rapi meski bahunya tampak makin kurus. Ada semangat yang kembali muncul di wajahnya, tapi juga ada kegugupan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia mulai beberapa kali menyinggung soal modal dengan cara yang lebih halus. Dan setiap kali itu terjadi, perasaanku semakin tidak tenang.
Aku mulai memperhatikan hal hal kecil yang sebelumnya tidak terlalu kupedulikan. Laci meja bapak sering tertutup rapat, padahal dulu ia tidak pernah menyembunyikan apa pun. Ia juga lebih sering memegang ponsel, berbicara pelan di luar rumah. Suatu kali aku melihatnya menghitung uang dengan wajah tegang, lalu buru buru menyimpannya saat aku mendekat. Semua itu seperti potongan kecil yang belum membentuk gambar utuh.
Akhirnya aku memberanikan diri bertanya lagi tentang usaha itu, kali ini dengan nada yang lebih serius. Bapak terdiam cukup lama sebelum menjawab, seolah memilih kata kata yang aman. Penjelasannya tetap sama, berputar tanpa arah yang jelas. Aku mencoba menggali lebih dalam, tapi ia justru mengalihkan pembicaraan. Saat itu, kepercayaan yang selama ini kupunya mulai retak pelan.
Rasa curiga itu membawaku pada satu keputusan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Saat rumah sedang sepi, aku membuka laci meja bapak yang biasanya terkunci. Di dalamnya ada sebuah amplop cokelat yang terlihat sudah sering dibuka. Tanganku sempat ragu sebelum akhirnya menarik isinya keluar. Kertas kertas di dalamnya berisi daftar hutang dengan nama nama yang asing bagiku.
Aku membaca setiap baris dengan jantung yang berdegup semakin cepat. Jumlahnya tidak kecil, bahkan jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Di bagian bawah, ada catatan tentang pembayaran yang sudah dilakukan sedikit demi sedikit. Dan di sudut kertas, tertulis sesuatu yang membuat tanganku langsung dingin. Ada aset yang disebut sudah diserahkan sebagai jaminan.
Aku mencoba mengingat apa yang mungkin dimaksud dengan aset itu, tapi tidak ada barang di rumah yang terlihat hilang. Semua masih di tempatnya, seolah tidak ada yang berubah. Sampai akhirnya pikiranku mengarah pada satu hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Aku berlari ke lemari tempat kami menyimpan dokumen penting. Nafasku tercekat saat melihat map merah itu kosong.
Sertifikat rumah kami sudah tidak ada.
Malam itu aku langsung menghadapi bapak tanpa menunggu waktu yang tepat. Ia terlihat terkejut saat aku menyebut soal sertifikat, lalu perlahan wajahnya berubah. Tidak ada lagi usaha untuk menyangkal, hanya kelelahan yang tampak jelas. Ia duduk dan menunduk lama sebelum akhirnya bercerita. Usaha itu ternyata hanyalah janji dari seseorang yang memanfaatkan keinginannya untuk kembali bekerja.
Ia mengaku sudah memberikan uang sedikit demi sedikit, berharap bisa mendapat keuntungan yang bisa membantu keluarga. Saat uangnya habis, ia mulai mencari cara lain agar tetap bisa ikut dalam usaha itu. Ia tidak ingin terlihat tidak mampu di hadapan temannya. Dan tanpa berpikir panjang, ia menyerahkan sertifikat rumah sebagai jaminan. Semua itu dilakukan diam diam, tanpa ingin membebani kami.
Aku tidak tahu harus berkata apa saat itu, karena semuanya terasa terlalu berat untuk diproses sekaligus. Di depanku bukan hanya seorang ayah yang bersalah, tapi juga seseorang yang sedang berusaha mempertahankan harga dirinya. Ia tidak ingin hanya menerima uang dari anak anaknya. Ia ingin kembali menjadi seseorang yang bisa memberi, bukan hanya bergantung. Tapi justru itu yang membuatnya kehilangan segalanya.
Hujan kembali turun malam itu, lebih deras dari sebelumnya, memukul atap rumah dengan suara yang tidak teratur. Ibu terbaring diam di kamarnya, tidak tahu apa yang sedang terjadi pada rumah yang ia tinggali. Kakakku hanya bisa duduk terpaku setelah mendengar semuanya. Dan bapak tetap di tempatnya, menunduk seperti seseorang yang baru menyadari kesalahannya terlalu terlambat. Rumah ini masih berdiri, tapi rasanya sudah tidak sama lagi.
Aku kembali duduk di teras seperti beberapa hari sebelumnya, menatap jalan yang basah dan kosong. Air hujan mengalir di sela sela retakan lantai, masuk tanpa bisa dihentikan. Untuk pertama kalinya aku menyadari, yang hampir hilang dari kami bukan hanya rumah ini. Tapi juga kepercayaan, harapan, dan rasa aman yang selama ini kami anggap pasti ada.
Dan yang paling menyakitkan, semua itu hilang bukan karena kami tidak berusaha, tapi karena seorang ayah terlalu ingin tetap berarti.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar