Ilmu Tinggi Belum Tentu Membesarkan Hati
Keterangan Gambar : seorang guru berdiri sambil memegang kapur. Sinar matahari sore masuk melalui jendela kayu yang setengah terbuka. Murid murid duduk tenang menunggu pelajaran dimulai. Namun hari itu lelaki itu tidak membuka buku sejarah seperti biasanya. Ia justru ingin menceritakan kisah yang pernah mengubah hidupnya sendiri.
Perwirasatu.co.id, Sabtu 18 April 2026. Di ruang kelas tua yang cat dindingnya mulai mengelupas, seorang guru berdiri sambil memegang kapur. Sinar matahari sore masuk melalui jendela kayu yang setengah terbuka. Murid murid duduk tenang menunggu pelajaran dimulai. Namun hari itu lelaki itu tidak membuka buku sejarah seperti biasanya. Ia justru ingin menceritakan kisah yang pernah mengubah hidupnya sendiri.
Namanya Pak Sarman.
Ia menatap murid muridnya satu per satu. Suaranya pelan, tetapi jelas.
“Anak anak, sebelum kita belajar hari ini, saya ingin bercerita tentang seseorang yang dulu sangat bangga pada ilmunya.”
Beberapa murid mulai memperhatikan dengan serius. Angin sore menggerakkan tirai tipis di jendela kelas.
“Orang itu sejak kecil selalu juara kelas,” kata Pak Sarman. “Ia selalu dipuji guru gurunya. Orang tuanya sangat bangga. Tetangga tetangganya sering berkata, anak ini kelak akan menjadi orang besar.”
Pak Sarman berjalan perlahan di antara bangku murid.
“Setiap lomba ia menangkan. Setiap ujian nilainya selalu paling tinggi. Saat dewasa ia kuliah di universitas ternama. Gelarnya bertambah banyak. Orang orang mulai memanggilnya dengan penuh hormat.”
Seorang murid di barisan depan mengangkat tangan.
“Pak, berarti hidupnya sangat sukses?”
Pak Sarman tersenyum tipis.
“Ya, ia sangat sukses. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah ia pelajari.”
Murid murid menunggu lanjutan kalimat itu.
“Hatiny a tidak pernah dididik untuk merendah.”
Pak Sarman berhenti berjalan. Ia menatap keluar jendela sebentar sebelum melanjutkan cerita.
“Karena itu, setiap kali ia berbicara, kata katanya sering membuat orang lain merasa kecil.”
Pak Sarman mengingat sebuah peristiwa.
Suatu hari di kampus, seorang mahasiswa bertanya kepadanya tentang pelajaran yang sulit. Ia menjawab dengan nada meremehkan.
“Pertanyaan seperti itu saja kamu tidak paham?” katanya waktu itu.
Mahasiswa yang bertanya hanya terdiam. Wajahnya memerah menahan malu.
Pak Sarman melanjutkan ceritanya kepada murid murid di kelas.
“Orang pintar tadi sering melakukan hal seperti itu. Tanpa ia sadari, semakin lama orang orang mulai menjaga jarak darinya.”
Seorang siswi bertanya pelan.
“Apakah ia tidak menyadarinya, Pak?”
Pak Sarman menggeleng perlahan.
“Tidak. Ia terlalu sibuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.”
Suatu waktu, setelah bertahun tahun meraih banyak pencapaian, orang itu pulang ke kampung halamannya.
Kampung itu sederhana. Jalanannya sempit. Rumah rumahnya tidak besar. Tetapi orang orang di sana hidup dengan ramah satu sama lain.
Suatu sore ia berjalan menuju masjid tua di ujung kampung.
Di halaman masjid itu ia melihat seorang lelaki tua sedang menyapu lantai dengan sapu lidi.
Gerakan sapunya pelan, tetapi rapi. Wajah lelaki itu tenang.
Setiap orang yang lewat disapanya dengan senyum.
“Silakan duluan,” kata lelaki tua itu kepada seorang anak kecil yang berlari melewatinya.
Orang pintar tadi memperhatikan pemandangan itu dengan heran.
Ia melihat sesuatu yang tidak biasa.
Setiap orang yang datang ke masjid selalu menyalami lelaki tua itu dengan penuh hormat.
Padahal lelaki itu hanya seorang tukang sapu.
Rasa penasaran membuatnya mendekat.
“Pak, apakah Bapak tinggal di sekitar sini?” tanyanya.
Lelaki tua itu tersenyum ramah.
“Iya, Nak. Saya hanya membantu membersihkan masjid.”
Mereka berbincang cukup lama.
Semakin lama berbicara, orang pintar itu semakin heran.
Lelaki tua itu tidak memiliki pendidikan tinggi. Bahkan ia mengaku tidak pernah selesai sekolah dasar.
Namun cara bicaranya lembut. Ia tidak pernah meninggikan suara.
Beberapa hari kemudian orang pintar itu kembali ke masjid. Ia ingin memahami sesuatu yang sejak awal membuatnya gelisah.
Malam itu masjid hampir kosong. Hanya suara sapu lidi yang terdengar menyapu lantai.
Ia akhirnya bertanya.
“Pak, saya ingin bertanya sesuatu.”
Lelaki tua itu berhenti menyapu.
“Silakan.”
“Saya memiliki banyak ilmu. Gelar saya banyak. Tetapi orang orang tidak pernah menghormati saya seperti mereka menghormati Bapak.”
Lelaki tua itu tersenyum. Matanya hangat.
Ia berkata dengan tenang.
“Karena kamu ingin dihormati.”
Orang pintar itu terdiam.
“Saya tidak pernah memikirkan untuk dihormati,” lanjut lelaki tua itu. “Saya hanya berusaha menghormati setiap orang yang saya temui.”
Ia lalu mengangkat sapunya kembali.
“Hati yang tidak dididik akan mudah sombong,” katanya pelan.
“Mata yang tidak dijaga akan mudah merendahkan orang lain.”
Angin malam masuk melalui pintu masjid. Kata kata itu terasa menembus dada orang pintar tadi.
Sejak malam itu ia mulai memikirkan ulang hidupnya.
Ia teringat semua orang yang pernah ia rendahkan.
Ia mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh buku buku tebal di universitas.
Pak Sarman berhenti bercerita.
Kelas menjadi sunyi. Murid murid menunggu kelanjutan kisah itu.
Seorang murid bertanya.
“Pak, apa yang terjadi dengan orang pintar itu setelah pertemuan itu?”
Pak Sarman menatap papan tulis di depan kelas.
Ia mengambil kapur dan menuliskan sebuah kalimat.
Ilmu membuat seseorang dihormati.
Akhlak membuat seseorang dimuliakan.
Ia meletakkan kapur itu perlahan.
Lalu ia menoleh kepada murid muridnya.
“Anak anak, kalian tahu dari mana saya mengetahui cerita ini?”
Seorang murid menjawab ragu.
“Mungkin dari buku, Pak?”
Pak Sarman menggeleng.
Matanya terlihat sedikit berkaca kaca.
Ia berkata pelan.
“Orang pintar dalam cerita itu adalah saya.”
Tak seorang pun di kelas bergerak.
Pak Sarman menarik napas panjang.
“Dan lelaki tua yang menyapu masjid itu adalah guru paling besar dalam hidup saya.”
Ia menatap murid muridnya dengan lembut.
“Karena dari dialah saya akhirnya belajar sesuatu yang lebih penting daripada semua gelar yang pernah saya dapatkan.”
Pak Sarman tersenyum tipis.
“Belajar menjadi manusia.”
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar