Istighfar Menjelang Ajal
Keterangan Gambar : Kematian bukan sekadar peristiwa yang ditakuti, melainkan kepastian yang setiap detik mendekat tanpa bisa diundur. Orang yang berakal tidak akan menunda taubat, sebab ia tidak pernah tahu kapan napasnya berhenti. Istighfar bukan hanya ucapan lisan, tetapi kesadaran batin yang mengantar seseorang kembali kepada Allah dengan hati yang bersih sebelum segalanya terlambat.
Perwirasatu.co.id, Senin 27 April 2026. Kesadaran tentang kematian adalah cahaya yang menuntun hati manusia agar tidak terlena oleh dunia. Istighfar menjadi pintu kembali menuju rahmat Allah sebelum ajal tiba. Setiap manusia hendaknya memperbanyak taubat, memperbaiki amal, dan mengingat bahwa hidup ini sementara. Dengan istighfar, hati menjadi bersih, jiwa tenang, dan perjalanan menuju akhirat lebih terarah dan penuh harapan ampunan-Nya dari Allah Yang Maha Pengampun selalu
Kematian bukan sekadar peristiwa yang ditakuti, melainkan kepastian yang setiap detik mendekat tanpa bisa diundur. Orang yang berakal tidak akan menunda taubat, sebab ia tidak pernah tahu kapan napasnya berhenti. Istighfar bukan hanya ucapan lisan, tetapi kesadaran batin yang mengantar seseorang kembali kepada Allah dengan hati yang bersih sebelum segalanya terlambat.
Di antara nasihat yang sangat dalam maknanya adalah wasiat Ibnul Jazari rahimahullah yang menggugah kesadaran hati tentang makna hidup dan kematian. Beliau berkata:
وعليك بتقوى الله العظيم وأن لا يفارق ذكر الموت قلبك، وأن يكون ذكر الله عز وجل لازما لسانك وقلبك، وأن تديم النظر في كونه مطلعا عليك.
فعليك بالاستغفار لما قد سلف عن ذنوبك، واسأل الله السلامة لما بقي من عمرك، وإياك أن تخرج من الدنيا على غير توبة.
“Wajib atasmu bertakwa kepada Allah Yang Maha Agung, dan janganlah engkau membiarkan ingatan tentang kematian meninggalkan hatimu. Jadikanlah zikir kepada Allah selalu melekat pada lisan dan hatimu, serta senantiasa menyadari bahwa Allah selalu mengawasi dirimu. Perbanyaklah istighfar atas dosa-dosa yang telah lalu, mintalah keselamatan kepada Allah untuk sisa umurmu, dan janganlah engkau keluar dari dunia ini dalam keadaan tanpa taubat.”
Az-Zahrul Faih hlm. 10
Peringatan ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala yang membuka pintu harapan seluas-luasnya bagi para pendosa yang ingin kembali:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama pintu taubat masih diketuk dengan kesungguhan. Karena itu istighfar bukan sekadar ritual, tetapi jalan pulang bagi jiwa yang lelah dan tersesat. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa kesalahan adalah bagian dari manusia, namun yang membedakan adalah siapa yang segera kembali dan siapa yang terus menunda. Menunda taubat adalah bentuk kelalaian yang bisa menjadi penyesalan ketika ajal tiba tanpa peringatan.
Hidup yang sadar akan kematian akan melahirkan hati yang lembut, tidak sombong, dan tidak mudah terperdaya oleh dunia. Setiap langkah dijaga, setiap ucapan ditimbang, dan setiap kesempatan digunakan untuk memperbanyak istighfar. Sebab seseorang tidak tahu amal mana yang akan menyelamatkannya di hadapan Allah kelak.
Maka, sebelum nafas benar-benar berhenti, sebelum mata terpejam untuk selamanya, dan sebelum pintu taubat tertutup, hendaknya lisan ini tidak pernah kering dari istighfar. Hati terus belajar tunduk, air mata menjadi saksi penyesalan, dan amal diperbaiki sedikit demi sedikit dengan harapan rahmat Allah lebih besar dari dosa yang pernah dilakukan.
Ya Allah, jadikan kami hamba yang selalu mengingat-Mu dalam keadaan lapang maupun sempit, yang tidak lalai dari kematian, dan yang Engkau wafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Ampunilah seluruh dosa kami yang lalu, yang tersembunyi maupun yang tampak, dan jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Aamiin.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar