Jangan Mudah Memvonis Hamba Allah
Keterangan Gambar : Dalam kehidupan beragama, ada satu penyakit hati yang sering hadir tanpa disadari, yakni merasa paling selamat lalu mudah memvonis orang lain sebagai calon penghuni Neraka. Padahal, Islam datang membawa rahmat, harapan, dan adab dalam menilai sesama.
Perwirasatu.co.id - 23 Desember 2025.
Dalam kehidupan beragama, ada satu penyakit hati yang sering hadir tanpa disadari, yakni merasa paling selamat lalu mudah memvonis orang lain sebagai calon penghuni Neraka. Padahal, Islam datang membawa rahmat, harapan, dan adab dalam menilai sesama. Kisah ini mengingatkan bahwa keselamatan bukan milik siapa pun kecuali atas izin Allah.
Saudaraku, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk gegabah memutuskan nasib akhir seseorang. Selama nyawa masih bersemayam di jasad, pintu taubat tetap terbuka. Seorang hamba yang hari ini bergelimang dosa bisa jadi di akhir hidupnya kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus, sementara seorang ahli ibadah dapat tergelincir oleh satu kalimat yang lahir dari kesombongan hati. Inilah pelajaran besar yang sering luput dari kesadaran kita. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini menegaskan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada penilaian manusia. Maka siapa kita hingga berani memastikan seseorang pasti celaka di akhirat?
Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan peringatan keras melalui kisah dua orang dari Bani Israil. Salah satunya rajin beribadah, sementara yang lain dikenal sering bermaksiat. Sang ahli ibadah kerap menegur saudaranya, hingga suatu hari lisannya tergelincir dengan vonis yang sangat berbahaya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
كان رجلانِ في بني إسرائيلَ مُتؤاخِيَينِ، فكان أحدُهما يذنب، والآخرُ مجتهدٌ في العبادة، فكان لا يزال المجتهدُ يرى الآخرَ على الذنبِ فيقول : أَقصِرْ . فوجده يومًا على ذنبٍ فقال له : أقصِر . فقال : خلِّني وربي أبعثتَ عليَّ رقيبًا ؟ فقال : واللهِ ! لا يغفر اللهُ لك – أو لا يدخلُك اللهُ الجنةَ ! – فقبض أرواحَهما، فاجتمعا عند ربِّ العالمين، فقال لهذا المجتهدِ : كنتَ بي عالما، أو كنتَ على ما في يدي قادرًا ؟ وقال للمذنب : اذهبْ فادخلِ الجنةَ برحمتي، وقال للآخرِ : اذهبوا به إلى النارِ
Artinya: “Dahulu ada dua orang dari Bani Israil yang bersaudara. Salah satunya sering berbuat dosa, sementara yang lain bersungguh-sungguh dalam ibadah. Orang yang rajin ibadah itu selalu melihat saudaranya dalam dosa dan berkata: ‘Berhentilah.’ Suatu hari ia kembali melihatnya berbuat dosa, lalu berkata: ‘Berhentilah.’ Saudaranya menjawab: ‘Biarkan aku dengan Rabb-ku. Apakah engkau diutus sebagai pengawas atasku?’ Maka ia berkata: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu,’ atau ‘Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.’ Lalu Allah mewafatkan keduanya dan mereka dikumpulkan di hadapan Rabb semesta alam. Allah berfirman kepada ahli ibadah itu: ‘Apakah engkau lebih mengetahui tentang Aku atau berkuasa atas apa yang ada di tangan-Ku?’ Dan Allah berfirman kepada orang yang berdosa: ‘Pergilah, masuklah ke surga dengan rahmat-Ku.’ Sedangkan kepada yang rajin ibadah itu Allah berfirman: ‘Seretlah ia ke neraka.’”
Kemudian Abu Hurairah رضي الله عنه berkata:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah mengucapkan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya.” (HR. Abu Dawud no. 4901 dan Ahmad no. 8292).
Hadis ini bukan untuk membela maksiat, tetapi untuk mengingatkan bahwa kesombongan rohani lebih berbahaya daripada dosa yang disertai rasa takut kepada Allah. Islam memerintahkan amar makruf nahi mungkar dengan adab, kasih sayang, dan kesadaran bahwa hidayah sepenuhnya milik Allah. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).
Tugas kita hanyalah menyampaikan, menasihati dengan hikmah, dan mendoakan, bukan mengunci pintu rahmat Allah dengan vonis-vonis yang lahir dari keangkuhan.
Karena itu, marilah kita sibuk memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan memohon husnul khatimah. Jangan pernah merasa aman dari makar Allah, dan jangan pula menutup harapan taubat bagi siapa pun. Sebab, di hadapan keadilan dan rahmat-Nya, yang paling selamat adalah hamba yang rendah hati, takut akan dosanya, dan tidak lancang menilai akhir perjalanan orang lain.
( Red )
Tulis Komentar