Kemewahan Paling Nyata Adalah Tenang
Keterangan Gambar : Dalam Islam, ketenangan bukan sekadar suasana, tetapi anugerah dari Allah yang diberikan kepada hamba yang menjaga iman, memperbaiki amal, dan meluruskan cara pandang terhadap dunia.
Perwirasatu.co.id, Minggu 3 Mei 2026. Seiring bertambahnya usia, kita mulai paham bahwa nikmat terbesar bukan selalu rumah megah, kendaraan mahal, atau gaya hidup yang tampak wah, melainkan tidur yang nyenyak dan hati yang lapang. Sebab pada umur tertentu, kemampuan memejamkan mata tanpa dihantui rasa cemas adalah karunia besar. Banyak orang kaya, namun gelisah. Banyak yang tersenyum, namun lelah batin.
Dalam Islam, ketenangan bukan sekadar suasana, tetapi anugerah dari Allah yang diberikan kepada hamba yang menjaga iman, memperbaiki amal, dan meluruskan cara pandang terhadap dunia. Allah Ta’ala menegaskan bahwa hati manusia memang tidak akan benar-benar tenteram hanya dengan harta atau pujian manusia, melainkan dengan mengingat Allah.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini bukan sekadar penghibur, tetapi petunjuk hidup. Banyak orang mengejar kemewahan, namun tetap tidak bisa tidur. Banyak orang memiliki kasur empuk, tetapi pikirannya keras, dipenuhi takut kehilangan, takut gagal, takut ditinggalkan, takut masa depan. Padahal, ketenangan hati adalah rezeki yang paling mahal. Tidur yang nyenyak adalah tanda bahwa seseorang diberi ruang aman oleh Allah dalam batinnya.
Kita sering menyangka bahwa “tenang” adalah hasil dari semua masalah selesai. Padahal, orang yang beriman bisa tetap tenang meski masalah belum selesai, karena ia yakin ada Allah yang mengatur semuanya. Ia tidak merasa sendirian. Ia sadar bahwa hidup ini bukan tentang menguasai segalanya, melainkan tentang berserah kepada Yang Maha Menguasai.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)
Ketika seseorang benar-benar tawakal, ia tidak lagi memikul semua beban sendirian. Ia berusaha, tetapi tidak menggantungkan hasil pada kemampuannya. Ia bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaannya. Ia merencanakan, tetapi tidak panik ketika rencana berubah. Maka tidurnya pun lebih damai, sebab hatinya percaya: Allah tidak mungkin lalai terhadap hamba-Nya.
Semakin dewasa, kita juga menyadari bahwa overthinking sering muncul karena hati terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum terjadi, atau menyesali hal-hal yang sudah berlalu. Padahal Islam mengajarkan kita untuk hidup dalam batas yang Allah tetapkan: berikhtiar pada hari ini, memohon pertolongan Allah, lalu ridha pada keputusan-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Ini sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.”
(HR. Muslim)
Hadis ini seperti obat bagi jiwa yang lelah. Banyak orang kehilangan ketenangan karena terus mengulang masa lalu dalam pikirannya. Padahal, penyesalan yang tidak disertai taubat hanya akan menjadi pintu bisikan setan. Islam tidak melarang evaluasi, tetapi melarang hati tenggelam dalam “seandainya” yang melemahkan iman.
Di usia yang semakin bertambah, kemewahan paling nyata adalah ketika kita bisa tidur dengan hati bersih. Tidak menyimpan dendam. Tidak memelihara iri. Tidak sibuk membandingkan rezeki. Karena iri hati membuat seseorang tidak pernah merasa cukup. Sedangkan qana’ah menjadikan seseorang kaya meski sederhana.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah definisi kaya yang sebenarnya. Orang yang kaya hati tidak mudah gelisah. Ia tidak panik dengan komentar manusia. Ia tidak takut miskin karena ia percaya rezeki sudah ditakar. Tidurnya pun lebih tenang karena pikirannya tidak dikejar-kejar ambisi yang tidak ada ujungnya.
Ketenangan juga lahir dari kemampuan memaafkan. Banyak orang tidak bisa tidur bukan karena masalah besar, tetapi karena hati menyimpan luka kecil yang terus diingat. Padahal Allah menjanjikan kemuliaan bagi orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Orang yang memaafkan bukan berarti lemah, tetapi ia kuat. Ia memilih damai daripada menang debat. Ia memilih sehat hati daripada memelihara racun dendam. Dan ketika hati bersih, tidur pun menjadi ibadah yang menenangkan.
Pada akhirnya, semakin bertambah usia, kita akan sadar bahwa dunia ini bukan tempat istirahat, melainkan tempat ujian. Jika kita menjadikan dunia sebagai tujuan, maka kita akan selalu gelisah. Tetapi jika kita menjadikan akhirat sebagai arah, maka dunia terasa ringan.
Allah berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 17)
Maka kemewahan paling nyata bukanlah apa yang terlihat di mata manusia, melainkan apa yang terasa di dalam dada: iman yang menenteramkan, doa yang menguatkan, dan hati yang tidak mudah goyah. Tidur yang cukup tanpa beban pikiran adalah nikmat yang Allah berikan kepada mereka yang bersandar kepada-Nya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang tenang, lapang, dan selalu diberi sakinah di setiap malam.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar