MENEMUKAN ALLAH DIGUBUK JANDACerpen Kehidupan

MENEMUKAN ALLAH DIGUBUK JANDA
Perwirasatu.co.id, Selasa 5 Mei 2026. SUATU KETIKA, Abdulloh bin Mubarok telah bersiap dengan 500 dinar di kantongnya untuk berangkat haji. Namun, perjalanannya terhenti di depan pintu rumah seorang janda yang memungut bangkai ayam dari tempat sampah, mencabuti bulu-bulunya, dan hendak memasaknya untuk anak-anaknya yang kelaparan . 

Tanpa ragu, Abdulloh bin Mubarok menyerahkan seluruh bekal hajinya. Beliau memutuskan, untuk membatalkan berangkat haji ke Mekkah. Penduduk langit pun mencatatnya sebagai haji paling mabrur tahun itu, melalui sosok malaikat yang menggantikan Abdulloh bin Mubarok berthowaf di Baitulloh.

Kisah klasik ini, menjadi nyata dalam dawuh para kekasih Alloh di zaman kita. Gus Miek Ploso sering mengingatkan, bahwa; haji itu cukup sekali saja. Mengapa? Karena kelebihan harta setelah kewajiban itu tertunaikan, hukumnya adalah 'Sunnah'. 
Ada 'haji-haji sosial' yang jauh lebih mendesak, daripada sekadar menuruti syahwat khofiyyah, ego dan gengsi berbungkus ibadah.

Senada dengan itu, Gus Baha’ dengan tajam menyentil logika keberagama-an kita. Beliau berfatwa, bahwa; Alloh jauh lebih merindukan orang kaya yang hartanya 'di-infaq-kan' untuk membantu fakir miskin daripada mereka yang berkali-kali umroh namun abai pada ketimpangan sosioal di sekitarnya.

Ada bahaya laten bernama 'syahwat ibadah'—ketika seseorang merasa sedang menuju Allah di Tanah Suci, padahal ia hanya sedang memuaskan ego spiritualnya. Sementara itu, Allah justru 'menunggu' mereka di gubuk-gubuk sempit kaum dlu'afa.

Jangan sampai kita sibuk mencium Hajar Aswad di Mekkah, sementara kita 'melempar-jumrah' _ (menyakiti) hati tetangga yang serba kekurangan, bahkan kelaparan, dengan pamer kemewahan ibadah. 

Hakikat haji bukan hanya perjalanan fisik ke Ka’bah, tapi perjalanan hati menuju 'Kemanusiaan'. Sebab, jalan pintas menuju ridlo Alloh terkadang bukan melalui 'Pintu Pesawat' menuju Jeddah, melainkan melalui 'Pintu Rumah Tetangga' yang sedang kesusahan. Nabi shollallohu alayhi wasallam bersabda: "Sebaik-sebaik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama!". 

Barakallahu Fiikum, semoga kisah inspiratif ini, dapat membuka mata hati kita sebagai hamba yang bersyukur. Insha Allah.

Sumber: Hj. Parilah

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)