Menguji Daya Saing PTKIN Merebut Talenta Bangsa
Keterangan Gambar : Sebuah unggahan di media sosial yang dinisiasi oleh dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Zezen Zaenal Mutaqin, memantik diskusi luas mengenai arah pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
Perwirasatu.co.id, Rabu 15 Juli 2026
Sebuah unggahan di media sosial yang dinisiasi oleh dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Zezen Zaenal Mutaqin, memantik diskusi luas mengenai arah pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Pokok persoalan yang disampaikan bukanlah menyalahkan pilihan lulusan madrasah unggulan, melainkan mengajak semua pihak mengevaluasi mengapa banyak siswa terbaik justru menjadikan perguruan tinggi umum sebagai tujuan utama, sedangkan UIN dan PTKIN masih sering diposisikan sebagai pilihan alternatif. Terlepas dari beragam respons yang muncul, isu ini layak dibahas secara objektif karena menyentuh masa depan pendidikan Islam nasional.
Unggahan tersebut menjadi perhatian publik karena mengangkat realitas yang selama ini sering dibicarakan di lingkungan pendidikan, tetapi jarang dikemukakan secara terbuka. Zezen mempertanyakan efektivitas investasi besar pemerintah, khususnya Kementerian Agama, dalam membangun madrasah unggulan apabila lulusan terbaiknya justru lebih banyak melanjutkan studi ke Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya, hingga berbagai universitas ternama di luar negeri. Hingga feature ini disusun, pernyataan tersebut beredar luas melalui media sosial dan belum ditemukan pemberitaan mendalam maupun wawancara komprehensif di media arus utama yang mengonfirmasi keseluruhan konteks pernyataan tersebut. Karena itu, substansi yang dibahas di sini diposisikan sebagai bahan refleksi atas isu yang berkembang di ruang publik, bukan sebagai kesimpulan final.
Apabila dicermati secara jernih, kritik tersebut sesungguhnya tidak diarahkan kepada para siswa. Setiap lulusan berhak menentukan masa depan akademiknya berdasarkan minat, bakat, kualitas pendidikan, peluang riset, prospek karier, maupun kesempatan memperoleh jejaring internasional. Dalam perspektif pendidikan modern, keputusan memilih perguruan tinggi merupakan hak akademik yang tidak dapat dipandang sebagai bentuk ketidaksetiaan terhadap lembaga pendidikan asal. Justru apabila banyak siswa terbaik mengambil keputusan serupa, hal itu patut dibaca sebagai indikator adanya persepsi kolektif mengenai reputasi dan daya saing perguruan tinggi tujuan mereka.
Data resmi Kementerian Agama menunjukkan bahwa dalam dua dekade terakhir pembangunan madrasah mengalami kemajuan yang signifikan. Program Madrasah Reform, penguatan Madrasah Aliyah Kejuruan, Madrasah Unggulan, MAN Insan Cendekia, digitalisasi pembelajaran, hingga peningkatan kompetensi guru telah menghasilkan banyak prestasi nasional maupun internasional. Tidak sedikit siswa madrasah yang menjuarai olimpiade sains, kompetisi riset, debat bahasa asing, maupun hafalan Al-Qur'an tingkat dunia. Fakta ini memperlihatkan bahwa kualitas lulusan madrasah terus meningkat dan mampu bersaing dengan lulusan sekolah umum.
Namun keberhasilan pendidikan menengah tersebut ternyata belum sepenuhnya diikuti oleh meningkatnya daya tarik sebagian PTKIN. Dalam berbagai pemeringkatan internasional, perguruan tinggi umum seperti UI, UGM, ITB, IPB, ITS, dan beberapa kampus negeri lainnya masih mendominasi posisi teratas Indonesia. Sebagian UIN memang telah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan dalam bidang publikasi ilmiah, akreditasi internasional, serta kerja sama global, tetapi secara keseluruhan persepsi masyarakat mengenai reputasi PTKIN masih menghadapi tantangan besar. Persepsi inilah yang pada akhirnya ikut memengaruhi pilihan calon mahasiswa.
Persoalan tersebut tidak dapat disederhanakan hanya menjadi soal identitas keislaman. Dalam era kompetisi global, reputasi perguruan tinggi dibangun melalui produktivitas riset, kualitas dosen, jumlah publikasi internasional, inovasi teknologi, jejaring alumni, kemampuan menghasilkan lulusan yang kompetitif, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa. Mahasiswa berprestasi cenderung mencari lingkungan akademik yang mampu memperluas peluang mereka untuk melanjutkan studi ke luar negeri, memasuki dunia industri, memperoleh beasiswa bergengsi, maupun membangun karier profesional. Selama indikator-indikator tersebut belum menjadi keunggulan utama sebagian PTKIN, kecenderungan memilih perguruan tinggi umum akan tetap berlangsung.
Di sisi lain, tidak adil apabila seluruh PTKIN dipandang tertinggal. Transformasi Institut Agama Islam Negeri menjadi Universitas Islam Negeri merupakan langkah strategis yang telah memperluas integrasi ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern. Banyak UIN kini membuka fakultas kedokteran, sains, teknologi, ekonomi, psikologi, bahkan kecerdasan buatan. Sejumlah dosennya merupakan lulusan universitas terbaik dunia, sementara publikasi ilmiahnya juga terus meningkat. Artinya, fondasi menuju perguruan tinggi Islam berkelas dunia sebenarnya telah tersedia. Tantangan berikutnya adalah mempercepat transformasi tersebut secara merata sehingga keunggulan tidak hanya dimiliki oleh beberapa kampus tertentu.
Pernyataan Zezen juga mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik sekolah dan kampus. Gedung yang megah tidak otomatis menghasilkan reputasi akademik. Laboratorium modern tidak akan bermakna tanpa budaya riset yang kuat. Kurikulum yang baik pun belum cukup apabila tidak didukung tata kelola yang profesional, kebebasan akademik yang sehat, kolaborasi internasional, serta ekosistem inovasi yang produktif. Dalam dunia pendidikan tinggi, kualitas merupakan hasil akumulasi proses panjang yang dibangun secara konsisten, bukan semata-mata melalui investasi infrastruktur.
Pemerintah melalui Kementerian Agama sebenarnya telah menunjukkan komitmen besar dalam meningkatkan mutu PTKIN melalui berbagai program penguatan kelembagaan, beasiswa dosen, akreditasi internasional, digitalisasi pembelajaran, serta kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri. Berbagai kebijakan tersebut layak diapresiasi karena menjadi fondasi penting bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi Islam. Namun sebagaimana lazimnya sebuah kebijakan publik, evaluasi tetap diperlukan agar hasil yang dicapai benar-benar mampu menjawab ekspektasi masyarakat yang terus berkembang.
Dalam konteks itulah kritik seharusnya dipandang sebagai energi perbaikan, bukan ancaman. Kampus yang sehat adalah kampus yang terbuka terhadap evaluasi. Perguruan tinggi yang percaya diri tidak akan merasa terganggu oleh kritik berbasis argumentasi, melainkan menjadikannya sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki kelemahan yang masih ada. Sikap defensif justru akan memperlambat proses transformasi yang sedang berlangsung.
Diskusi yang dipicu oleh unggahan tersebut membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar pilihan antara UIN atau perguruan tinggi umum. Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana Indonesia membangun ekosistem pendidikan tinggi yang mampu melahirkan ilmuwan, pemimpin, ulama, teknokrat, dan inovator yang memiliki integritas moral sekaligus keunggulan akademik. Ketika PTKIN mampu menghadirkan kualitas pendidikan, riset, tata kelola, jejaring global, dan daya saing yang setara dengan kampus terbaik nasional maupun internasional, maka lulusan madrasah unggulan tidak lagi memilih karena faktor citra atau simbol, melainkan karena keyakinan bahwa di sanalah mereka menemukan tempat terbaik untuk mengembangkan ilmu, karakter, dan masa depan. Kritik yang berkembang hari ini dengan demikian bukanlah akhir dari sebuah perdebatan, melainkan awal dari ikhtiar bersama untuk menjadikan pendidikan tinggi Islam Indonesia semakin unggul, relevan, dan berdaya saing di tingkat dunia.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar