MENIMBANG KHGT DALAM LINTASAN PERADABAN ISLAM
Perwirasatu.co.id, Jum,at 12 Juni 2026.
Ketika ilmu astronomi mampu memprediksi posisi bulan hingga puluhan tahun ke depan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, perdebatan mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal kembali mengemuka. Sebagian umat melihatnya sebagai jalan menuju persatuan kalender Islam dunia, sementara sebagian lainnya memandang bahwa prinsip rukyat dan keragaman wilayah tetap harus menjadi pertimbangan utama. Di titik inilah agama, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan peradaban modern saling bertemu.
Salah satu kritik yang sering diajukan terhadap Kalender Hijriah Global Tunggal adalah pertanyaan sederhana namun menggugah: jika konsep ini memang ideal, mengapa tidak pernah diterapkan selama empat belas abad sejarah Islam? Pertanyaan tersebut sekilas tampak kuat, tetapi perlu ditempatkan dalam konteks sejarah perkembangan peradaban manusia.
Dalam kehidupan umat Islam saat ini terdapat banyak sarana yang tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW. Perjalanan haji menggunakan pesawat terbang, penentuan arah kiblat dengan satelit, penggunaan aplikasi digital penunjuk waktu salat, hingga komunikasi dakwah melalui internet merupakan contoh bagaimana perkembangan teknologi diterima sebagai sarana untuk mempermudah pelaksanaan ajaran Islam. Perubahan alat dan metode tidak otomatis berarti perubahan terhadap substansi syariat.
Al Quran sendiri memberikan perhatian besar terhadap keteraturan benda benda langit. Dalam Surah Yunus ayat 5 dan Surah Ar Rahman ayat 5 disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan yang teliti. Para ulama tafsir sejak masa klasik memahami ayat ayat tersebut sebagai dasar penting bagi pengembangan ilmu falak dan sistem penanggalan.
Pada masa Rasulullah SAW, penentuan awal bulan dilakukan melalui rukyat atau pengamatan hilal secara langsung. Metode tersebut sangat sesuai dengan kondisi masyarakat ketika itu. Akan tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa umat Islam tidak berhenti pada satu bentuk teknis tertentu. Ilmu hisab berkembang pesat pada masa keemasan Islam melalui karya para astronom Muslim yang mengembangkan observatorium, tabel astronomi, dan metode perhitungan posisi benda langit.
Bahkan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini pun merupakan hasil ijtihad sejarah. Pada masa Rasulullah SAW belum terdapat sistem penomoran tahun sebagaimana dikenal sekarang. Penetapan kalender Hijriah secara resmi baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab ketika kebutuhan administrasi pemerintahan semakin berkembang. Tahun hijrah Nabi dipilih sebagai titik awal penanggalan karena dianggap sebagai tonggak penting dalam sejarah umat Islam.
Perkembangan ilmu astronomi modern kemudian menghadirkan kemampuan yang belum pernah dimiliki generasi terdahulu. Posisi bulan, waktu konjungsi, tinggi hilal, elongasi, hingga kemungkinan keterlihatan hilal dapat dihitung dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Fakta ilmiah ini menjadi salah satu dasar lahirnya gagasan penyatuan kalender Islam secara global.
Gagasan tersebut tidak muncul secara tiba tiba. Selama puluhan tahun para astronom, ulama, dan lembaga keagamaan dari berbagai negara telah mengadakan diskusi dan konferensi internasional untuk mencari titik temu. Salah satu momentum penting terjadi dalam Kongres Kalender Hijriah Internasional di Istanbul pada Mei 2016 yang dihadiri perwakilan dari puluhan negara. Kongres tersebut menghasilkan rekomendasi mengenai kemungkinan penerapan kalender Islam yang lebih seragam di tingkat global.
Bagi para pendukung KHGT, kalender global dipandang sebagai kebutuhan peradaban modern. Mereka berpendapat bahwa umat Islam yang tersebar di berbagai negara memerlukan sistem penanggalan yang dapat diprediksi jauh hari ke depan untuk kepentingan pendidikan, ekonomi, diplomasi, perjalanan internasional, serta penyusunan agenda keagamaan bersama.
Namun para pengkritik KHGT juga memiliki argumentasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagian ulama dan astronom berpendapat bahwa aspek lokalitas dalam rukyat masih memiliki landasan fikih yang kuat. Mereka mengingatkan bahwa perbedaan mathla atau wilayah terbit bulan telah menjadi bagian dari khazanah hukum Islam selama berabad abad. Karena itu penyatuan kalender global dinilai masih menyisakan sejumlah persoalan fikih yang memerlukan pembahasan lebih mendalam.
Pandangan kritis juga datang dari sejumlah pakar astronomi Indonesia. Peneliti astronomi BRIN Thomas Djamaluddin, misalnya, pernah menyampaikan keraguannya bahwa kalender ibadah dapat sepenuhnya disatukan dalam satu sistem global karena adanya perbedaan pendekatan dalam memahami rukyat, hisab, dan kriteria visibilitas hilal. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kalender Islam bukan semata persoalan astronomi, melainkan juga persoalan metodologi fikih.
Di sisi lain, Muhammadiyah termasuk organisasi yang secara aktif mengembangkan dan memperkenalkan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal. Pada tahun 2024, Muhammadiyah bahkan menyerahkan KHGT kepada Imam Besar Al Azhar sebagai bagian dari ikhtiar memperluas dialog mengenai masa depan kalender Islam dunia.
Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya perlu dijawab bukanlah mengapa KHGT tidak diterapkan pada masa lalu, melainkan apakah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, dan kebutuhan masyarakat Muslim global saat ini telah menciptakan kondisi yang memungkinkan lahirnya sistem kalender yang lebih terpadu.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa peradaban selalu berkembang melalui dialog antara wahyu, akal, dan realitas sosial. Perdebatan mengenai KHGT seharusnya ditempatkan dalam kerangka ijtihad ilmiah yang terbuka, bukan dalam pertentangan antara agama dan sains. Sebab baik pendukung maupun pengkritik pada dasarnya sama sama berupaya mencari cara terbaik untuk mengelola waktu ibadah umat berdasarkan pemahaman yang mereka yakini paling mendekati kebenaran.
REFERENSI
1. Anadolu Agency, "Istanbul Meeting Produces Unified Islamic Calendar", 30 Mei 2016.
2. Nihayatur Rohmah, "Diskursus Kalender Hijriyah Global Pasca Kongres Istanbul Turki 2016", Justicia Islamica, Vol. 14 No. 2, 2017.
3. detikHikmah, "Peneliti Sangsi Wacana Penyatuan Kalender Hijriah Sedunia Bisa Terwujud", 8 Maret 2024.
4. Kompas.com, "PP Muhammadiyah Beri Hadiah Kalender Hijriah Global Tunggal ke Imam Besar Al Azhar", 11 Juli 2024.
5. Al Quran Surah Yunus ayat 5.
6. Al Quran Surah Ar Rahman ayat 5.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar