Menimbang Klaim Trilogi Tauhid Dan Trinitas
Keterangan Gambar : Tulisan Nurbani Yusuf dalam akun FB-nya yang membandingkan trilogi tauhid dengan Trinitas perlu dikaji secara hati-hati agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami akidah Islam maupun ajaran agama lain. Kajian ilmiah harus berpijak pada sumber primer, definisi yang tepat, logika yang konsisten, serta dalil Al-Qur'an dan hadis yang sahih.
Perwirasatu.co.id, Kamis 16 Juli 2026
Tulisan Nurbani Yusuf dalam akun FB-nya yang membandingkan trilogi tauhid dengan Trinitas perlu dikaji secara hati-hati agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami akidah Islam maupun ajaran agama lain. Kajian ilmiah harus berpijak pada sumber primer, definisi yang tepat, logika yang konsisten, serta dalil Al-Qur'an dan hadis yang sahih. Kesalahan mendefinisikan suatu konsep akan melahirkan kesimpulan yang juga keliru dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Narasi tersebut mengandung beberapa persoalan mendasar, baik dari sisi sejarah, metodologi, maupun substansi akidah.
Pertama, terdapat kekeliruan historis ketika disebutkan bahwa pembagian tauhid menjadi Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat merupakan gagasan Ibnu Taimiyah yang kemudian dipopulerkan Muhammad bin Abdul Wahhab. Secara akademik, pembagian ini memang banyak dijelaskan secara sistematis oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim, kemudian dipopulerkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun, pembagian tersebut bukanlah penciptaan "tiga Tuhan" atau "tiga bagian Tuhan", melainkan klasifikasi untuk memudahkan penjelasan tentang aspek-aspek tauhid dalam Al-Qur'an.
Para ulama dari berbagai mazhab, termasuk banyak ulama Ahlus Sunnah di luar kalangan Salafi, menerima bahwa Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat hanyalah klasifikasi konseptual (taqsim istilahi), bukan pembagian dzat Allah.
Allah berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya."
(QS. Al-Ikhlas: 1–4)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tetap satu dzat, bukan tiga pribadi ataupun tiga hakikat.
Kedua, penyamaan trilogi tauhid dengan konsep Trinitas merupakan analogi yang tidak sepadan (false analogy).
Trinitas dalam teologi Kristen berbicara mengenai tiga pribadi ilahi (Father, Son, Holy Spirit) yang dipandang memiliki satu hakikat ketuhanan.
Sedangkan Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat sama sekali bukan tiga pribadi.
Rububiyah menjelaskan hubungan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur.
Uluhiyah menjelaskan hak Allah untuk disembah.
Asma wa Sifat menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Ketiganya menjelaskan aspek berbeda mengenai Allah yang satu, bukan membagi Allah menjadi tiga unsur.
Analogi tersebut secara logika termasuk kategori kekeliruan kategori (category mistake), karena membandingkan "pribadi" dengan "aspek pembahasan."
Ketiga, narasi tersebut menyatakan bahwa ketiga konsep sama-sama monoteisme sehingga substansinya dianggap hampir sama.
Kesimpulan ini terlalu menyederhanakan persoalan.
Monoteisme bukan hanya berarti percaya kepada satu Tuhan.
Dalam Islam, tauhid bukan sekadar jumlah Tuhan satu, tetapi juga meliputi kemurnian ibadah, penafian sekutu, penafian anak, serta kesempurnaan nama dan sifat Allah.
Al-Qur'an secara tegas mengkritik konsep Trinitas.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ
"Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga."
(QS. Al-Ma'idah: 73)
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an membedakan secara tegas antara tauhid Islam dengan Trinitas.
Keempat, penjelasan mengenai Asma wa Sifat dalam narasi tersebut kurang tepat.
Disebutkan bahwa penganut Wahabi menolak takwil secara mutlak.
Faktanya, dalam literatur Salafi, mereka menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan Sunnah tanpa:
التكييف (menentukan bagaimana bentuknya)
والتمثيل (menyerupakan dengan makhluk)
والتعطيل (menolak sifat)
والتحريف (mengubah makna)
Mereka mendasarkan hal ini pada firman Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menjadi fondasi utama bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna tanpa menyerupai makhluk.
Di sisi lain, ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah menerima sebagian takwil pada ayat-ayat mutasyabihat dengan tujuan menjaga kesucian Allah dari penyerupaan. Perbedaan ini merupakan pembahasan panjang dalam ilmu akidah Islam dan tidak dapat disederhanakan menjadi "Allah bertangan seperti manusia."
Kelima, penyebutan bahwa konsep Wahabi, Trinitas, dan Trimurti sama-sama "Tuhan Yang Ahad" juga tidak akurat.
Dalam Hindu, konsep Trimurti dipahami secara beragam oleh berbagai aliran. Tidak semua aliran Hindu memahami Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai satu hakikat ilahi sebagaimana Trinitas. Bahkan dalam praktiknya terdapat tradisi yang lebih menonjolkan salah satu dewa tertentu.
Karena itu, menyamakan Trimurti dengan Trinitas maupun dengan pembagian tauhid Islam merupakan penyederhanaan yang tidak mencerminkan keragaman teologi Hindu.
Keenam, penjelasan mengenai Buddhisme juga perlu diluruskan.
Mayoritas tradisi Buddhisme tidak membangun sistem ketuhanan sebagaimana agama-agama teistik. Fokus utamanya adalah pembebasan dari penderitaan melalui pencerahan. Oleh sebab itu, membandingkan konsep tauhid Islam dengan konsep ketuhanan Buddhisme memerlukan kehati-hatian karena kerangka filosofinya berbeda.
Ketujuh, dari perspektif Manhaj Tarjih Muhammadiyah, tauhid merupakan ajaran pokok yang bersumber langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah. Muhammadiyah menegaskan bahwa Allah adalah Esa, tidak terbagi, tidak beranak, tidak diperanakkan, tidak menyerupai makhluk, dan hanya Dia yang berhak disembah. Pembagian Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat bukanlah rukun iman tersendiri, melainkan salah satu metode klasifikasi yang dapat digunakan selama tidak dipahami sebagai pembagian dzat Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghafal dan memahaminya, niscaya ia masuk surga."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai nama dan sifat Allah merupakan bagian dari pengenalan kepada Allah, bukan pembagian terhadap dzat-Nya.
Kesimpulannya, hipotesis yang menyatakan bahwa trilogi tauhid Wahabi memiliki substansi yang hampir sama dengan Trinitas Kristen tidak memiliki dasar yang kuat secara ilmiah maupun syar'i. Persamaan angka "tiga" tidak otomatis menunjukkan persamaan hakikat. Dalam logika, kemiripan istilah bukanlah bukti kesamaan substansi. Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat adalah tiga sudut pandang dalam menjelaskan tauhid kepada Allah Yang Maha Esa, sedangkan Trinitas merupakan doktrin tentang tiga pribadi dalam satu hakikat ketuhanan menurut teologi Kristen. Keduanya berada pada kategori konsep yang berbeda sehingga tidak tepat disamakan hanya karena sama-sama menggunakan pengelompokan menjadi tiga.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar