Nama Yang Hilang Dari Rumah Tua

Nama Yang Hilang Dari Rumah Tua Keterangan Gambar : Aku tumbuh bersama cerita tentang rumah tersebut. Setiap malam tertentu, terutama ketika hujan turun panjang seperti malam itu, selalu ada warga yang mengaku mendengar suara langkah kaki dari lantai atas. Ada pula yang melihat cahaya lilin bergerak perlahan di balik jendela lantai dua. Namun cerita yang paling sering dibicarakan adalah suara ketukan dari sumur tua di belakang dapur rumah itu.


Perwirasatu.co.id, Minggu 12 juli 2026.

Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda akan reda ketika aku melewati jalan tanah menuju ujung kampung. Angin membawa bau tanah basah bercampur aroma bambu tua dari kebun belakang rumah warga. Di kejauhan berdiri sebuah rumah besar bercat kusam yang selalu terlihat lebih gelap dibanding langit malam di sekitarnya. Rumah itu sudah ada sejak aku kecil, dan sampai hari ini tidak pernah benar benar kosong meskipun tidak ada seorang pun yang tinggal di dalamnya.

Orang kampung selalu berbicara pelan jika melewati rumah itu. Anak anak dilarang bermain terlalu dekat dengan halaman depannya, sedangkan orang dewasa memilih memutar jalan ketika malam mulai turun. Tidak ada yang pernah menjelaskan secara utuh apa sebenarnya yang mereka takutkan. Mereka hanya berkata bahwa rumah itu menyimpan seseorang yang belum selesai mencari jalan pulang.

Aku tumbuh bersama cerita tentang rumah tersebut. Setiap malam tertentu, terutama ketika hujan turun panjang seperti malam itu, selalu ada warga yang mengaku mendengar suara langkah kaki dari lantai atas. Ada pula yang melihat cahaya lilin bergerak perlahan di balik jendela lantai dua. Namun cerita yang paling sering dibicarakan adalah suara ketukan dari sumur tua di belakang dapur rumah itu.

Sejak kecil aku selalu merasa aneh setiap mendengar cerita tersebut. Bukan takut, melainkan seperti sedang mendengar sesuatu yang sebenarnya pernah kukenal. Aku bahkan sering bermimpi berjalan di lorong rumah tua itu sambil mendengar suara perempuan memanggil namaku dari tempat yang sangat jauh. Anehnya, setiap kali terbangun, aku tidak pernah bisa mengingat wajah perempuan dalam mimpi itu.

Ibuku tidak pernah suka ketika aku membicarakan rumah tersebut. Wajahnya selalu berubah tegang dan ia akan segera menyuruhku masuk ke kamar. Pernah suatu malam aku bertanya kenapa aku tidak memiliki foto masa kecil sebelum usia lima tahun seperti anak lain di kampung. Ibuku hanya diam cukup lama sebelum menjawab bahwa sebagian barang lama kami habis terbakar. Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa tidak pernah benar benar meyakinkanku.

Saat remaja aku mulai menganggap semua cerita horor kampung hanyalah ketakutan yang diwariskan turun temurun. Aku sering mengejek teman teman yang ketakutan hanya karena mendengar suara ranting patah di dekat rumah tua tersebut. Bagiku rumah itu hanyalah bangunan kosong yang kebetulan memiliki sejarah menyeramkan. Sampai suatu malam keberanian bodohku mengubah seluruh hidupku.

Malam itu listrik kampung padam setelah hujan turun sangat deras. Aku dan tiga temanku sedang berkumpul di pos ronda sambil memainkan kartu dan kopi sachet murah. Dalam gelap, Rian tiba tiba menantang siapa saja untuk masuk ke rumah tua dan mengambil foto di ruang tengah sebagai bukti keberanian. Semua tertawa gugup, tetapi tidak ada yang benar benar mau menerima tantangan itu.

“Jangan macam macam malam begini,” kata Wahyu sambil melirik jalan menuju rumah tua.

“Kalau takut ya bilang takut,” jawabku sambil tertawa kecil.

Rian menatapku beberapa detik sebelum akhirnya menyerahkan senter kecil. “Kalau berani, ambil foto jam dinding di ruang tamu. Katanya jam itu masih hidup sampai sekarang.”

Aku menerima senter itu tanpa banyak berpikir. Entah karena gengsi atau karena ada sesuatu dalam diriku yang justru merasa tertarik mendatangi rumah tersebut. Kami berjalan bersama menuju ujung kampung dengan langkah cepat melewati jalan licin penuh genangan. Semakin dekat ke rumah tua itu, suara jangkrik dan kodok perlahan menghilang hingga hanya tersisa bunyi hujan dan desir angin.

Pagar besi rumah itu berkarat dan setengah terbuka. Ketika kudorong perlahan, bunyinya memekik panjang seperti seseorang yang sedang menahan sakit. Teman temanku berhenti di luar halaman sementara aku melangkah sendiri menuju pintu utama. Anehnya, perasaanku justru bukan takut melainkan seperti seseorang yang akhirnya kembali ke tempat yang lama ditinggalkan.

Pintu depan terbuka setelah kudorong perlahan. Bau kayu lembap dan debu tua langsung memenuhi hidungku. Cahaya senter menelusuri ruang tamu yang dipenuhi perabot usang dan foto keluarga berbingkai hitam. Di tengah ruangan tergantung sebuah jam dinding tua yang jarumnya masih bergerak pelan meskipun rumah itu terlihat mati selama puluhan tahun.

Aku mendekati foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto itu menampilkan seorang pria berkumis tebal bersama istrinya yang duduk di kursi kayu. Di antara mereka berdiri seorang anak laki laki dengan wajah yang sebagian tertutup bayangan. Entah kenapa dadaku terasa sesak saat melihat foto tersebut, seolah ada sesuatu yang hampir kuingat tetapi terus menghilang sebelum sempat kupahami.

Ketika aku mengangkat telepon genggam untuk mengambil foto, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Bunyi itu lambat dan berat seperti seseorang menyeret kaki sambil berjalan mondar mandir. Aku mencoba tetap tenang sambil berpikir mungkin ada binatang liar di sana. Namun langkah itu tiba tiba berhenti tepat di atas kepalaku, lalu terdengar tiga ketukan pelan dari langit langit rumah.

Suara teman temanku samar terdengar dari luar memanggil namaku agar cepat keluar. Aku hendak berbalik menuju pintu ketika terdengar suara perempuan sangat dekat di telingaku.

“Tolong buka sumurnya.”

Bisikan itu lirih dan basah seperti orang yang berbicara sambil menangis. Seluruh tubuhku langsung membeku. Udara di dalam rumah mendadak terasa dingin dan napasku berubah berat. Dari arah dapur terdengar suara ketukan lain, lebih keras dan lebih jelas, seperti ada seseorang memukul kayu dari bawah tanah.

Aku tidak tahu kenapa kakiku justru bergerak menuju dapur. Lorong menuju belakang rumah terasa sangat familiar bagiku, seolah aku pernah melewatinya berkali kali. Bahkan sebelum cahaya senter menyorot ruangan itu, aku sudah tahu di mana letak pintu dapur dan sumur tua berada. Kesadaran itu membuat tengkukku perlahan dingin.

Hujan semakin deras ketika aku sampai di belakang rumah. Sumur tua itu tertutup papan kayu lapuk yang sebagian permukaannya mulai retak. Ketukan dari dalam terdengar jelas sekarang. Bukan sekadar bunyi pukulan, melainkan seperti seseorang yang sedang memohon keluar sambil menggaruk dinding batu dengan kuku berdarah.

Aku mundur perlahan, tetapi suara perempuan tadi kembali terdengar.

“Bukalah. Dia masih di dalam.”

Saat aku membalikkan badan, seorang perempuan tua berdiri di bawah hujan sambil membawa lilin kecil. Wajahnya pucat dan matanya cekung seperti orang yang sudah sangat lama menangis. Ia menatapku tanpa berkedip sambil menunjuk ke arah sumur. Untuk sesaat aku merasa mengenal wajah itu dari suatu tempat yang tidak mampu kuingat.

Tanganku gemetar hebat ketika papan penutup sumur tiba tiba bergeser sendiri. Bau busuk bercampur lumpur keluar dari lubang gelap tersebut. Lalu perlahan muncul sebuah tangan manusia yang penuh luka dan tanah basah. Jari jarinya bergerak pelan seperti mencoba meraih sesuatu di atas permukaan.

Aku menjerit dan berlari sekencang mungkin menuju gerbang depan. Teman temanku ikut kabur tanpa sempat bertanya apa pun karena wajahku sudah pucat seperti mayat. Malam itu aku demam tinggi selama berhari hari. Dalam tidur aku terus mendengar suara ketukan dari dalam sumur dan perempuan yang memanggil namaku dengan suara penuh kesedihan.

Sejak malam itu aku tidak pernah lagi mendekati rumah tua tersebut. Aku mencoba menjalani hidup seperti biasa dan perlahan menganggap semua kejadian itu sebagai mimpi buruk yang tidak perlu diingat kembali. Namun semakin aku berusaha melupakan rumah itu, semakin sering aku bermimpi berada di dalamnya. Dalam mimpi itu aku selalu melihat seorang anak laki laki berdiri di dekat sumur sambil memandangku tanpa bicara.

Bertahun tahun kemudian seorang wartawan datang ke kampung kami untuk menulis tentang rumah kosong tersebut. Ia mendatangiku karena mendengar cerita bahwa aku pernah masuk ke sana dan selamat. Kami berbicara cukup lama sampai akhirnya ia mengeluarkan salinan arsip kepolisian tua yang ditemukan di kota.

Menurut dokumen itu, pemilik rumah bernama Pak Darto dahulu tinggal bersama istri dan seorang anak laki laki yang hilang secara misterius saat usia tujuh belas tahun. Polisi waktu itu menduga anak tersebut kabur setelah bertengkar dengan ayahnya, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan. Kasus itu akhirnya ditutup karena tidak ada bukti baru.

Aku membaca dokumen itu dengan tangan dingin. Di bagian bawah halaman terdapat foto hitam putih seorang anak remaja yang wajahnya terlihat samar karena usia arsip yang sudah tua. Namun mata dan bentuk wajahnya tidak mungkin salah.

Wartawan itu menatapku pelan sebelum berkata bahwa nama anak hilang tersebut sama persis dengan namaku.

Belum sempat aku menjawab, ibuku tiba tiba merebut dokumen itu dari tanganku. Wajahnya pucat dan bibirnya gemetar hebat seperti seseorang yang selama ini menyimpan rahasia terlalu lama.

“Kita pulang sekarang,” katanya lirih.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan.

Ibuku tidak pernah sekali pun memanggilku dengan nama lahirku sendiri.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)